A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Protected: Misplaced

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Protected: Michelle

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Protected: Breakeven

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Pindahan

Hello hello!

Hahaha, maaf kawan semua, lama tak basuo di blog ini yah. ada kira-kira… setahun mungkin? kekekek :p
Jadi kira-kira setahun yang lalu saya dapet hadiah ulang tahun website dari kakak saya… Otomatis, semua kegiatan curhat dan per-blog-an pindah semua kesana. Website sendiri gituh, hore!

Nah, pindahan ini cuma saya kasih tahu ke temen-temen deket karena cuma mereka yang sudi baca blog curhatan saya yang ancur ini toh pengunjungnya memang sedikit.

Tapi hari ini saya iseng buka statistik blog… Dan ternyata masih ada yang mengunjungi tempat curhat ga karuan blog saya ini! *terharu*
Dan cukup banyak juga ternyata, bahkan sampe ada yang follow juga! *nangis sambil dadah-dadah kayak abis dapet piala*

Untuk itu, walau sudah sangat terlambat *setahun coy!* dengan ini saya umumkan kalau saya udah resmi pindahan ke website baru, yaitu:

Dekari Amistad

*JENG JENG! joget-joget bergembiraaaah*

Sebenernya walau udah pindah pun, tulisan saya cuma nambah secuprit *maklum, orang cibuk*.
Tapi semua tulisan lama di blog ini udah dipindah ke sana oleh kakak saya yabg super duper baik hati, jadi kalian yang masih mau baca *terharu lagi* ga perlu repot bolak-balik ke blog inih.

Terus nasib blog ini gimana? Tenang, blog ini rumah pertama saya. Jadi ga akan saya apus. *sekalian cadangan kalo website saya mendadak error, hahaha*.

Tapi tulisan ini mungkin akan menjadi postingan terakhir di blog ini, untuk jangka waktu yang belum bisa ditentukan… *hiks*

So, see you on the other website! Ditunggu Ya! 😀

Benang Ujung-Ujung Doa

Another cry.

Malam ini datang lagi orang asing lain -seorang wanita- yang diikuti oleh serombongan sanak saudara yang menangisinya. Kecelakaan, katanya. Mobil dan motor. Dan cukup parah. Mulut mereka komat-kamit berdoa memohon keselamatan bagi satu orang tersayang yang sedang berjuang di dalam sana. Dan aku, hanya bisa ikut mengamini diam-diam.

Sudah seminggu aku berada disini, menunggui ibuku yang jantungnya meminta rehat, kelelahan menjajari semangatnya yang menyala-nyala setiap hari. Ibu masuk di ruang itu, mereka menyebutnya ICU. Ruang yang biasa menjadi persinggahan antara sadar dan tidak. Tempat perjuangan nyawa.
Ibuku beruntung karena dia masih lebih kuat dibanding teman di ranjang-ranjang sekitarnya. Dalam sadarnya, kulihat mulutnya tak putus-putus melepas doa. Termasuk doa bagi pertemanan singkat yang datang dan pergi setiap harinya. Seperti biasa, dia memang Si Wanita Tangguh yang tak pernah menunjukkan rasa takutnya.

Lucu, malah aku yang gentar. Malam-malam seperti inilah justru biasanya aku terjaga, dibangunkan aura magis yang dibuat oleh penghuninya yang berlalu lalang.
Oleh tangisan, dalam berbagai bentuk. Ada tangis kepedihan, tangisan lirih, tangis kehilangan, atau seperti malam ini, tangis ketakutan sekaligus penuh harap. Tangisan yang membuatku sadar, bahwa inilah jarak terdekatku dengan kehilangan di titik penghujung. Dalam jarak pandangan mata.

Seberapapun kau siapkan diri, rasa sayang akan selalu mengikatmu dengan rasa takut akan kehilangan. Membuatmu goyah. Membuatmu ingin menjaga baik-baik apa yang masih tersisa. Menjaga setiap harapan.

Untuk itu, malam ini aku berdoa. Berharap akan terkait dengan ujung-ujung doa yang sudah terlontar sebelumnya. Untuk mereka yang kehilangan. Untuk mereka yang masih berjuang demi orang-orang terkasihnya. Juga Wanita Tangguhku yang tak kenal gentar di dalam sana, untuk keselamatannya.

Kita akan pergi dari sini segera, dengan langkah gembira seperti sediakala. Bersama-sama 🙂

21 Mei 2012,
RS Pelni Petamburan Jakarta

Kamu. Yang Kubenci.

Kepada Kamu, yang kini tak berhenti berlari-lari dalam otakku

Kawanku bilang, cinta itu irasional. Mau tak mau aku terpaksa setuju dengan kata-kata itu. Kata-kata yang menjadi penjelasan mengapa aku tak bisa menjelaskan setiap tindakanku saat ini, jika hal itu berkaitan denganmu

Aku tak bisa jelaskan, bagaimana otakku terus berkata untuk menjauh darimu, tapi kakiku selalu melangkah menuju tempatmu.  Disana. Tempatmu menunggu diriku.

Bagaimana suara-suara kecil di kepala memintaku untuk menjaga sikap. Meminta berhenti menunjukkan isi hatiku. Namun disaat bersamaan, kau malah kutarik untuk melihat utuh. Dalam-dalam meraih rasa yang telah kututup dalam jutaan tahun penantian, untuk menemukan kesempurnaanmu.

Aku benci menyadari bahwa hatiku telah berkhianat. Berkhianat pada otakku, yang terus meminta untuk tak menggubris dirimu. Seluruh pikatmu. Maka hati malah mendominasi imajinasiku. Penuhi kepalaku dengan bayangan penuh akan dirimu. Tak ada tempat untuk berkata tidak pada kehadiranmu.

Bagaimana bisa? Kau begitu mudah meruntuhkan tiap dinding yang sudah kubangun hanya dalam kejapan mata?

Aku tak mengerti bagaimana Semesta telah mewujudkan setiap inci harapanku, dengan begitu sempurna. Dalam wujudmu, dan dalam hadirmu.

Aku tak mengerti apakah ini cinta, atau kebencian dalam-dalam yang tak bisa kukendalikan. Begitu bencinya karena Kau telah melemahkan Aku yang tak pernah kalah.

Kemenanganku telah terkubur, jatuh ke bawah kakimu.

Dan berat hati terpaksa kuakui, Kamu telah mengalahkan Aku.

Aku membencimu. Aku membenci Kamu yang membuatku jatuh hati. Lebih benci lagi karena kau tak membiarkanku jatuh hati sendiri, malah menemaniku dalam kegilaan ini. Menciptakan dunia kita sendiri, yang tak kasat mata. Dunia gaib yang hanya ada dalam angan dan pikiran kita. Cuma ada Aku dan Kau disana

Jadi lengkaplah sudah. Kau orang tergila yang paling Aku benci. Yang membawa lari hatiku tanpa tersisa lagi

—————————————————————————————————

Hey Kamu! Tetaplah dalam kegilaan ini bersamaku. Hingga ujung waktu.

=)

My New Love

Please, see the difference….

This Is GOOD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

But this one….

This is GOD!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Arch-Enemy

This is Professor

This Is TRUE EVIL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Complex Brother

This is Clown

This is GENIUS!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

And, The Lady, the one and only….

This Is Sherlock's Woman

This Is Irene Adler. THE WOMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita yang keren, gambar yang oke, scoring musik hebat, dan eksekusi yang gila, gila, gila mampus!

Ga tahu gimana cara ngungkapinnya. Tapi series “Sherlock” yang ini bahkan bisa bikin gue percaya, kalo Sherlock Holmes itu bener-bener ada. Nyata.

Nyata

Oh My God, Sherlock bener-bener adaaaaaaaaaa!!!!!
*babbling*

Feeling Me Softly

Feeling. Perasaan.

Bahan baku utama buat mengaduk-ngaduk emosi.

Kata orang, perasaan adalah hal yang bikin hidup kita lebih berwarna. Terasa lebih berharga. Tapi sejujurnya, gue sendiri kadang ga paham, apakah perasaan itu anugerah atau bukan.

Maksud gue, apa sih sebenernya kegunaan perasaan itu? Kita hidup di dunia, setiap hari ngadepin masalah. Gimana cara nyelesain masalah? Ya pake mikir. Bukan pake perasaan. Kalo nekat nyelesain masalah pake perasaan, yang ada kadang masalah jadi tambah bercabang, ga jelas juntrungannya.

Intinya, perasaan cuma bikin hidup lo jadi lebih ribet. Persetan dengan segala kata orang kalau perasaan bikin hidup berwarna-warni. Itu cuma kamuflase dari orang-orang yang ga mau mengakui kalau perasaan cuma bikin hidupnya susah.

Lucu, orang begitu ingin merasakan hidup, sampe kadang takut mati. Padahal kalau dipikir bener-bener, hidup tuh jauh lebih susah daripada mati.

Ketika mati, ga akan ada rasa sakit. Ga ada sedih, ga ada gembira. Ga ada takut atau berani. Mati ya mati aja, beres urusannya. Ada orang mati yang mengenal rasa sakit? Ga ada. Kenapa pada mikir mati itu menderita, padahal sumber derita tuh adanya cuma pas hidup. Ga percaya?

Coba bandingin sama hidup. Senyaman-nyamannya hidup, tetap ga bisa terhindar dari rasa sakit. Dari rasa luka. Apa yang bikin lo ngerasa sakit? Ya perasaan lo itu. Coba kalo ga ada perasaan, ga ada tuh yang namanya keluhan-keluhan atau derita. Lempeng. Beres. Teratur. Ga ada rasa bosan, karena emang ga usah dirasain. Coba lihat robot, apa pernah mereka sedih? Enggak. Bosan? Enggak. Menurut gue, robot itu justru jauh lebih beruntung dari manusia

Mestinya hidup itu buat dijalanin, bukan buat dirasain. Kalo udah ga bisa jalanin, ya kelar. Mati. Beres kan? Tapi elo punya perasaan, jadi hidup ga akan pernah segampang itu. Ga akan bisa sederhana.

Apa sih enaknya punya perasaan? Sumpah gue ga ngerti. Bikin eneg sih iye. Tapi ngarep ga punya perasaan, juga ga mungkin

Jadi gue cuma bisa bilang, perasaan itu kutukan mutlak. Kutukan buat makhluk bernama manusia. Ga ada yang bisa menghindar, termasuk gue, elo, dan mereka. Bisa sih dihindarin, tapi mesti mati dulu.

Berani mati? Biar ga punya rasa? Berani ga? Pasti enggak.

Jadi, selamat menikmati perasaan. Dengan bumbu pada setiap irisan lukanya.

Semoga selamat sampai tujuan. Biar bisa menyongsong ujung usia dengan tenang.

Bingung? Gue ngelantur apaan? Gue juga bingung. Jadi mendingan kita tutup aja tulisan ngaco ini sampe disini. Mudah-mudahan abis ini otak gue waras lagi. Cheers!

One Cold Night

This night. This cold night.

Imagine. Remembering when it comes to me so slowly
And I take it with an open hand, With a full wish of joy

But I never imagined, it could be this hard.
Taking a road, the one you thing will makes your life will last forever

Yet, it kills you, inside. In every breath that you take. With, every breath that you take.

Like a living suicide. The Endless Suicide.

Me, myself, is my very own kryptonite.

It’s funny, how I see the happiness tortured me this way. Ripping me apart.

It’s funny, how this freedom take me straight to the end. How can you run? When you already step on its finish line?

Can I close my eyes now? Shut it down, to the endless run?

Jakarta,
February 24th, 2012

Fearless

“Let me not pray to be sheltered from dangers but to be fearless in facing them.

Let me not beg for the stilling of my pain, but for the heart to conquer it.

Let me not look for allies in life’s battlefield but to my own strength.

Let me not cave in.”

(Rabindranath Tagore)

Another year ahead. Be brave, always.

Let’s play 😀

Post Navigation