A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

A Game of Shadow: Sherlock? or No Sherlock?

Finally, another blog post!
Sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah terlalu lama absen dari blog ini. Kalo mau dijabarin alasannya sih, klise: Kerjaan, hahaha. Pekerjaan saya yang sekarang menuntut waktu yang cukup banyak, jadi yah… persoalan tulis menulis jadinya hanya timbul tenggelam sebatas keinginan =)

Tapi kali ini saya tak tahan. Gatal rasanya ingin komentar mengenai film dari detektif kesayangan saya sepanjang masa: Sherlock Holmes. Yep, that Sherlock. Si gila analisis dari Baker Street, yang baru-baru ini diangkat kembali menjadi film, dengan sutradara Guy Ritchie. Sukses dengan film pertama di 2009, Guy Ritchie membuat sekuelnya yang rilis di akhir tahun 2011: A Game of Shadow. Tadinya tulisan ini saya maksudkan untuk review film kedua saja, namun ternyata sudah cukup banyak yang menulis reviewnya di internet. Jadi saya putuskan, tulisan ini akan lebih memaparkan pendapat pribadi saya, soal film Sherlock Holmes versi Guy Ritchie, baik yang pertama maupun yang kedua. Berhubung saya juga suka sama novelnya, tulisan ini akan jadi sedikit panjang karena saya juga mau bandingin dengan versi bukunya. SPOILER ALERT!!  So,enjoy your reading! 😀

Nah, kita bicara dulu soal film pertama.

Jadi, sejak awal film ini sudah mencuri perhatian saya dengan teaser posternya, menampilkan Robert Downey, Jr sebagai Sherlock Holmes dan Jude Law sebagai Dr. Watson

Dynamic Duo =D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Padahal, image Sherlock yang melekat di otak selama ini tuh kaya GINI:

Sherlock Holmes versi tahun 1939, diperankan Basil Rathbone

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jujur aja, saya ngefans berat sama Robert Downey, Jr sejak jaman smp waktu dia masih jadi figuran di serial Ally McBeal. Jadi seneng banget pas dia main film lagi. Tapi… jadi SHERLOCK HOLMES?? bareng Jude Law??

Yang pertama terlintas di pikiran saya tuh cuma satu: Ini castingnya ketuker apa gimana???

Kenapa gak Jude Law aja yang jadi Sherlock? Lebih terlihat aristokrat, plus tampang cerdas dan tajam. Image sekilasnya jelas jauh lebih mendekati versi Rathbone. Image Robert buat saya lebih mendekati Dr. Watson, si tukang cerita.  Kenapa malah dibalik???

Walhasil saya deg-degan parah waktu nonton yang pertama, takut ga sesuai sama harapan dan tokoh Sherlock Holmes + Watson bakal hancur ditangan mereka. BUT THEY ARE ROCKS!

Di novel, Sherlock itu gambaran sehari-harinya emang pecandu kokain, agak nyentrik, suka bikin eksperimen aneh, dan tukang menyendiri di kamar. Dia baru bisa “Normal” kalau udah ketemu kasus. Makin ribet kasusnya, makin waraslah dia. Nah, Robert berhasil banget ngangkat sisi lain kepribadian Holmes, dan kita kayak diseret masuk dalam kehidupan Holmes untuk memahami asyiknya hari-hari Holmes, serta keceriaannya. Selama ini kalau dengar kata penyendiri, pecandu kokain, dan tukang eksperimen, maka hidup Sherlock yang dulu terpikir oleh saya adalah hidup yang suasananya yang super serius, suram dan misterius. Tampangnya Basil Rathbone tuh udah menjelaskan semuanya deh.

Nah, Sherlock versinya Robert itu super bohemian, beda banget sama bayangan saya. Tapi justru karakternya Holmes banget, keren deh! Jude Law juga ga kalah keren menampilkan versi Dr. Watson-nya. Lebih hidup, lebih bijak, lebih sentimentil, dan lebih helpful buat Sherlock. Perspektif baru, tapi justru mereka berdua lebih persiiiiis kaya di novel. Saya jatuh cinta sama akting dan chemistry mereka berdua, baik di film ke 1 maupun yang ke 2.

Adegan-adegannya juga keren, menggambarkan dengan sangat baik bagaimana metode analisa deduksi yang dipakai Sherlock. Guy Ritchie membuat filmnya sangat layak untuk ditonton, termasuk oleh para penggemar novel Sherlock Holmes. Cerita yang diangkat setahu saya memang bukan seperti novel asli karangan Arthur Conan Doyle, si Pencipta Holmes. Tapi gaya penceritaannya cukup dipertahankan.

Cuma satu hal yang membuat saya kesal dari film pertama: penggambaran tokoh Irene Adler (pacar Sherlock)  dan Mary Watson (tunangan Dr.Watson, selanjutnya menikah di flm kedua). Well, karakternya sih pas. Tapi, saya kesal parah dengan penggambaran hubungan cinta Adler-Holmes yang BEDA BANGET sama novelnya (mohon maaf kalau lebay, tapi ini benar-benar menyiksa saya sepanjang film, hahaha :p ). Di novel, hubungan mereka ga pernah seintens itu. Irene Adler hanya muncul sekilas di cerita “Skandal Raja Bohemia”.  Di situ, Holmes-Adler saling menipu dan saling memperdaya, juga saling mengagumi hasil kerja masing-masing. Holmes sangat dingin pada wanita. Tapi dia mengagumi Adler sebagai satu-satunya wanita yang bisa memakai logika setara dengan dirinya. Hanya itu, Holmes sebatas kagum. Bukan bisa dikendalikan penuh oleh Adler seperti di film ini. (Ga ada tuh ceritanya Holmes stress ditinggal Adler, no waaaaayyy). Sementara untuk tokoh Mary Watson… Well, sepele sih. Saya cuma kesal, karena Watson yang mengenalkan Mary kepada Holmes. Padahal di novelnya, justru Holmes yang mengenalkan Mary ke Watson, karena Mary adalah Klien Holmes! (Mereka berkenalan di salah satu kasus Sherlock Holmes;“Empat Tanda Tangan”).  Itu detail yang kecil, tapi penting buat saya. Salah menggambarkan itu, buat saya jadi semacam dosa karena seperti merusak cerita dan sejarah Sherlock Holmes-Watson… *Lebay ya? Maap, hahaha*

Jadi intinya,untuk saya film pertama sangat keren dari sisi eksekusi akting dan adegan. Penonton yang tidak baca novelnya pun bisa terhibur. Tapi cerita yang digunakan terlalu menyimpang dari novelnya. Interpretasinya terlalu bebas, dan cukup mengganggu di beberapa bagian.

Lalu datang film kedua, A Game of Shadow. Berbeda dengan film pertama yang memberi cerita baru, sekuel Sherlock Holmes ini lebih mengadaptasi salah satu cerita asli dari novelnya. Tak tanggung-tanggung, yang diadaptasi adalah kasus terakhir dari Sherlock Holmes, melawan Profesor Moriarty yang disebut Napoleon Dunia Kejahatan. Kasus ini dibuat oleh Arthur Conan Doyle sebagai penutup dari keseluruhan kisah Sherlock, yang berakhir dengan kematiannya. Seperti cerita Superman yang meninggal saat melawan Doomsday di pertarungan terakhir mereka, Holmes dan Moriarty menemui ajalnya lewat pertarungan sengit di air terjun Reichenbach, dimana mereka berdua sama-sama jatuh di air terjun tersebut.

Arthur Conan Doyle membuat cerita tersebut ketika sudah terlalu lelah menangani kisah Holmes, sehingga memutuskan untuk menghadirkan musuh kuat yang berimbang dengan semua kemampuan detektif ciptaannya tersebut. Profesor Moriarty akhirnya dimunculkan sebagai karakter profesor senior, dosen matematika jenius yang terkenal, dengan kemampuan perencanaan kejahatan yang sulit diselidiki oleh detektif sekaliber Holmes sekalipun. Dia juga mantan juara tinju saat masih menjadi mahasiswa. Sungguh lawan yang sangat sempurna untuk mengantar Holmes pada kematiannya. Namun kematian Sherlock Holmes rupanya menuai protes dari penggemarnya, sehingga Conan Doyle memutuskan untuk menghidupkan kembali Sherlock Holmes dalam beberapa kisah, lalu membuatnya pensiun sebagai petani lebah setelah beberapa waktu.

“The Final Problem” adalah salah satu kisah Sherlock yang paling terkenal, dan menurut saya menjadi pilihan yang sangat beresiko ketika akhirnya diputuskan untuk diangkat menjadi film. Dan memang, pada akhirnya cerita yang diangkat memang tidak persis cerita asli. A Game of Shadow hanya mengangkat karakter Profesor Moriarty serta menghadirkan pertarungan legendaris di air terjun Reichenbach. Pertarungannya sendiri tidak sedramatis dan sengit seperti yang digambarkan di novel, tapi usaha Guy Ritchie menampilkan proses menuju pertarungan tersebut patut diacungi jempol. Seluruh persaingan Sherlock-Moriarty jelang adegan air terjun disampaikan lewat sebuah pertandingan catur sederhana, tapi dengan dial0g-dialog yang kuat dan menjadi puncak pertarungan mereka (Yep, catur. Aslinya sih ga ada di novel, tapi pas banget buat menggambarkan pertarungan dua orang gila analisis macam mereka berdua)

Hal yang menarik dari film kedua ini adalah, penggambaran kemampuan Holmes yang sangat berbeda dari film pertama. Jika di film pertama Holmes digambarkan sangat sempurna, dengan analisis yang akurat dan setiap detail penyelidikan tidak ada yang sia-sia. Sedangkan di film kedua, Holmes justru digambarkan nyaris selalu SALAH dalam setiap analisis utamanya. Holmes digambarkan melemah, dan hal ini tentunya dilakukan untuk memperkuat kesan bahwa Profesor Moriarty adalah musuh yang tak terkalahkan sehingga membuat Holmes begitu lengah.

Ini adalah cara instan yang dipilih untuk menampilkan kesetaraan kekuatan Holmes-Moriarty dalam waktu singkat. Menurut saya, ini sah-sah saja. Cara ini juga akhirnya mampu menampilkan sisi emosional dari hubungan Holmes dan sahabatnya Watson, sehingga penonton bisa lebih melihat sedalam apa hubungan persahabatan mereka, yang bisa mengalahkan hubungan saudara sekalipun. Yep, film kedua ini lebih menjual cerita dan sisi emosi Sherlock. Sangat berbeda dengan film pertama yang menonjolkan ketajaman analisis dan kehebatan Sherlock lewat adegan berantai yang disusun dengan sangat rapi. Film kedua ini seperti melengkapi bagian diri Sherlock yang belum sempat ditampilkan di film pertama, dan anda harus lebih berpikir serius saat menontonnya.

Ya, film kedua ini lebih serius dan lebih emosional. Tapi tetap jenaka. Apalagi dengan kehadiran Mycroft Holmes, kakak kandung Sherlock yang tak kalah nyentrik dan jeniusnya. Pernikahan Watson-Mary juga menjadi bumbu yang cukup segar di dalam film ini, untuk menonjolkan seberapa posesifnya Sherlock terhadap Watson, partner abadinya sepanjang masa. Rangkaian  adegan berantai yang rapi untuk menampilkan analisis Sherlock juga masih ditampilkan, tapi efeknya sangat berbeda dengan film pertama. Scoring musiknya juga masih tetap khas seperti film pertama.  Dan yang paling membuat saya senang, perasaan Sherlock Holmes terhadap Irene Adler akhirnya ditampilkan dengan gambaran yang lebih mendekati versi novel. Lihatlah adegan Sherlock Holmes di kapal saat dia membuang saputangan Adler yang meninggal karena dibunuh Moriarty. Seperti itulah seharusnya cara Holmes menangani perasaan kagum dan cintanya kepada Adler

Dari segi cerita, saya jauh lebih senang menonton yang kedua. Semata karena lebih mendekati versi novel, walaupun memang hanya sebatas adaptasi, bukan menggambarkan ulang (Interpretasi film kedua ini ga sekurang ajar film pertama dari versi novelnya, hahahaha =p ). Satu-satunya yang agak kurang sesuai dengan harapan saya adalah pemilihan Jared Haris sebagai karakter Profesor Moriarty. Well, jeniusnya sih dapet. Tapi licik dan jahatnya… agak kurang. Jared is An Evil Professor, but not Moriarty. Andai Sherlock tidak ditampilkan melemah dan membuat banyak kesalahan di film ini, niscaya Moriarty versi Jared akan lemah dihadapan kekuatan analisis Sherlock Holmes. Bayangan saya tuh, Moriarty itu seperti Hannibal Lecternya Anthony Hopkins. Tampang ga perlu serem, tapi aura jahatnya kerasa banget. Mark Strong yang jadi Lord Blackwood di film pertama lebih pas jadi Moriarty. Atau kalau mau sekalian bikin versi baru Moriarty, rasanya Robin William akan jauh lebih pas.

Well, diluar kekurangan dan kelebihannya, film Sherlock Holmes yang kedua ini tetap saja menghibur dan patut diacungi jempol. Baik pembaca novel Sherlock Holmes maupun penonton awam akan sama-sama menikmati film ini. It’s Less Ritchie, More Doyle, but still, Lovely Holmes. Yang jelas, nampaknya film Sherlock Holmes ini masih bisa dibuat film ketiganya. Masih ada kisah perkenalan Holmes-Watson yang tak kalah menarik untuk ditampilkan di film, juga kasus-kasus lain yang cukup spektakuler. Kita tunggu saja kelanjutannya 😉

Single to Married: Takut Menikah? Ga usah Buru-Buru =)

Beberapa hari yang lalu gue membuat satu thread pada akun Plurk gue, dan menyatakan kalau: Menikah itu seram. Keputusan yang aneh lah pokoknya.

Kenapa? Well, lupain dulu deh soal masalah finansial. Syarat mutlak dari sebuah pernikahan itu adalah, orang yang ngejalaninnya harus siap untuk kompromi seumur hidup. Menyatukan isi 2 kepala. Mesti siap deh tuh yang namanya ngalah, kontrol emosi, dan menghadapi situasi tertekan lainnya. Buat orang seperti gue yang ngerasa ngalah itu lebih parah daripada mati, nikah itu jelas bener-bener menakutkan… * Dan masuk ke pola hidup kaya gitu secara sukarela? Euuuh…, kayaknya lebih gampang kalo jadi lajang seumur hidup deh…*

Ga disangka, thread itu mengundang banyak reaksi dari teman-teman di Plurk, sampai 115 respon! Ternyata yang mikir kaya begini bukan cuma gue, tapi juga banyak teman-teman lain. Sepertinya lajang sekarang udah mulai mengerti, kalau menikah itu ga seindah dongeng-dongeng jaman dulu yang pasti berakhir dengan kata-kata happily ever after. Tapi butuh kerja yang sangat keras.

Di thread itu, kita semua diskusi sambil membicarakan ketakutan masing-masing soal pernikahan (walau kebanyakan tetap ketakutan gue yang dibahas, hahaha). Temen gue bilang: Kuliah Pra Nikah (hahaha). Yang komen disana ada macem-macem, mulai dari lajang, mahasiswa, pengantin baru, bapak 1 anak, sampe psikolog. Dan setelah gue baca lagi, sayang kayaknya kalo ga dibagi. Jadilah, isi diskusi thread itu gue rangkum disini

…..

Respon pertama datang dari teman gue, psikolog muda nan cantik berinisial P(ingkan) *hohoho*. Dia punya perhatian khusus soal isu romantic & family relationship,  dan sependapat dengan gue kalo siap menikah itu berarti mesti siap taro ego di lante *mark this word! hahaha*, dan masalah menikah serta memilih pasangan itu memang harus dipertimbangkan secara rasional. Menurut Pingkan, pasangan yang menikah harus siap untuk: kontrol emosi, berbagi, dan negosiasi. Kemudian. pasangan menikah juga bisa bahagia kalau mereka bisa: berkomunikasi, terbuka, mau mendengarkan pasangan, dan berkomitmen

Nah, untuk bisa sampai di tahap kece ini dan siap menikah, seseorang harus bisa menjadi pribadi yang dewasa dulu. Menurut Pingkan, kedewasaan untuk menikah itu indikatornya:

1. Kenal Diri.

Tau “issue2” dan konflik2 pribadi kita (supaya tidak diproyeksikan atau dialihkan ke pasangan)

2. Bisa Mengelola Emosi sendiri.

Gak harus bergantung sama orang lain untuk bahagia. Bisa keluarkan marah dengan adaptif

3. Tau Cita-Cita Pribadi & Visi Buat Berkeluarga

Gak sekedar nikah karena “he’s the one” atau berbunga2 jatuh cinta. Pengen menikah buat apa? Pengen keluarga kayak gimana? Mau jadi ibu atau ayah seperti apa?

Kalau 3 point itu udah bisa pelan-pelan kita diwujudkan, logikanya kita bakal jadi nyaman sama diri sendiri. Ini penting banget dalam sebuuah hubungan, terlebih kalau kita mempersiapkan diri untuk menikah. Kalau udah ketemu pasangan yang visinya sama, dan sama-sama udah dewasa juga, trus bersedia, work the relationship out, nah baru deh mikir nikah

Nah, Pingkan sudah memberikan pandangan Psikolog tentang persiapan menikah ketika masih melajang. Tapi gue tetep aja galau: gimana nanti kira-kira situasi pas udah menikah? Seakan menjawab kegundahan gue, datanglah plurkers lain yang baru saja menikah dan masih hot jadi penganten baru: Kochai!

Bu Psikolog Kochai memberitahu kalau udah menjalani pernikahan, kenyataanya ga seseram yang dibayangkan. Dari pengalamannya, emang sih pas udah menikah mesti  ngalah, ga bs kaya dulu lagi, serta ada orang lain yang harus dipikirin. Berantem itu pasti, tapi lebih cepat rukun dibandingkan waktu pacaran. Yang penting persepsi kita terhadap pernikahan dan peran suami istri itu sejalan sama pasangan. Itu harus diomongin habis-habisan sebelum nikah. 

Cuma ga bisa dipungkiri, kadang ego kita masih sangat dominan, walau udah menikah sekalipun. Makanya butuh kerja keras untuk bisa mengalahkan ego kita itu. (Temen psikolog yang lain, Dane, menimpali kalau justru itulah tugas kita untuk menemukan seseorang yang membuat rela buat belajar melepas dominasi/ego). Nah, Kochai juga ga bisa memungkiri kalau untuk itu pun kita harus tetap bisa menemukan The One, alias pasangan yang klop buat kita. Emang kedengerannya ga rasional,tapi di antara keputusan-keputusan rasional untuk menikahi seseorang, pasti terselip keputusan irrasional

Pertimbangan irasional itu yang kayak gimana? Nah, disinilah Perasaan kita berperan. Kalo Kochai ngegambarinnya, dia pengen menghabiskan hidupnya bersama pria yang kini menajdi suaminya. Ibaratnya pas masih pacaran pun, berantem kaya apapun ga akan mengubah perasaan Kochai. Tetep aja pengen nikah suaminya, hahaha. 

Untuk perempuan dari segi rasional, pertimbangan calon suami bisa bisa berupa:  agama, kemapanan, hardworker atau bukan, bermasalah ga kalau istri pengen berkarir/mengurus rumah aja, dan lain-lain. Persepsi tentang peran suami istri juga harus sama: istri hormat sama suami, dan sebaliknya. Logikanya sih, Tuhan kan menciptakan kita berpasangan. Masa kalo udh ketemu jodoh, kita gak bisa ngebedain dia sm laki-laki/perempuan lainnya?

Singkatnya, secara rasional, kalau ingin menikah, harus bisa omongin soal peran suami-isteri yang diharapkan sampai tuntas, plus ada perasaan “I want to spend my life time loving u”. Kochai sendiri berpegangan sama petuah ibunya: “Kamu kalo pilih suami, pilihlah orang yang bisa kamu banggakan”. Untuk Kochai, hal ini bisa jadi indikator yang pas untuk menemukan dua hal itu. Kalo kita bangga sama pasangan, kita ga akan meremehkan dia. Dan akan jauh lebih mudah untuk mengalah sama orang yang ga kita remehkan (Apalagi buat cewek-cewek independen, penting bener ini!).

Daaaan, pandangan Kochai ini diamini oleh Mbah KOP, sesepuh plurker yang sudah sukses memiliki anak perempuan manis bernama Raina, juga seorang psikolog terpercaya 😀  Pandangan Kop,  kita di dunia ini kan gak sendiri, ada banyak orang maupun hal lain yang bisa mengubah perilaku kita. Takut susah ngalah?  Mungkin memang susah, tapi untuk orang yang berarti untuk kita, masa kita gak mo bela-belain? Takut susah nyatuin 2 isi kepala? Bisa jadipasangan yang isi kepalanya berbeda itu gak bakal kita pilih untuk dinikahi. Kop optimis, ketika kita sudah memilih pasangan, berarti itu memang yang sesuai dengan mau kita dan akan bermanfaat untuk kita di masa depan. Pada titik itu, mudah-mudahan segala kehawatirana akan pernikahan sudah bisa diminimalkan. Intinya, ketika kita bener-bener udah ketemu orang yang tepat, ngalah atau berbeda pendapat itu udah ga jd masalah lg.

Singkatnya, menikah itu emang berisiko. Apalagi ada faktor X yang berbeda-beda di tiap orang, dan itu juga termasuk komponen yang penting. Tapi justru disitulah kuncinya: Menikah itu memang sebagian gambling lho. Kita ga tau ke depannya pasangan kita kaya apa, tapi kita mau menerima risikonya. Penerimaan resiko untuk menikah inilah yang menjadi kunci kesiapan bagi kita untuk memutuskan menikah kelak.

Kalau kita merasa belum siap menikah, mungkin memang resikonya-lah yang belum bisa kita terima. Ga ada yang salah dengan itu, karena tiap orang punya rentang waktu kesiapan yang berbeda. Bisa jadi kita belum bertemu dengan orang yang tepat, punya ketakutan tersendiri, atau  memang  punya sesuatu yang menghambat proses kedewasaan dan kesiapan nikah kita. Yang penting adalah, kita tetap introspeksi dan selalu mengukur kemampuan kita sendiri.

Kalo masih takut, ga usah buru-buru menikah… Tapi kalau udah ketemu: JANGAN DITUNDA YAAA!!! *teteup*

………

Well, dari diskusi panjang ini gue dapet beberapa hal yang membuat gue jauh lebih tenang untuk mempersiapkan diri dan memikirkan maslaah pernikahan (lagian belum ada calonnya juga).  Sama seperti gue yang merasa dapat manfaat, semoga kalian yang membaca ini juga bisa ngedapetin manfaat yang sama. So, Enjoy your reading!

(Note: posting ini diambil dari diskusi thread di akun Plurk pribadi gue, dengan penyesuaian disana-sini. Thanks to all plurkers, especially Pingkan, Kochai, Kop n Dane. Enak yah kalo temen diskusi anak psikologi semua, hihihi)

So they say he/she’s the one when the heart & mind comes to an agreement. You can’t feel he/she’s the one if your mind doesn’t agree & vice versa

(From Pingkan, dari tweet nya Bijuk)

Darah, Nyawa dan Bulan Puasa

*Copas dari notes gue sendiri di Facebook *

*Tulisan ini untuk kalian, orang-orang terkasih yang sudah lebih dulu pergi menghadap Tuhan*

 

Guys, mohon pertolongannya. Saat ini, teman saya yang bernama *Anni sedang membutuhkan darah golongan O untuk ayahnya yang sedang dirawat di RS. A di kamar no 412.  Bagi yang bersedia memberikan pertolongan, silakan hubungi Anni ke nomor *08567891011 atau hubungi…

*Bukan Nama dan No.Telp Sebenarnya

 

Mata gue pun terpejam. Pusing saat membaca pesan tersebut.

Pesan-pesan seperti ini sering gue terima akhir-akhir ini, terutama sejak pertengahan bulan puasa. Entah lewat broadcast message BB, email, FB, twitter, you name it. Biasanya pesan seperti ini kurang gue pedulikan, terutama jika golongan darah yang diminta tidak sama dengan golongan darah gue. Atau kalau pesan itu ga jelas darimana asalnya. Bisa saja itu cuma tipuan. Jadi ya, jarang gue pedulikan.

 

Tapi bulan puasa ini berbeda.

 

Nyaris setiap minggu gue menerima pesan seperti ini. Bahkan dalam seminggu terakhir, gue menerima tiga pesan serupa, untuk tiga orang yang berbeda. Satu diantaranya malah gue datangi langsung, setelah gue konfirmasi identitasnya. Orang yang sedang membutuhkan darah adalah ayah teman gue yang sedang kritis, dan gue langsung meluncur kesana meski waktu itu sudah tengah malam.

Sayangnya, waktu itu kondisi gue tidak memungkinkan untuk mendonorkan darah. Jadilah gue hanya termenung disana, bingung memikirkan bagaimana nasib ayah dari teman gue tersebut. Untungnya, beberapa jam kemudian teman gue berhasil mendapatkan darah, walau dengan stok yang sangat sedikit. Akhirnya gue diminta pulang.

 

Dua hari kemudian, gue terima kabar kalau ayahnya meninggal.

 

Pengen nangis rasanya waktu dengar kabar tersebut. Namun itu bukan kabar terakhir. Beberapa hari kemudian, gue menerima kabar lain kalau ada lagi yang meninggal. Orang lain yang keluarganya juga sempat mengirimkan pesan meminta pertolongan sumbangan darah. Sungguh, napas gue terasa makin sesak.

 

————————————————————————————————–

 

Semua pesan dan kabar duka tersebut, sebenarnya adalah peringatan miris buat kita semua agar bisa lebih peduli. Darah hanya bisa didapatkan dari sesama manusia, ga seperti obat yang bisa diproduksi secara massal. Kalau kekurangan obat, seseorang masih mungkin bertahan hidup untuk beberapa hari. Tapi kalau kekurangan darah? Tunggu beberapa jam, orang itu pasti mati.

Kebutuhan darah di Indonesia tergolong cukup tinggi. Kota besar seperti Jakarta membutuhkan stok 1000 kantong darah setiap harinya, yang kadang harus dibagi dengan kota-kota disekitarnya.  Untuk kota-kota kecil di daerah, ketersediaan stok kadang terhalang dengan minimnya jumlah pendonor serta kurangnya fasilitas tempat penyimpanan darah, sehingga darah tidak bisa disimpan lama.

Kondisi ini akan makin bertambah parah di bulan puasa. Di bulan yang katanya penuh kemuliaan ibadah ini, stok darah malah berkurang drastis sampai hanya tersisa 30% dari hari biasa. Padahal, kebutuhan darah justru makin meningkat, terutama menjelang lebaran yang rawan dengan terjadinya kecelakaan di jalur mudik. Belum dihitung dengan jumlah pasien berpenyakit kritis yang membutuhkan darah untuk menjalani operasi. Dan masih banyak lagi.

Bayangkan kawan, hanya 30% dari hari normal. Berarti Jakarta saja hanya memiliki 300 kantong darah perhari, atau maksimal 75 kantong darah kalau dipukul rata untuk setiap golongan A, O, B, atau AB. Itu baru Jakarta, gimana dengan daerah lain? Ga usah jauh-jauh mikirin daerah terpencil, kota yang dekat macam Bekasi atau Tangerang aja bisa kehabisan stok darah. Jadi jangan heran kalau sering mendengar kabar orang meninggal saat bulan puasa. Boleh jadi, kekurangan darah ini juga menjadi salah satu penyebabnya

 

Kenapa stok darah bisa kurang di bulan puasa? Karena orang-orang mengira tidak boleh mendonorkan darahnya, karena akan MEMBATALKAN PUASA. Ini bener-bener alasan yang salah kaprah.

Siapa bilang bulan puasa ga boleh donor darah? Memang, kondisi seseorang akan melemah selama beberapa saat setelah darah didonorkan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sebelum dan sesudah donor seseorang harus mendapat asupan nutrisi dan air yang cukup.

Jadi gimana caranya? Ya gampang, lakukan saja donor darah setelah BUKA PUASA. Ga susah kan? PMI bahkan punya program untuk berkeliling ke seluruh masjid agar warga mau mendonorkan darah setelah shalat tarawih. Dan terbukti, mereka ga kenapa-kenapa. Kalau kepepet pun, orang yang harus mendonorkan darah saat belum waktunya berbuka kondisinya akan dianggap seperti orang yang sedang sakit dan dibolehkan untuk berbuka, dengan syarat puasanya diganti di hari lain. Jadi, tetap bisa donor darah kan?

 

Info ini, udah dikampanyekan dimana-mana. Kalau di-googling, akan ada ribuan tulisan yang menjelaskan soal hal ini. Tapi kenapa stok darah masih terus berkurang, gue juga ga ngerti. Indonesia bahkan kekurangan sampai 4 Juta kantong darah dalam kurun waktu setahun terakhir. Bayangin kalau 1 orang sakit butuh 4 kantong darah, berarti tiap tahun ada 1 juta orang yang ga bisa kita penuhi kebutuhan darahnya. 1 juta orang, yang meregang nyawa karena ga bisa ngedapetin darah.

Kita ga bisa selamanya ngandelin PMI dan bank darahnya. Guys, PMI itu kadang udah kaya organisasi gila yang jemput bola kesana kemari. Datengin institusi atau perkantoran supaya orang ga perlu bersusah payah kalau mau menyumbangkan darahnya. Berburu donor darah setelah tarawih di bulan puasa, juga kampanye dimana-mana.

 

PMI itu usahanya udah maksimal. Justru kita sebagai donor-lah yang usahanya masih kurang. Padahal sebenarnya ga susah-susah amat.

 

Kita cukup datang ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Atau kalau bingung mesti dateng kemana, datengin aja PMI. Dan setelah donor, jangan lupa daftarkan identitas lo juga. Seseorang bisa mendonorkan darah dengan jarak waktu minimal 3 bulan. Jadi lewat data identitas, lo bisa dihubungi tiap 3 bulan sekali untuk jadi donor secara rutin. Kalau rutin donor darah, lo ga cuma bisa nolongin orang, tapi juga nolong diri lo sendiri. Lo akan dapetin regenerasi darah baru setiap 3 bulan, dan jadi lebih sehat.

 

Mungkin ini tulisan yang terlambat, karena bulan puasa sudah lewat. Tapi semoga saja, tulisan ini bisa menjadi pengingat.

 

Donate Your Blood, to Help Others and Yourself

Show That You Care, Fellas.

 

The (Wo)Man Who Can’t Be Moved

Yayaya, sebelum kalian bertanya, gue konfirmasi dulu:

Judul posting ini memang diambil dari salah satu lagu band favorit gue: The Script.

Band Irlandia ini sukses bikin gue muterin playlist mereka seharian di komputer kantor, dan The Man Who Can’t Be Moved memang salah satu lagu yang paling gue suka.

Tapi tenang, isi postingan bukan soal patah hati perkara asmara kayak lagu aslinya. Nah, jadi kenapa gue pake judul lagu itu buat postingan ini? Nanti gue kasih tahu  =)

*Warning: Ini adalah postingan  CURHAT yang  panjang. Kalau level kesabaran Anda cetek, mending jangan dilanjutkan* =p

Gue adalah anak bungsu. Bukan anak bungsu biasa, karena lahir di luar rencana. Usia gue terpaut  sangat jauh dengan tiga kakak yang lain. Sebagai bayangan, ketika tiga kakak gue sudah menginjak bangku kuliah, guenya masih… SD.

Nah, kebayang kan tuh gimana rasanya? Gue adalah satu-satunya anak kecil di rumah, dimana ketika kakak-kakak gue udah bolak-balik bawa pacar kerumah, gue masih sibuk ngejar soang di rumah tetangga… *mainan kok soang toh deeeees*

Perbedaan usia yang jauh ini cukup mempengaruhi pola dan kesempatan pengasuhan yang gue dapat. Waktu masih kecil, gue  mendapat pengawasan yang paling… longgar. Ga ada tuh ceritanya jadwal ketat bobo siang, atau dimarahin gara-gara jam 10 malem belom bobo. Beda banget sama kakak-kakak gue, yang dari ceritanya, selalu dapet jadwal teratur dan pengawasan dari bokap dan nyokap. Longgarnya ini juga bukan tanpa alasan. Waktu masih TK-SD, bokap dinas di Bangka, sementara kakak-kakak gue udah pada sekolah di Jakarta. Jadilah orangtua gue berbagi tugas, satu tinggal di Bangka, satu di Jakarta. Gue kebagian nemenin bokap. Ini berlangsung kira-kira 4-5 tahun, sampai akhirnya bokap bisa pindah tugas ke Jakarta.

Meski begitu, 4-5 tahun ini sangat berpengaruh buat kehidupan gue. Jauh dari nyokap, dan sering ditinggal kerja sama bokap, bikin gue terbiasa menentukan pilihan sendiri. These are the best gift from my parents: Freedom and Opportunity.

Ortu ga pernah protes sama apapun yang gue pilih atau pengenin, selama masih dalam lingkup batas yang wajar. Dan kebiasaan ini terbawa sampai gue besar dan pindah ke Jakarta

Gue harus selalu memilih sendiri. Sekolah mana yang gue mau, ekskul apa yang gue pengen, prestasi apa yang pengen gue kejar, itu harus dipikirin. Kalo bener ya, didukung. Kalo salah ya, dimarahin. Itu aja patokan gue semasa kecil. Ini bikin cara hidup gue lebih terbentuk jadi pola trial dan error: coba-salah-ulang-ambil/tinggalkan. Jarang banget gue diskusi sama yang lain, termasuk ortu dan keluarga.Malah ujung-ujungnya, kadang gue memaksakan apa yang gue pengenin. Ga heran kalo nyokap selalu bilang, gue adalah anaknya yang paling keras kepala  =))

Tapi dengan trial dan error ini, gue belajar banyak.  Meski kadang lebih banyak salahnya daripada benernya.

Ini kadang menjadi kekurangan terbesar gue. Daripada mencoba diskusi dan belajar dari kesalahan orang lain, gue kadang memilih untuk ngejalanin sendiri. Kalo pas lagi benar, ya rasanya gue keren banget. Tapi pas lagi salah ya rasanya juga kayak jadi orang paling goblok sedunia. Feel-nya kayaknya lebih dapet kalo udah dikerjain dan dirasain sendiri. Karena itu gue ga pernah melewatkan  kesempatan apapun yang lewat di depan gue, supaya gue selalu bisa belajar. Intinya, mampu ga mampu, yang penting coba dulu,  hahahaha  =p

Bisa jadi gue adalah seorang opportunis. Gue ga segan mengambil keputusan yang drastis, tapi itu pun bisa gue tinggalkan begitu saja ketika udah merasa ga cocok atau ga lagi bermanfaat.

Contoh paling ekstrem adalah soal keputusan gue tentang jilbab. Keputusan untuk memakai ataupun melepas jilbab, dua-duanya gue lakukan dengan keyakinan yang sama besarnya. Karena seperti yang gue bilang, satu-satunya cara yang gue pahami untuk ngejalanin hidup ya yang kaya begini. Trial dan error. Kudu dicoba, dipahami, dan dimengerti. Walau kadang mungkin salah, dan gue bakal kesandung sendiri.

Ini bukan hal yang bisa gue banggakan, tapi menurut gue ini juga bukan dosa. Kesempatan itu harus dicari, dalam konteks apapun. Cuma, kadang-kadang gue ngerasa hidup gue kayak terus-terusan berlari tanpa henti. Mengejar sesuatu mati-matian, tapi pas udah dapet malah langsung ngejar yang lain. Contohnya masa sekolah deh:

  • Lulus SD, gue mengejar SMP yang ada basket dan Tae Kwon Do-nya. Gue buktiin pilihan gue dengan ikut macam-macam pertandingan, walau gue tahu kemampuan gue pas-pasan.
  • SMA, gue pilih sekolah paling bagus yang sesuai ama NEM gue (ini keputusan paling naif, hahaha). Ini adalah masa-masa gue belajar paling tekun, ikut segala macem les. Taekwondo sama Basket? Berubah jadi sebatas hobi
  • Kuliah, gue memilih harus UI, dan hanya UI. Waktu itu gue pengen banget Psikologi, sementara nyokap pengennya gue di Kedokteran. Berhubung ga mau ngalah, gue ngerasa harus masuk kampus yang (katanya) terbaik di negeri ini, untuk buktiin kalau pilihan gue ga akan mengecewakan keluarga *Yeah, gengsi gue emang tinggi. Puas lo?* =p

Lepas dari alasannya, keputusan masuk UI itu emang tepat. Di kampus ini, gue dapet banyak banget pelajaran buat hidup.

Di UI, gue ga puas cuma kuliah, jadi ikut organisasi *ya ga jauh-jauh sih, Taekwondo sama BEM* =p  Disini gue ketemu banyak orang hebat, dan belajar nemuin jati diri. Ga puas ikut organisasi, gue nyari kerjaan dan belajar make uang hasil keringat  gue sendiri. Serabutan ikut proyekan or sambilan sana-sini.

Ga puas sekedar kerja, gue nyari yang spesifik bisa bikin gue ikut belajar sekaligus bikin orang lain belajar juga. Ini adalah saat-saat gue gabung di MPKT, nyambi belajar sambil jadi asisten dosen di kampus, dan kenalan sama metode E-learning.

Inilah saat-saat paling menyenangkan selama gue di kampus, karena gue memakai semua hal yang udah gue pelajari seumur hidup di dalam pekerjaan ini, juga ketemu orang-orang paling gokil untuk diajak kerja sama. Nyaman, sampe rasanya gue ga mau pergi dari kampus dan terus ada disana. Lulus, terus kerja sampe tua.

Tapi masih, rasa ga puas itu tetap ada. Gue masih penasaran dengan dunia yang ada di luar sana dan mutusin untuk cari kerja di luar, dan mulai lagi dari awal. Pengen hal yang baru. Pengen mengejar sesuatu, lagi.

Sampai akhirnya gue dapet kerja jadi HRD. Cuma dasar ga cocok,  gue keluar dan tiba di kerjaan gue sekarang, di tempat yang ga pernah gue sangka, dan jenis kerjaan yang ga pernah gue duga sebelumnya. I mean, cita-cita gue adalah jadi Psikolog. Siapa yang ngira gue bakal kerja di tipi, bagian riset pula?

Dan tiba di titik ini. Menjadi seseorang yang bener-bener beda dari yang gue bayangkan dulu.

Gue bersyukur Tuhan sudah membawa gue sampai kesini. Ngasih semua pengalaman ini. Tapi gue baru sadar, selama ini kerjaan gue cuma loncat dari sana kesini. Mengembangkan diri dengan hal-hal yang udah gue pilih, tapi sama sekali ga pernah mengembangkan pilihan yang gue ambil. Gue selalu memilih pergi ketika ada kesempatan lain yang lebih baik. Mengejar godaan yang terlihat lebih menggiurkan. Cuma kejar, dapet, terus dilepasin. Singkatnya kalo kata temen, gue itu punya masalah sama komitmen, dalam hal apapun (hahahaha) =p

Jadi gue memilih berhenti. Untuk saat ini. Gue rasa setelah terus-menerus mengejar waktu dan keinginan, sudah saatnya gue belajar untuk bertahan. Dan kantor gue sekarang adalah tempat yang paling kece bin komplit untuk memulai semua itu. Suasananya super duper menyenangkan, tapi deadline kerjanya lebih horor daripada dikejar-kejar setan. Kurang apa coba? Belajar komitmen di tempat ini ibarat pendekar kungfu yang lagi bertapa di gunung. Ditempa abiiiiiissssss *lebay*

Dan gue akan belajar, untuk tidak mengejar dan berpindah. Belajar untuk diam dan bersyukur.

Belajar untuk tidak bergerak dan fokus mengikat diri dengan pilihan yang gue ambil.

*Seperti lirik yang dibilang sama The Script: I’m The (wo) Man Who Can’t Be Moved*

(Nah, udah kejawab kan kenapa gue pake judul lagu ini? Hahahahaha) =D

Ya udah. Segini aja. Makasih lo babbling-an segini panjang masih tetep dibaca 😉

Welcoming Myself =)

It’s been a loooooooooong time since my last posting on this blog.

Hello Fellas  😉

 

Sekilas info untuk yang sudah lama tidak bertemu dengan gue:

Gue udah bukan mahasiswa. 7 bulan yang lalu Gue udah lulus dan sukses didepak keluar dari kampus kuning dibilangan Depok  sana (Tentunya dengan wisuda, walau sebenernya gue udah terancam drop out karena kuliah terlalu lama, hahaha). Ga menunggu lama dari wisuda, setelah kelar dari proyek serabutan sana-sini yang gue andalkan dari jaman masih mahasiswa, akhirnya gue dapat kerja. Jadi Recruiter HRD di sebuah kantor dibilangan Sudirman sana

 

Gawe euy! Jadi orang kantoran, yihaaaa!

 

Tapi ga lama, cuma dua setengah bulan (yeah, right…). Gue resign setelah sadar kalo gue sama sekali ga punya bakat jadi orang HRD dan juga karena gue ditawarin kerjaan di bidang yang paling gue sukain dari jaman masih kuliah tingkat 5, riset kualitatif.

Yep, Kualitatif. Bidang yang sama bertanggung jawab untuk kelulusan gue yang lama, karena gue kekeuh pake metode kualitatif walau itu bikin gue ngerjain skripsi ampe dua tahun lamanya. Padahal dengan waktu yang sama, temen gue yang lain udah bisa kerja, nikah, punya anak, atau bahkan lulus dari kuliah S2. Ini ampe lulus S2 lo, LULUS! *garuk-garuk tanah*

Untunglah di tempat kerja gue yang baru, perjuangan itu ga berakhir sia-sia. Gue pindah ke salah satu stasiun TV swasta nasional di Senayan sana, dan kerjaannya full pake metode kualitatif *yaaay!*

Nama keren bidang gue adalah Product Development, di divisi Research & Development (keren kan? keren kan? HAYO NGAKU!). Tapi sebenarnya tugas gue simpel: Nonton Tipi. Dari pagi sampe malam, hahahahaha =p

Tapi, ekor dari nonton tipi ini banyak: observasi, olah data, laporan, presentasi, daaaan mikirin gimana caranya itu data yang segambreng bisa dijadiin modal ide buat perkembangan berikutnya. (Plus mikirin lagi ide kalau ternyata usul kita ditolak or ga masuk hitungan. Sedih lo, uhuks).  Dan tentunya, karena ini media yang tayang 24 jam, kerja gue juga kadang ikutan jadi 24 jam.

Gue pikir skripsi adalah hal terakhir yang bisa bikin kepala gue nyaris botak. Tapi ternyata, kerjaan ini bikin skripsi gue serasa ga ada apa-apanya. But Thank God,  I love this job. Sebikin botak apapun, ini kerjaan selalu bikin gue ga sabar untuk bangun tiap hari, dan sukses menahan pantat gue di kantor sampe malam.

 

Jadi, Alhamdulillah buat kerjaan. Sejauh ini sepertinya gue berjalan di jalur yang benar, hehehe. Nah, kalo kabar hati gimana? *jengjengjeng*

 

Kabar hati sih baek. Udah pernah jatoh, remuk, kebakar,dan patah. Tapi alhamdulillah masih bisa dipake, walau kadang agak-agak konslet.

 

Jadi dengan keadaan tersebut, gue sampaikan kabar penting untuk kalian semua yang ada di luar sana, dan selama ini diam-diam ngefans sama gue: SAYAH MASIH JOMBLO. Single. Sorangan. Jadi kalo emang ada yang berani, cepetan dah sini gandeng sayah *ceritanya nantang, padahal mah ga ada yang ngefans juga*

Syaratnya gampang kok: harus gandeng pake dua tangan. Terlarang itu kalo saya digandeng cuma pake satu tangan, sementara tangan satunya dipake buat gandeng cewek lain *atau cowok lain, hahaha*. Gandeng part time, alias gantian sama yang lain juga ga boleh. Atau saya bakal putusin gandengan anda pake gergaji mesin *ceritanya ngancem*

 

Hehehe. Well, untuk urusan hati ini memang gak semulus urusan kerjaan. Setelah sukses patah hati ditinggal kawin sama Cinammon Man *dan denger-denger sih katanya dia udah punya anak*, saya masih belum kemana-mana. Belum minat nyari juga, mengingat kerjaan kayaknya belum bolehin saya mendua (jadi tantangan gandeng di paragraf atas sebenarnya boong, hahaha). Buat gue hal yang lebih penting dari cari pacar sekarang adalah: stabilin kerjaan dan ngurusin badan. Karena entah kenapa, pas skripsi berat gue naik 10 kilo dengan sukses, dan sudah 7 bulan berlalu itu berat masih ogah turun juga… *huweeeee*

Jadi kalo dirangkum, update dari gue selama 7 bulan terakhir adalah: lulus, dapet kerja, resign, dapet kerja lagi, dan masih bertahan jadi single fighter. Ga banyak perubahan sebenernya, tapi tetap aja butuh banyak penyesuaian. Gue sedang berubah ke bentuk yang baru, walaupun sebenarnya isinya masih tetap Desy yang dulu. Belum terlalu nyaman, karena kadang gue masih pengen nambah atau ngurangin ini itu. Tapi, hidup itu soal proses kan ya? Mau lambat atau cepat, maju atau mundur, banyak berubah atau cuma sedikit, yang penting disyukuri dan dinikmati, betul gak?

So, I’m Welcoming Myself. Into a New Life. Belajar jadi dewasa walau kadang pun sebenarnya gue tetep pengen jadi anak manja. Belajar sabar sekaligus mencoba lebih berani dari sebelumnya.

Dan gue juga belajar kalau ga semua orang bisa ngerti dengan perubahan ini. Karena kadang gue pun ga ngerti sama diri sendiri. Gue cuma bisa berharap semua tetep bisa berjalan dengan baik, seperti apapun keadaannya nanti…

Dan… gue merasa makin lama kok postingannya jadi mellow yaaaa. Gimana kalo diselesaikan aja? Gue ga terlalu bakat nulis, jadi lo semua pasti sadar kalo paragraf-paragraf terakhir udah melenceng jauh dari paragraf-paragraf sebelumnya, hahahaha.

So, it’s the end. I’ll see you again on next posting! 😉

 

*Oh, and by the way. Buat semua yang masih nanya kenapa gue tiba-tiba lepas kerudung: Helloooo, gue udah lepas kerudung DUA TAHUN!

Kalo itu bentuk perhatian, agak-agak telat yaaaa. Jadi jangan dibahas lagi karena gue udah ribuan kali membahas soal itu. Ini proses hidup gue, dan gue punya alasan sendiri. Kalaupun lo semua masih ga setuju, setidaknya cobalah hargai keputusan gue. Benar atau salahnya toh gue yang akan tanggung, ok? Ciaaaaaoooooooo!*

Lost

Apa yang paling menyesakkan dari rasa kehilangan?

Kenyataan, bahwa hal yang hilang itu pernah menjadi milik kita

Satu hal lucu yang selalu terjadi ketika kita menyendiri adalah, sesungguhnya kita tetap berada di tengah keramaian yang tak terhindarkan: Kenangan. Berterima kasihlah pada otak yang tak pernah berhenti berpikir, mengulang semua kejadian dalam hidup, mendatangkan semua hal yang pernah mengisi kehidupan kita. Mengingatkan akan semua hal yang pernah ada dalam genggaman.

Disinilah, ketika kita menyendiri, rasa kehilangan itu akan menyergap datang. Menjadi kawan yang tidak diinginkan, dan ingin kita enyahkan. Padahal kita sendiri yang memanggil rasa kehilangan itu, dengan semua campur tangan kita.

Hilang selalu berawal dari Ada. Ketika kita memilikinya, apapun itu.

Dan memiliki, tidak pernah menjadi sesuatu yang sederhana.

Bicaralah tentang memiliki, dan kenangan akan membawamu pada satu titik pertemuan: Awal. Dari segalanya.

Kita membicarakan tentang lahirnya sebuah niat, dengan berbagai tujuan. Niat yang kemudian membawa kita pada perjalanan. Sebuah proses. Dengan setiap halangan dan rintangannya. Dengan setiap perhentian ketika kita merasa lelah, dan bangkit kembali setelah kita merasa kuat. Kita meneruskan semua perjalanan, untuk mendatanginya. Mencapai keinginan. Memeluk impian.

Memilikinya. Dalam wujud. Ada, dalam genggaman kita.

Bukankah sudah kukatakan, bahwa memiliki tidaklah pernah sederhana?

Lalu bagaimana sesuatu bisa lepas dari genggaman kita?

Karena kita tidak mampu? Atau tidak pantas?

Karena kita salah? Atau lemah?

Atau karena hal tersebut bukanlah hak kita?

Namun jika jawaban semua tanya tersebut adalah iya, kenapa kita pernah mendapatkannya?

Sungguh, aku ingin menyepi dalam kesendirian yang sesungguhnya. Tanpa sergapan kenangan. Tanpa rasa kehilangan.

Aku hanya ingin sendiri, tanpa merasa kesepian…

Pinky Cheek =)

Sore tadi, gue ga sengaja nonton Bernard Bear. Ceritanya tentang si Bernard yang lagi maen basket, dan berusaha ngelakuin lemparan free throw ke ring basket berkali-kali. Tapi sayangnya, itu bola basket cuma mantul-mantul ngejek seolah-olah lemparannya masuk, tapi abis itu langsung mental tanpa skor sama sekali. Ngeselin abis tuh pasti =))

Tapi, adegan itu bikin gue teringat sama salah satu kejadian malu-maluin di jaman SMP. Kejadiannya sama, praktek lemparan free throw waktu jam pelajaran olahraga, di lapangan sekolah.

Waktu itu ceritanya udah praktek untuk ngambil nilai. Setiap anak dikasih 2 set free throw, masing-masing set berisi 5 lemparan. Set pertama untuk percobaan, dan set kedua untuk nilai yang sebenarnya.

Dan, datanglah giliran gue yang diambil nilainya. Gue yang waktu itu lagi seneng-senengnya sama basket, dengan semangat 45 langsung ngambil bola dan mulai melakukan set pertama, untuk lemparan percobaan.

And guess what? Dari 5 lemparan, semuanya masuk! Mulus, bersih, tanpa mantul, dan langsung menuju lubang ring. Keren deh pokoknya *yeah, right. Narsis dikit ga papa lah yaaaa* 😉

Selama sepersekian detik, tingkat kejumawaan gue meningkat drastis. Guru nepok-nepok pundak gue, dan temen-temen sekelas langsung pada bersorak sambil siul susahsuit prikitiw buat nyemangatin gue di set pengambilan nilai. Beuh, udah berasa kaya jadi MVP =p

Jadi gue tepe-tepe dikit lah yaaa. Sok-sok dribble sambil narik napas dramatis sembari tengak-tengok kanan kiri. Dan ditengah ke-tepe-an itu, gue ga sengaja nengok ke sekumpulan anak cowo yang baru aja muncul trus mejeng depan pintu kelasnya di lantai atas, nontonin kelas gue yang lagi ambil nilai.

Dan ada gebetan gue disana. Ikut nonton.

Gue menatap matanya ga sampe sedetik, tapi efeknya bener-bener dahsyat. Lutut gue langsung lemes, bola langsung terasa licin, dan ring basket langsung berasa berkilo-kilo jauhnya. Gugup dahsyat men. Luntur abis deh semua ke-tepe-an gue

Dan hasilnya?

Jomplang! Dari 5 lemparan, cuma 1 yang masuk *sigh*. 4 lemparan sisanya kalo ga melenceng, ya mantul kaya bolanya si Bernard Bear. Sorakan langsung berubah jadi tertawaan ketika semuanya melihat gue ngejar-ngejar bola ke ujung lapangan gara-gara kepantul papan ring. Dan temen gue yang tau alasan kegugupan gue, langsung ngeledekin abis-abisan di depan semua anak. Spontanlah satu kelas nengok semua ke lantai atas, terus nengok ke muka gue, dan makin ketawa menjadi-jadi. Gebetan yang kayaknya sadar lagi diliatin pun akhirnya masuk lagi ke kelas. Bagoooos, lengkap bener dah malunya! T_T

Well, It was a loooooong time ago. Tapi gue masih inget bener rasanya waktu itu, campur aduk! Gugup, malu, nilai jelek, plus diledek, semua gara-gara kemunculan si gebetan yang bahkan ga sampe tiga menit! Kemunculan yang bikin jantung gue terasa mau copot, dengkul lemes, dan pengen ngilang seketika *tapi sekaligus pengen nyamperin dia juga* :p

Kemunculan yang bikin gue tahu, seperti apa tubuh gue bereaksi kalo ketemu sama orang yang gue suka.

Itu kali ya yang namanya jaman cinta monyet. Jaman dimana perasaan dan emosi jauh mendahului logika. Jaman dimana pipi gue bisa bersemu merah cuma gara-gara gugup ketemu gebetan. Ngerasain deg-degan parah yang bikin jantung lo bener-bener terasa mau keluar dari dalem dada.

Tapi itu dulu. Sekarang? Well, gue udah jauh berubah. Boro-boro deg-degan, bahkan mau naksir dan ngegebet pun kadang masih mikir-mikir dulu. Semua sikap, perasaan dan ekspresi gue jadi lebih terkontrol, dan gue cukup nyaman dengan itu semua. Cuma… Kok rasanya jadi kurang seru. Rada-rada kurang spontan gimanaaa gitu. Dan jujur, gue merindukan masa-masa cinta monyet bego nan culun itu :-p

Can I make a wish? To have such a strong feeling like that, again? With the right man?

Okeh. Abis nonton kartun gue malah meracau buka aib sendiri soal cinta-cintaannya si monyet *Beruang ke monyet. Jauh bener, Nyet!*.
Enough babbling, dadah semuah! 😉

Posted with WordPress for BlackBerry.

Choice

Quote dari Romo G, salah satu subyek skripsi gue:

    kalau pengen memilih pasangan hidup, harus ada tiga hal yang kamu yakini:

    Hati mengatakan iya
    Pikiran mengatakan iya
    Tuhan mengatakan iya

    Satu hal saja kamu ragukan, berarti dia bukan untuk kamu. Tapi kalau kamu sudah punya semuanya, jangan dilepaskan lagi

Well, itu rumus gampangnya sih. Tapi kok kayanya susah semua ya,,, (apalagi yang no. 3, hahahaha) =p

Udah ah, malah meracau pagi-pagi. Mending mandi dulu…

Jumat pagi, dengan otak beku di tengah dinginnya kamar rumah sakit.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Semoga Ga Kapok =D

Skripsi.

Folder yang nangkring dengan manisnya di ujung layar laptop gue yang tercintah, lantas punya kembaran pula di setiap flashdisk yang gue punya, dan bahkan punya space tersendiri di semua email gue. Berisi file-file yang begitu bernafsu memeras seluruh otak gue, melebihi nafsu vampir yang lagi kelaperan karena pengen menghisap darah korbannya.

Demi Tuhan, folder ini adalah hal terbesar yang pernah mendominasi hidup gue. Bahkan mantan pacar atau gebetan pun ga pernah sampe segitu amat dominannya. Mungkin harus punya pacar dulu supaya bisa menandingi dominannya folder durjana ini (eaaa,curcol total!)
Pokoknya, satu-satunya hal yang gue inginkan saat ini, adalah talak tiga dengan nol persen kemungkinan untuk rujuk kembali dengan folder dominan tersebut. Biar bisa balik hidup normal seperti sediakala.

Tapi posting ini bukan untuk bercerita ataupun sesi curhat tentang si folder imut bin angker tersebut. Nanti itu ada sendiri bagiannya *kalau udah kelar, hahaha* =p. Sama sekali bukan.

Ini tentang gue, dan orang-orang yang ada disekitar gue saat ini.

Ngerjain skripsi itu ga cuma butuh kesabaran, tapi juga butuh pengertian, perhatian, ketekunan, dan tentu saja sejumlah besar asupan makanan *lho?*
Dengan semua kebutuhan tersebut, well, ga bisa dipungkiri, gue jadi tambah keras kepala dari sebelum-sebelumnya. Lebih menyebalkan. Rewel, caper, ga pedulian, ga mo ngalah, demanding, you name it lah.

Tapi yang bikin gue takjub, ada lo orang-orang yang siap meladeni titik ekstrem negatif gue, meskipun ngeladeninnya dengan caranya masing-masing.

Ada yang bawa kuping portabel 24 jam, siap mendengar segala macem curhat, mulai dari curhatan baru, sampe curhatan lagu lama yang ga kelar-kelar. Ada yang rela melebarkan kapasitas perut demi menemani gue yang nafsu makannya tiba-tiba tak berujung. Ada yang dengan ikhlas menambah stok napas, ketika gue seret ditiap sesi jogging penghilang galau. Ada yang ikutan begadang bantuin gue perang sama verbatim n kodingan, juga jadi polisi yang ngingetin gue dikala malas. Atau yang paling simpel, yang tahan ngeladenin gue berantem, semenyebalkan apapun template muka yang gue pasang.

Seriously guys, gue adalah introvert sejati. Gue sudah sangat terbiasa dengan reaksi menghilang dari orang-orang yang bingung menghadapi gue. Wajar lah, gue aja kadang ga ngerti ama reaksi dan omongan gue sendiri. Apalagi orang lain.

Yang bikin gue ga terbiasa justru orang-orang kayak kalian. Yang tinggal, ngedampingin gue, dan ngasih semangat. Yang ngebuka gue sampe kedalam jeroan.

Gue terbiasa sendirian, jadi ga ngerti gimana caranya menghadapi kesabaran kalian *koreksi, buat gue kalian udah ga sekedar sabar, tapi keras kepala* :-p Boro-boro ngebales, bisa aja reaksi gue malah jadi tambah menyebalkan.

Jadi, gue ga akan bilang makasih. Karena gue ga pernah minta kalian bersabar sama gue. Yang akan gue lakukan adalah tetap keras kepala, tetap menyebalkan dan tetap berusaha ngerjain skripsi ini sampai kelar. Tapi kali ini, gue akan ngerjain ini semua buat kalian =)

Bersabarlah kalo kalian masih pengen. Karena gue pastikan, masih banyak stok kelakuan minus yang belum gue tampilkan di depan kalian. Dan gue janji, pasti akan gue perlihatkan, khusus buat loe semua, spesial pake telor!

Semoga kalian ga kapok,

*serius, gue bener-bener ngarep semoga kalian ga kapok*

Nggg, itu aja deh. Yang lain gue omongin kalo skripsinya dah kelar ya. God Bless You All! ^o^

Posted with WordPress for BlackBerry.

Membagi Satu

Sampai detik ini, aku masih tidak bisa menemukan kata-kata untuk bicara. Apa yang sudah kulewati, bagaimana setiap hariku membentuk pola-pola yang tergambar menjadi sesuatu yang begitu jelas, sekaligus tak nampak.

Apa yang akan muncul di depan, kita tak akan pernah tahu.

Yang aku tahu hanya bergerak. Kadang melihat ke belakang. Kadang terdiam sesaat menerima tanpa daya, karena menyesal bukanlah pilihan.

Kadang aku mengingat Kau, Mereka, dan Aku yang dahulu. Semua yang dahulu berarak, kini seperti helai-helai bulu yang terlepas dari sayap. Kita semua akan jatuh dan menginjak bumi yang sama. Meski tetap ada tanya: masih utuhkah setiap helai-helai bulu yang terlepas ketika menyentuh tanah?

Masih utuhkah diri kita di ujung perjalanan kelak?

Entah bagaimana aku akan menjawabnya saat itu. Bukan pada siapa-siapa, tapi hanya kepada diriku. Pada Aku yang menanti diujung perjalanan. Pada Aku yang menanti dalam cemas dan penuh harap. Menanti bayangannya yang semakin memendek, mendekati ujung cahaya sebelum redup.

aku butuh waktu.

Namun satu yang luput dari sadarku

waktu tak pernah membutuhkan aku

Posted with WordPress for BlackBerry.

Post Navigation