A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Archive for the category “past n future”

Kamu. Yang Kubenci.

Kepada Kamu, yang kini tak berhenti berlari-lari dalam otakku

Kawanku bilang, cinta itu irasional. Mau tak mau aku terpaksa setuju dengan kata-kata itu. Kata-kata yang menjadi penjelasan mengapa aku tak bisa menjelaskan setiap tindakanku saat ini, jika hal itu berkaitan denganmu

Aku tak bisa jelaskan, bagaimana otakku terus berkata untuk menjauh darimu, tapi kakiku selalu melangkah menuju tempatmu.  Disana. Tempatmu menunggu diriku.

Bagaimana suara-suara kecil di kepala memintaku untuk menjaga sikap. Meminta berhenti menunjukkan isi hatiku. Namun disaat bersamaan, kau malah kutarik untuk melihat utuh. Dalam-dalam meraih rasa yang telah kututup dalam jutaan tahun penantian, untuk menemukan kesempurnaanmu.

Aku benci menyadari bahwa hatiku telah berkhianat. Berkhianat pada otakku, yang terus meminta untuk tak menggubris dirimu. Seluruh pikatmu. Maka hati malah mendominasi imajinasiku. Penuhi kepalaku dengan bayangan penuh akan dirimu. Tak ada tempat untuk berkata tidak pada kehadiranmu.

Bagaimana bisa? Kau begitu mudah meruntuhkan tiap dinding yang sudah kubangun hanya dalam kejapan mata?

Aku tak mengerti bagaimana Semesta telah mewujudkan setiap inci harapanku, dengan begitu sempurna. Dalam wujudmu, dan dalam hadirmu.

Aku tak mengerti apakah ini cinta, atau kebencian dalam-dalam yang tak bisa kukendalikan. Begitu bencinya karena Kau telah melemahkan Aku yang tak pernah kalah.

Kemenanganku telah terkubur, jatuh ke bawah kakimu.

Dan berat hati terpaksa kuakui, Kamu telah mengalahkan Aku.

Aku membencimu. Aku membenci Kamu yang membuatku jatuh hati. Lebih benci lagi karena kau tak membiarkanku jatuh hati sendiri, malah menemaniku dalam kegilaan ini. Menciptakan dunia kita sendiri, yang tak kasat mata. Dunia gaib yang hanya ada dalam angan dan pikiran kita. Cuma ada Aku dan Kau disana

Jadi lengkaplah sudah. Kau orang tergila yang paling Aku benci. Yang membawa lari hatiku tanpa tersisa lagi

—————————————————————————————————

Hey Kamu! Tetaplah dalam kegilaan ini bersamaku. Hingga ujung waktu.

=)

Advertisements

Fearless

“Let me not pray to be sheltered from dangers but to be fearless in facing them.

Let me not beg for the stilling of my pain, but for the heart to conquer it.

Let me not look for allies in life’s battlefield but to my own strength.

Let me not cave in.”

(Rabindranath Tagore)

Another year ahead. Be brave, always.

Let’s play 😀

Single to Married: Takut Menikah? Ga usah Buru-Buru =)

Beberapa hari yang lalu gue membuat satu thread pada akun Plurk gue, dan menyatakan kalau: Menikah itu seram. Keputusan yang aneh lah pokoknya.

Kenapa? Well, lupain dulu deh soal masalah finansial. Syarat mutlak dari sebuah pernikahan itu adalah, orang yang ngejalaninnya harus siap untuk kompromi seumur hidup. Menyatukan isi 2 kepala. Mesti siap deh tuh yang namanya ngalah, kontrol emosi, dan menghadapi situasi tertekan lainnya. Buat orang seperti gue yang ngerasa ngalah itu lebih parah daripada mati, nikah itu jelas bener-bener menakutkan… * Dan masuk ke pola hidup kaya gitu secara sukarela? Euuuh…, kayaknya lebih gampang kalo jadi lajang seumur hidup deh…*

Ga disangka, thread itu mengundang banyak reaksi dari teman-teman di Plurk, sampai 115 respon! Ternyata yang mikir kaya begini bukan cuma gue, tapi juga banyak teman-teman lain. Sepertinya lajang sekarang udah mulai mengerti, kalau menikah itu ga seindah dongeng-dongeng jaman dulu yang pasti berakhir dengan kata-kata happily ever after. Tapi butuh kerja yang sangat keras.

Di thread itu, kita semua diskusi sambil membicarakan ketakutan masing-masing soal pernikahan (walau kebanyakan tetap ketakutan gue yang dibahas, hahaha). Temen gue bilang: Kuliah Pra Nikah (hahaha). Yang komen disana ada macem-macem, mulai dari lajang, mahasiswa, pengantin baru, bapak 1 anak, sampe psikolog. Dan setelah gue baca lagi, sayang kayaknya kalo ga dibagi. Jadilah, isi diskusi thread itu gue rangkum disini

…..

Respon pertama datang dari teman gue, psikolog muda nan cantik berinisial P(ingkan) *hohoho*. Dia punya perhatian khusus soal isu romantic & family relationship,  dan sependapat dengan gue kalo siap menikah itu berarti mesti siap taro ego di lante *mark this word! hahaha*, dan masalah menikah serta memilih pasangan itu memang harus dipertimbangkan secara rasional. Menurut Pingkan, pasangan yang menikah harus siap untuk: kontrol emosi, berbagi, dan negosiasi. Kemudian. pasangan menikah juga bisa bahagia kalau mereka bisa: berkomunikasi, terbuka, mau mendengarkan pasangan, dan berkomitmen

Nah, untuk bisa sampai di tahap kece ini dan siap menikah, seseorang harus bisa menjadi pribadi yang dewasa dulu. Menurut Pingkan, kedewasaan untuk menikah itu indikatornya:

1. Kenal Diri.

Tau “issue2” dan konflik2 pribadi kita (supaya tidak diproyeksikan atau dialihkan ke pasangan)

2. Bisa Mengelola Emosi sendiri.

Gak harus bergantung sama orang lain untuk bahagia. Bisa keluarkan marah dengan adaptif

3. Tau Cita-Cita Pribadi & Visi Buat Berkeluarga

Gak sekedar nikah karena “he’s the one” atau berbunga2 jatuh cinta. Pengen menikah buat apa? Pengen keluarga kayak gimana? Mau jadi ibu atau ayah seperti apa?

Kalau 3 point itu udah bisa pelan-pelan kita diwujudkan, logikanya kita bakal jadi nyaman sama diri sendiri. Ini penting banget dalam sebuuah hubungan, terlebih kalau kita mempersiapkan diri untuk menikah. Kalau udah ketemu pasangan yang visinya sama, dan sama-sama udah dewasa juga, trus bersedia, work the relationship out, nah baru deh mikir nikah

Nah, Pingkan sudah memberikan pandangan Psikolog tentang persiapan menikah ketika masih melajang. Tapi gue tetep aja galau: gimana nanti kira-kira situasi pas udah menikah? Seakan menjawab kegundahan gue, datanglah plurkers lain yang baru saja menikah dan masih hot jadi penganten baru: Kochai!

Bu Psikolog Kochai memberitahu kalau udah menjalani pernikahan, kenyataanya ga seseram yang dibayangkan. Dari pengalamannya, emang sih pas udah menikah mesti  ngalah, ga bs kaya dulu lagi, serta ada orang lain yang harus dipikirin. Berantem itu pasti, tapi lebih cepat rukun dibandingkan waktu pacaran. Yang penting persepsi kita terhadap pernikahan dan peran suami istri itu sejalan sama pasangan. Itu harus diomongin habis-habisan sebelum nikah. 

Cuma ga bisa dipungkiri, kadang ego kita masih sangat dominan, walau udah menikah sekalipun. Makanya butuh kerja keras untuk bisa mengalahkan ego kita itu. (Temen psikolog yang lain, Dane, menimpali kalau justru itulah tugas kita untuk menemukan seseorang yang membuat rela buat belajar melepas dominasi/ego). Nah, Kochai juga ga bisa memungkiri kalau untuk itu pun kita harus tetap bisa menemukan The One, alias pasangan yang klop buat kita. Emang kedengerannya ga rasional,tapi di antara keputusan-keputusan rasional untuk menikahi seseorang, pasti terselip keputusan irrasional

Pertimbangan irasional itu yang kayak gimana? Nah, disinilah Perasaan kita berperan. Kalo Kochai ngegambarinnya, dia pengen menghabiskan hidupnya bersama pria yang kini menajdi suaminya. Ibaratnya pas masih pacaran pun, berantem kaya apapun ga akan mengubah perasaan Kochai. Tetep aja pengen nikah suaminya, hahaha. 

Untuk perempuan dari segi rasional, pertimbangan calon suami bisa bisa berupa:  agama, kemapanan, hardworker atau bukan, bermasalah ga kalau istri pengen berkarir/mengurus rumah aja, dan lain-lain. Persepsi tentang peran suami istri juga harus sama: istri hormat sama suami, dan sebaliknya. Logikanya sih, Tuhan kan menciptakan kita berpasangan. Masa kalo udh ketemu jodoh, kita gak bisa ngebedain dia sm laki-laki/perempuan lainnya?

Singkatnya, secara rasional, kalau ingin menikah, harus bisa omongin soal peran suami-isteri yang diharapkan sampai tuntas, plus ada perasaan “I want to spend my life time loving u”. Kochai sendiri berpegangan sama petuah ibunya: “Kamu kalo pilih suami, pilihlah orang yang bisa kamu banggakan”. Untuk Kochai, hal ini bisa jadi indikator yang pas untuk menemukan dua hal itu. Kalo kita bangga sama pasangan, kita ga akan meremehkan dia. Dan akan jauh lebih mudah untuk mengalah sama orang yang ga kita remehkan (Apalagi buat cewek-cewek independen, penting bener ini!).

Daaaan, pandangan Kochai ini diamini oleh Mbah KOP, sesepuh plurker yang sudah sukses memiliki anak perempuan manis bernama Raina, juga seorang psikolog terpercaya 😀  Pandangan Kop,  kita di dunia ini kan gak sendiri, ada banyak orang maupun hal lain yang bisa mengubah perilaku kita. Takut susah ngalah?  Mungkin memang susah, tapi untuk orang yang berarti untuk kita, masa kita gak mo bela-belain? Takut susah nyatuin 2 isi kepala? Bisa jadipasangan yang isi kepalanya berbeda itu gak bakal kita pilih untuk dinikahi. Kop optimis, ketika kita sudah memilih pasangan, berarti itu memang yang sesuai dengan mau kita dan akan bermanfaat untuk kita di masa depan. Pada titik itu, mudah-mudahan segala kehawatirana akan pernikahan sudah bisa diminimalkan. Intinya, ketika kita bener-bener udah ketemu orang yang tepat, ngalah atau berbeda pendapat itu udah ga jd masalah lg.

Singkatnya, menikah itu emang berisiko. Apalagi ada faktor X yang berbeda-beda di tiap orang, dan itu juga termasuk komponen yang penting. Tapi justru disitulah kuncinya: Menikah itu memang sebagian gambling lho. Kita ga tau ke depannya pasangan kita kaya apa, tapi kita mau menerima risikonya. Penerimaan resiko untuk menikah inilah yang menjadi kunci kesiapan bagi kita untuk memutuskan menikah kelak.

Kalau kita merasa belum siap menikah, mungkin memang resikonya-lah yang belum bisa kita terima. Ga ada yang salah dengan itu, karena tiap orang punya rentang waktu kesiapan yang berbeda. Bisa jadi kita belum bertemu dengan orang yang tepat, punya ketakutan tersendiri, atau  memang  punya sesuatu yang menghambat proses kedewasaan dan kesiapan nikah kita. Yang penting adalah, kita tetap introspeksi dan selalu mengukur kemampuan kita sendiri.

Kalo masih takut, ga usah buru-buru menikah… Tapi kalau udah ketemu: JANGAN DITUNDA YAAA!!! *teteup*

………

Well, dari diskusi panjang ini gue dapet beberapa hal yang membuat gue jauh lebih tenang untuk mempersiapkan diri dan memikirkan maslaah pernikahan (lagian belum ada calonnya juga).  Sama seperti gue yang merasa dapat manfaat, semoga kalian yang membaca ini juga bisa ngedapetin manfaat yang sama. So, Enjoy your reading!

(Note: posting ini diambil dari diskusi thread di akun Plurk pribadi gue, dengan penyesuaian disana-sini. Thanks to all plurkers, especially Pingkan, Kochai, Kop n Dane. Enak yah kalo temen diskusi anak psikologi semua, hihihi)

So they say he/she’s the one when the heart & mind comes to an agreement. You can’t feel he/she’s the one if your mind doesn’t agree & vice versa

(From Pingkan, dari tweet nya Bijuk)

The (Wo)Man Who Can’t Be Moved

Yayaya, sebelum kalian bertanya, gue konfirmasi dulu:

Judul posting ini memang diambil dari salah satu lagu band favorit gue: The Script.

Band Irlandia ini sukses bikin gue muterin playlist mereka seharian di komputer kantor, dan The Man Who Can’t Be Moved memang salah satu lagu yang paling gue suka.

Tapi tenang, isi postingan bukan soal patah hati perkara asmara kayak lagu aslinya. Nah, jadi kenapa gue pake judul lagu itu buat postingan ini? Nanti gue kasih tahu  =)

*Warning: Ini adalah postingan  CURHAT yang  panjang. Kalau level kesabaran Anda cetek, mending jangan dilanjutkan* =p

Gue adalah anak bungsu. Bukan anak bungsu biasa, karena lahir di luar rencana. Usia gue terpaut  sangat jauh dengan tiga kakak yang lain. Sebagai bayangan, ketika tiga kakak gue sudah menginjak bangku kuliah, guenya masih… SD.

Nah, kebayang kan tuh gimana rasanya? Gue adalah satu-satunya anak kecil di rumah, dimana ketika kakak-kakak gue udah bolak-balik bawa pacar kerumah, gue masih sibuk ngejar soang di rumah tetangga… *mainan kok soang toh deeeees*

Perbedaan usia yang jauh ini cukup mempengaruhi pola dan kesempatan pengasuhan yang gue dapat. Waktu masih kecil, gue  mendapat pengawasan yang paling… longgar. Ga ada tuh ceritanya jadwal ketat bobo siang, atau dimarahin gara-gara jam 10 malem belom bobo. Beda banget sama kakak-kakak gue, yang dari ceritanya, selalu dapet jadwal teratur dan pengawasan dari bokap dan nyokap. Longgarnya ini juga bukan tanpa alasan. Waktu masih TK-SD, bokap dinas di Bangka, sementara kakak-kakak gue udah pada sekolah di Jakarta. Jadilah orangtua gue berbagi tugas, satu tinggal di Bangka, satu di Jakarta. Gue kebagian nemenin bokap. Ini berlangsung kira-kira 4-5 tahun, sampai akhirnya bokap bisa pindah tugas ke Jakarta.

Meski begitu, 4-5 tahun ini sangat berpengaruh buat kehidupan gue. Jauh dari nyokap, dan sering ditinggal kerja sama bokap, bikin gue terbiasa menentukan pilihan sendiri. These are the best gift from my parents: Freedom and Opportunity.

Ortu ga pernah protes sama apapun yang gue pilih atau pengenin, selama masih dalam lingkup batas yang wajar. Dan kebiasaan ini terbawa sampai gue besar dan pindah ke Jakarta

Gue harus selalu memilih sendiri. Sekolah mana yang gue mau, ekskul apa yang gue pengen, prestasi apa yang pengen gue kejar, itu harus dipikirin. Kalo bener ya, didukung. Kalo salah ya, dimarahin. Itu aja patokan gue semasa kecil. Ini bikin cara hidup gue lebih terbentuk jadi pola trial dan error: coba-salah-ulang-ambil/tinggalkan. Jarang banget gue diskusi sama yang lain, termasuk ortu dan keluarga.Malah ujung-ujungnya, kadang gue memaksakan apa yang gue pengenin. Ga heran kalo nyokap selalu bilang, gue adalah anaknya yang paling keras kepala  =))

Tapi dengan trial dan error ini, gue belajar banyak.  Meski kadang lebih banyak salahnya daripada benernya.

Ini kadang menjadi kekurangan terbesar gue. Daripada mencoba diskusi dan belajar dari kesalahan orang lain, gue kadang memilih untuk ngejalanin sendiri. Kalo pas lagi benar, ya rasanya gue keren banget. Tapi pas lagi salah ya rasanya juga kayak jadi orang paling goblok sedunia. Feel-nya kayaknya lebih dapet kalo udah dikerjain dan dirasain sendiri. Karena itu gue ga pernah melewatkan  kesempatan apapun yang lewat di depan gue, supaya gue selalu bisa belajar. Intinya, mampu ga mampu, yang penting coba dulu,  hahahaha  =p

Bisa jadi gue adalah seorang opportunis. Gue ga segan mengambil keputusan yang drastis, tapi itu pun bisa gue tinggalkan begitu saja ketika udah merasa ga cocok atau ga lagi bermanfaat.

Contoh paling ekstrem adalah soal keputusan gue tentang jilbab. Keputusan untuk memakai ataupun melepas jilbab, dua-duanya gue lakukan dengan keyakinan yang sama besarnya. Karena seperti yang gue bilang, satu-satunya cara yang gue pahami untuk ngejalanin hidup ya yang kaya begini. Trial dan error. Kudu dicoba, dipahami, dan dimengerti. Walau kadang mungkin salah, dan gue bakal kesandung sendiri.

Ini bukan hal yang bisa gue banggakan, tapi menurut gue ini juga bukan dosa. Kesempatan itu harus dicari, dalam konteks apapun. Cuma, kadang-kadang gue ngerasa hidup gue kayak terus-terusan berlari tanpa henti. Mengejar sesuatu mati-matian, tapi pas udah dapet malah langsung ngejar yang lain. Contohnya masa sekolah deh:

  • Lulus SD, gue mengejar SMP yang ada basket dan Tae Kwon Do-nya. Gue buktiin pilihan gue dengan ikut macam-macam pertandingan, walau gue tahu kemampuan gue pas-pasan.
  • SMA, gue pilih sekolah paling bagus yang sesuai ama NEM gue (ini keputusan paling naif, hahaha). Ini adalah masa-masa gue belajar paling tekun, ikut segala macem les. Taekwondo sama Basket? Berubah jadi sebatas hobi
  • Kuliah, gue memilih harus UI, dan hanya UI. Waktu itu gue pengen banget Psikologi, sementara nyokap pengennya gue di Kedokteran. Berhubung ga mau ngalah, gue ngerasa harus masuk kampus yang (katanya) terbaik di negeri ini, untuk buktiin kalau pilihan gue ga akan mengecewakan keluarga *Yeah, gengsi gue emang tinggi. Puas lo?* =p

Lepas dari alasannya, keputusan masuk UI itu emang tepat. Di kampus ini, gue dapet banyak banget pelajaran buat hidup.

Di UI, gue ga puas cuma kuliah, jadi ikut organisasi *ya ga jauh-jauh sih, Taekwondo sama BEM* =p  Disini gue ketemu banyak orang hebat, dan belajar nemuin jati diri. Ga puas ikut organisasi, gue nyari kerjaan dan belajar make uang hasil keringat  gue sendiri. Serabutan ikut proyekan or sambilan sana-sini.

Ga puas sekedar kerja, gue nyari yang spesifik bisa bikin gue ikut belajar sekaligus bikin orang lain belajar juga. Ini adalah saat-saat gue gabung di MPKT, nyambi belajar sambil jadi asisten dosen di kampus, dan kenalan sama metode E-learning.

Inilah saat-saat paling menyenangkan selama gue di kampus, karena gue memakai semua hal yang udah gue pelajari seumur hidup di dalam pekerjaan ini, juga ketemu orang-orang paling gokil untuk diajak kerja sama. Nyaman, sampe rasanya gue ga mau pergi dari kampus dan terus ada disana. Lulus, terus kerja sampe tua.

Tapi masih, rasa ga puas itu tetap ada. Gue masih penasaran dengan dunia yang ada di luar sana dan mutusin untuk cari kerja di luar, dan mulai lagi dari awal. Pengen hal yang baru. Pengen mengejar sesuatu, lagi.

Sampai akhirnya gue dapet kerja jadi HRD. Cuma dasar ga cocok,  gue keluar dan tiba di kerjaan gue sekarang, di tempat yang ga pernah gue sangka, dan jenis kerjaan yang ga pernah gue duga sebelumnya. I mean, cita-cita gue adalah jadi Psikolog. Siapa yang ngira gue bakal kerja di tipi, bagian riset pula?

Dan tiba di titik ini. Menjadi seseorang yang bener-bener beda dari yang gue bayangkan dulu.

Gue bersyukur Tuhan sudah membawa gue sampai kesini. Ngasih semua pengalaman ini. Tapi gue baru sadar, selama ini kerjaan gue cuma loncat dari sana kesini. Mengembangkan diri dengan hal-hal yang udah gue pilih, tapi sama sekali ga pernah mengembangkan pilihan yang gue ambil. Gue selalu memilih pergi ketika ada kesempatan lain yang lebih baik. Mengejar godaan yang terlihat lebih menggiurkan. Cuma kejar, dapet, terus dilepasin. Singkatnya kalo kata temen, gue itu punya masalah sama komitmen, dalam hal apapun (hahahaha) =p

Jadi gue memilih berhenti. Untuk saat ini. Gue rasa setelah terus-menerus mengejar waktu dan keinginan, sudah saatnya gue belajar untuk bertahan. Dan kantor gue sekarang adalah tempat yang paling kece bin komplit untuk memulai semua itu. Suasananya super duper menyenangkan, tapi deadline kerjanya lebih horor daripada dikejar-kejar setan. Kurang apa coba? Belajar komitmen di tempat ini ibarat pendekar kungfu yang lagi bertapa di gunung. Ditempa abiiiiiissssss *lebay*

Dan gue akan belajar, untuk tidak mengejar dan berpindah. Belajar untuk diam dan bersyukur.

Belajar untuk tidak bergerak dan fokus mengikat diri dengan pilihan yang gue ambil.

*Seperti lirik yang dibilang sama The Script: I’m The (wo) Man Who Can’t Be Moved*

(Nah, udah kejawab kan kenapa gue pake judul lagu ini? Hahahahaha) =D

Ya udah. Segini aja. Makasih lo babbling-an segini panjang masih tetep dibaca 😉

Welcoming Myself =)

It’s been a loooooooooong time since my last posting on this blog.

Hello Fellas  😉

 

Sekilas info untuk yang sudah lama tidak bertemu dengan gue:

Gue udah bukan mahasiswa. 7 bulan yang lalu Gue udah lulus dan sukses didepak keluar dari kampus kuning dibilangan Depok  sana (Tentunya dengan wisuda, walau sebenernya gue udah terancam drop out karena kuliah terlalu lama, hahaha). Ga menunggu lama dari wisuda, setelah kelar dari proyek serabutan sana-sini yang gue andalkan dari jaman masih mahasiswa, akhirnya gue dapat kerja. Jadi Recruiter HRD di sebuah kantor dibilangan Sudirman sana

 

Gawe euy! Jadi orang kantoran, yihaaaa!

 

Tapi ga lama, cuma dua setengah bulan (yeah, right…). Gue resign setelah sadar kalo gue sama sekali ga punya bakat jadi orang HRD dan juga karena gue ditawarin kerjaan di bidang yang paling gue sukain dari jaman masih kuliah tingkat 5, riset kualitatif.

Yep, Kualitatif. Bidang yang sama bertanggung jawab untuk kelulusan gue yang lama, karena gue kekeuh pake metode kualitatif walau itu bikin gue ngerjain skripsi ampe dua tahun lamanya. Padahal dengan waktu yang sama, temen gue yang lain udah bisa kerja, nikah, punya anak, atau bahkan lulus dari kuliah S2. Ini ampe lulus S2 lo, LULUS! *garuk-garuk tanah*

Untunglah di tempat kerja gue yang baru, perjuangan itu ga berakhir sia-sia. Gue pindah ke salah satu stasiun TV swasta nasional di Senayan sana, dan kerjaannya full pake metode kualitatif *yaaay!*

Nama keren bidang gue adalah Product Development, di divisi Research & Development (keren kan? keren kan? HAYO NGAKU!). Tapi sebenarnya tugas gue simpel: Nonton Tipi. Dari pagi sampe malam, hahahahaha =p

Tapi, ekor dari nonton tipi ini banyak: observasi, olah data, laporan, presentasi, daaaan mikirin gimana caranya itu data yang segambreng bisa dijadiin modal ide buat perkembangan berikutnya. (Plus mikirin lagi ide kalau ternyata usul kita ditolak or ga masuk hitungan. Sedih lo, uhuks).  Dan tentunya, karena ini media yang tayang 24 jam, kerja gue juga kadang ikutan jadi 24 jam.

Gue pikir skripsi adalah hal terakhir yang bisa bikin kepala gue nyaris botak. Tapi ternyata, kerjaan ini bikin skripsi gue serasa ga ada apa-apanya. But Thank God,  I love this job. Sebikin botak apapun, ini kerjaan selalu bikin gue ga sabar untuk bangun tiap hari, dan sukses menahan pantat gue di kantor sampe malam.

 

Jadi, Alhamdulillah buat kerjaan. Sejauh ini sepertinya gue berjalan di jalur yang benar, hehehe. Nah, kalo kabar hati gimana? *jengjengjeng*

 

Kabar hati sih baek. Udah pernah jatoh, remuk, kebakar,dan patah. Tapi alhamdulillah masih bisa dipake, walau kadang agak-agak konslet.

 

Jadi dengan keadaan tersebut, gue sampaikan kabar penting untuk kalian semua yang ada di luar sana, dan selama ini diam-diam ngefans sama gue: SAYAH MASIH JOMBLO. Single. Sorangan. Jadi kalo emang ada yang berani, cepetan dah sini gandeng sayah *ceritanya nantang, padahal mah ga ada yang ngefans juga*

Syaratnya gampang kok: harus gandeng pake dua tangan. Terlarang itu kalo saya digandeng cuma pake satu tangan, sementara tangan satunya dipake buat gandeng cewek lain *atau cowok lain, hahaha*. Gandeng part time, alias gantian sama yang lain juga ga boleh. Atau saya bakal putusin gandengan anda pake gergaji mesin *ceritanya ngancem*

 

Hehehe. Well, untuk urusan hati ini memang gak semulus urusan kerjaan. Setelah sukses patah hati ditinggal kawin sama Cinammon Man *dan denger-denger sih katanya dia udah punya anak*, saya masih belum kemana-mana. Belum minat nyari juga, mengingat kerjaan kayaknya belum bolehin saya mendua (jadi tantangan gandeng di paragraf atas sebenarnya boong, hahaha). Buat gue hal yang lebih penting dari cari pacar sekarang adalah: stabilin kerjaan dan ngurusin badan. Karena entah kenapa, pas skripsi berat gue naik 10 kilo dengan sukses, dan sudah 7 bulan berlalu itu berat masih ogah turun juga… *huweeeee*

Jadi kalo dirangkum, update dari gue selama 7 bulan terakhir adalah: lulus, dapet kerja, resign, dapet kerja lagi, dan masih bertahan jadi single fighter. Ga banyak perubahan sebenernya, tapi tetap aja butuh banyak penyesuaian. Gue sedang berubah ke bentuk yang baru, walaupun sebenarnya isinya masih tetap Desy yang dulu. Belum terlalu nyaman, karena kadang gue masih pengen nambah atau ngurangin ini itu. Tapi, hidup itu soal proses kan ya? Mau lambat atau cepat, maju atau mundur, banyak berubah atau cuma sedikit, yang penting disyukuri dan dinikmati, betul gak?

So, I’m Welcoming Myself. Into a New Life. Belajar jadi dewasa walau kadang pun sebenarnya gue tetep pengen jadi anak manja. Belajar sabar sekaligus mencoba lebih berani dari sebelumnya.

Dan gue juga belajar kalau ga semua orang bisa ngerti dengan perubahan ini. Karena kadang gue pun ga ngerti sama diri sendiri. Gue cuma bisa berharap semua tetep bisa berjalan dengan baik, seperti apapun keadaannya nanti…

Dan… gue merasa makin lama kok postingannya jadi mellow yaaaa. Gimana kalo diselesaikan aja? Gue ga terlalu bakat nulis, jadi lo semua pasti sadar kalo paragraf-paragraf terakhir udah melenceng jauh dari paragraf-paragraf sebelumnya, hahahaha.

So, it’s the end. I’ll see you again on next posting! 😉

 

*Oh, and by the way. Buat semua yang masih nanya kenapa gue tiba-tiba lepas kerudung: Helloooo, gue udah lepas kerudung DUA TAHUN!

Kalo itu bentuk perhatian, agak-agak telat yaaaa. Jadi jangan dibahas lagi karena gue udah ribuan kali membahas soal itu. Ini proses hidup gue, dan gue punya alasan sendiri. Kalaupun lo semua masih ga setuju, setidaknya cobalah hargai keputusan gue. Benar atau salahnya toh gue yang akan tanggung, ok? Ciaaaaaoooooooo!*

Lost

Apa yang paling menyesakkan dari rasa kehilangan?

Kenyataan, bahwa hal yang hilang itu pernah menjadi milik kita

Satu hal lucu yang selalu terjadi ketika kita menyendiri adalah, sesungguhnya kita tetap berada di tengah keramaian yang tak terhindarkan: Kenangan. Berterima kasihlah pada otak yang tak pernah berhenti berpikir, mengulang semua kejadian dalam hidup, mendatangkan semua hal yang pernah mengisi kehidupan kita. Mengingatkan akan semua hal yang pernah ada dalam genggaman.

Disinilah, ketika kita menyendiri, rasa kehilangan itu akan menyergap datang. Menjadi kawan yang tidak diinginkan, dan ingin kita enyahkan. Padahal kita sendiri yang memanggil rasa kehilangan itu, dengan semua campur tangan kita.

Hilang selalu berawal dari Ada. Ketika kita memilikinya, apapun itu.

Dan memiliki, tidak pernah menjadi sesuatu yang sederhana.

Bicaralah tentang memiliki, dan kenangan akan membawamu pada satu titik pertemuan: Awal. Dari segalanya.

Kita membicarakan tentang lahirnya sebuah niat, dengan berbagai tujuan. Niat yang kemudian membawa kita pada perjalanan. Sebuah proses. Dengan setiap halangan dan rintangannya. Dengan setiap perhentian ketika kita merasa lelah, dan bangkit kembali setelah kita merasa kuat. Kita meneruskan semua perjalanan, untuk mendatanginya. Mencapai keinginan. Memeluk impian.

Memilikinya. Dalam wujud. Ada, dalam genggaman kita.

Bukankah sudah kukatakan, bahwa memiliki tidaklah pernah sederhana?

Lalu bagaimana sesuatu bisa lepas dari genggaman kita?

Karena kita tidak mampu? Atau tidak pantas?

Karena kita salah? Atau lemah?

Atau karena hal tersebut bukanlah hak kita?

Namun jika jawaban semua tanya tersebut adalah iya, kenapa kita pernah mendapatkannya?

Sungguh, aku ingin menyepi dalam kesendirian yang sesungguhnya. Tanpa sergapan kenangan. Tanpa rasa kehilangan.

Aku hanya ingin sendiri, tanpa merasa kesepian…

Pinky Cheek =)

Sore tadi, gue ga sengaja nonton Bernard Bear. Ceritanya tentang si Bernard yang lagi maen basket, dan berusaha ngelakuin lemparan free throw ke ring basket berkali-kali. Tapi sayangnya, itu bola basket cuma mantul-mantul ngejek seolah-olah lemparannya masuk, tapi abis itu langsung mental tanpa skor sama sekali. Ngeselin abis tuh pasti =))

Tapi, adegan itu bikin gue teringat sama salah satu kejadian malu-maluin di jaman SMP. Kejadiannya sama, praktek lemparan free throw waktu jam pelajaran olahraga, di lapangan sekolah.

Waktu itu ceritanya udah praktek untuk ngambil nilai. Setiap anak dikasih 2 set free throw, masing-masing set berisi 5 lemparan. Set pertama untuk percobaan, dan set kedua untuk nilai yang sebenarnya.

Dan, datanglah giliran gue yang diambil nilainya. Gue yang waktu itu lagi seneng-senengnya sama basket, dengan semangat 45 langsung ngambil bola dan mulai melakukan set pertama, untuk lemparan percobaan.

And guess what? Dari 5 lemparan, semuanya masuk! Mulus, bersih, tanpa mantul, dan langsung menuju lubang ring. Keren deh pokoknya *yeah, right. Narsis dikit ga papa lah yaaaa* 😉

Selama sepersekian detik, tingkat kejumawaan gue meningkat drastis. Guru nepok-nepok pundak gue, dan temen-temen sekelas langsung pada bersorak sambil siul susahsuit prikitiw buat nyemangatin gue di set pengambilan nilai. Beuh, udah berasa kaya jadi MVP =p

Jadi gue tepe-tepe dikit lah yaaa. Sok-sok dribble sambil narik napas dramatis sembari tengak-tengok kanan kiri. Dan ditengah ke-tepe-an itu, gue ga sengaja nengok ke sekumpulan anak cowo yang baru aja muncul trus mejeng depan pintu kelasnya di lantai atas, nontonin kelas gue yang lagi ambil nilai.

Dan ada gebetan gue disana. Ikut nonton.

Gue menatap matanya ga sampe sedetik, tapi efeknya bener-bener dahsyat. Lutut gue langsung lemes, bola langsung terasa licin, dan ring basket langsung berasa berkilo-kilo jauhnya. Gugup dahsyat men. Luntur abis deh semua ke-tepe-an gue

Dan hasilnya?

Jomplang! Dari 5 lemparan, cuma 1 yang masuk *sigh*. 4 lemparan sisanya kalo ga melenceng, ya mantul kaya bolanya si Bernard Bear. Sorakan langsung berubah jadi tertawaan ketika semuanya melihat gue ngejar-ngejar bola ke ujung lapangan gara-gara kepantul papan ring. Dan temen gue yang tau alasan kegugupan gue, langsung ngeledekin abis-abisan di depan semua anak. Spontanlah satu kelas nengok semua ke lantai atas, terus nengok ke muka gue, dan makin ketawa menjadi-jadi. Gebetan yang kayaknya sadar lagi diliatin pun akhirnya masuk lagi ke kelas. Bagoooos, lengkap bener dah malunya! T_T

Well, It was a loooooong time ago. Tapi gue masih inget bener rasanya waktu itu, campur aduk! Gugup, malu, nilai jelek, plus diledek, semua gara-gara kemunculan si gebetan yang bahkan ga sampe tiga menit! Kemunculan yang bikin jantung gue terasa mau copot, dengkul lemes, dan pengen ngilang seketika *tapi sekaligus pengen nyamperin dia juga* :p

Kemunculan yang bikin gue tahu, seperti apa tubuh gue bereaksi kalo ketemu sama orang yang gue suka.

Itu kali ya yang namanya jaman cinta monyet. Jaman dimana perasaan dan emosi jauh mendahului logika. Jaman dimana pipi gue bisa bersemu merah cuma gara-gara gugup ketemu gebetan. Ngerasain deg-degan parah yang bikin jantung lo bener-bener terasa mau keluar dari dalem dada.

Tapi itu dulu. Sekarang? Well, gue udah jauh berubah. Boro-boro deg-degan, bahkan mau naksir dan ngegebet pun kadang masih mikir-mikir dulu. Semua sikap, perasaan dan ekspresi gue jadi lebih terkontrol, dan gue cukup nyaman dengan itu semua. Cuma… Kok rasanya jadi kurang seru. Rada-rada kurang spontan gimanaaa gitu. Dan jujur, gue merindukan masa-masa cinta monyet bego nan culun itu :-p

Can I make a wish? To have such a strong feeling like that, again? With the right man?

Okeh. Abis nonton kartun gue malah meracau buka aib sendiri soal cinta-cintaannya si monyet *Beruang ke monyet. Jauh bener, Nyet!*.
Enough babbling, dadah semuah! 😉

Posted with WordPress for BlackBerry.

Membagi Satu

Sampai detik ini, aku masih tidak bisa menemukan kata-kata untuk bicara. Apa yang sudah kulewati, bagaimana setiap hariku membentuk pola-pola yang tergambar menjadi sesuatu yang begitu jelas, sekaligus tak nampak.

Apa yang akan muncul di depan, kita tak akan pernah tahu.

Yang aku tahu hanya bergerak. Kadang melihat ke belakang. Kadang terdiam sesaat menerima tanpa daya, karena menyesal bukanlah pilihan.

Kadang aku mengingat Kau, Mereka, dan Aku yang dahulu. Semua yang dahulu berarak, kini seperti helai-helai bulu yang terlepas dari sayap. Kita semua akan jatuh dan menginjak bumi yang sama. Meski tetap ada tanya: masih utuhkah setiap helai-helai bulu yang terlepas ketika menyentuh tanah?

Masih utuhkah diri kita di ujung perjalanan kelak?

Entah bagaimana aku akan menjawabnya saat itu. Bukan pada siapa-siapa, tapi hanya kepada diriku. Pada Aku yang menanti diujung perjalanan. Pada Aku yang menanti dalam cemas dan penuh harap. Menanti bayangannya yang semakin memendek, mendekati ujung cahaya sebelum redup.

aku butuh waktu.

Namun satu yang luput dari sadarku

waktu tak pernah membutuhkan aku

Posted with WordPress for BlackBerry.

My Cinnamon Man

Tulisan ini tentang Dia. Pertama, dan terakhir kalinya tentang Dia.

Gue pernah membaca sebuah artikel lucu. Tertulis bahwa pernah ada penelitian yang menyatakan, ketika seorang perempuan jatuh cinta, dia akan mencium satu wangi khas dari lelaki yang dia cintai.

Wangi Cinnamon. Kayu Manis. Dengan kekhasan aromanya yang begitu manis dan kuat. Wangi yang memberi rasa nyaman dan hangat.

Gue tidak tahu benar atau tidaknya, dan gw lupa dimana harus mencarinya lagi. Tapi karena toh gue belum pernah menemukan artikel lain yang mengatakan sebaliknya, jadi kita anggap saja itu benar, paling tidak untuk sementara.

Sampai dimana kita tadi? Ah ya, Cinnamon. Kayu manis. Gue tadinya ga percaya dengan hal ini, karena gue ga pernah mengalaminya sama sekali. Tadinya begitu, sampai gw bertemu dengan Dia. Si Lelaki dengan wangi Cinnamon ini.

Lucu, karena dia bukan lelaki pertama yang hadir dalam hidup gue. Dan gue sudah bukan lagi anak kemarin sore yang baru belajar naksir-naksiran ala cinta monyet. Sebelumnya gue sudah pernah merasakan cinta yang (sepertinya) sungguhan. Dan itu perasaan yang serius. Tapi sekali lagi, wangi itu cuma gue temukan di Lelaki ini.

Bagaimana wangi itu bisa muncul? Entah. Mungkin itu aroma alami tubuhnya. Mungkin itu wangi parfumnya. Atau mungkin benar, wangi itu adalah sinyal biologis yang diberikan otak gue untuk menyatakan bahwa gue cinta Dia. Tapi, apa wanginya yang membuat gue jatuh cinta?

Bukan. Wangi itu baru gue sadari belakangan. Sebelum sadar pun, sudah terlalu banyak hal menakjubkan yang membuat gue ga punya kuasa untuk berpaling dari Dia.

Senyumnya. Keanehannya. Kebawelannya. Kekonyolannya. Genggaman hangatnya. Cara dia membalikkan badan ketika gue memanggil namanya. Cara dia menirukan kebiasaan gue yang suka mendongakkan kepala sambil bertanya menantang: Apa?!

Cara dia membuat gue tertawa. Kemampuannya bertahan adu argumen selama berjam-jam. Kemampuannya untuk berlama-lama terdiam dan bersandar disamping gue (without words at all, but feels so peace..). Keras kepalanya yang ga boleh dibantah kalo lagi pengen ketemu. Ke-jumawa-annya. Telepon absennya. YM colongan ditengah deadline kerjanya. Obrolan gila di perjalanan dengan motornya.

Kacamatanya. Celana pendek dan rompi motor “Perang”nya. Kemeja berantakan setelah pulang kerja-nya *actually, he always looks so damn good with whatever he wear ;)* Es telernya yang dibagi dua (tapi karena kurang akhirnya beli lagi, hahahaha). Bawaan sarapan nasi gorengnya (padahal kan mestinya gue yang bikinin buat dia :p). Jemputannya tiap gue pulang latian. Omelannya. Marahnya. Tangisnya. Semuanya. Semua kesediaan dia melihat semua sisi diri gue, dan disisi lain juga membuka seluruh sisi dirinya, dan mencuri sepi dari seluruh waktu gue.

Bahkan dia mengebut gila-gilaan, menempuh jarak setengah jam menjadi 10 menit, demi menenangkan gue yang menangis ketakutan karena habis diganggu di kereta. Lantas memeluk gue tanpa banyak bertanya, dan menemani sampai gemetar gue hilang. Sampai airmata kering. Dan baru pulang ketika gue sudah bisa tertawa.

Jatuh cinta adalah hal paling masuk akal yang terjadi bukan? Masuk akal jika yang gue hadapi adalah lelaki seperti dia. Lelaki yang selalu menjadi dirinya sendiri ketika berada di hadapan gue.

Dan patah hati berdarah-darah juga terasa masuk akal ketika gue kehilangan Dia

Everything is perfect. Semua. Kecuali takdir yang ga mau berkata sama. Dan kami pun berpisah, dengan cara baik-baik. Sambil saling berjanji akan menata dan menyembuhkan hati masing-masing secepatnya.
Juga berjanji akan menjaga kesadaran masing-masing tetap berada di ambang waras, benar bukan? =)

Sepertinya usaha itu lancar-lancar saja. Sebelum dengan Dia, jika dulu gue putus cinta maka gue akan menangis, nyaris setiap hari. Mengeluarkan luka, mengusir bekas kehadiran isi hati yang pernah ada..

Tapi kehilangan Dia beda. Nyaris tak ada tangis, bahkan di hari terakhir gue melihatnya. Gue tetap melewati hari seperti biasa. Berusaha menganggap semua baik-baik saja.

Dan semuanya baik. Semua. Kecuali fakta bahwa dia datang di setiap mimpi gue dikala malam. Di luar kuasa kesadaran gue, tanpa bisa gue hentikan.
Well, meski begitu gue kira semua tetap baik-baik saja. Paling tidak itu yang gue katakan berulangkali pada diri sendiri, setiap terbangun dari mimpi melihatnya.

Gue sudah berusaha maksimal, tapi ternyata kali ini butuh lebih dari sekedar maksimal. Maka gue butuh lebih banyak bantuan dari Waktu. Juga ruang hati yang lebih lapang lagi dari sebelum-sebelumnya. Mungkin kelak, jika gue bersabar, Dia akan berbaik hati pula pergi dari mimpi gue, sama seperti kini Dia sudah menghilang dari pandangan gue.

Maka gue akan menunggu hari itu tiba. Hari dimana wangi kayu manis tak akan lagi tercium walau gue bertemu kembali dengan Dia. Hari dimana gue akan kembali menatap matanya, dan tersenyum, tanpa rasa perih.

Dan sampai hari itu tiba, sepertinya kamu masih akan menjadi Lelaki Kayu Manisku, Bocah Tua Gila…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Post Navigation