A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Archive for the tag “Sherlock Holmes”

My New Love

Please, see the difference….

This Is GOOD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

But this one….

This is GOD!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Arch-Enemy

This is Professor

This Is TRUE EVIL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Complex Brother

This is Clown

This is GENIUS!!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

And, The Lady, the one and only….

This Is Sherlock's Woman

This Is Irene Adler. THE WOMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita yang keren, gambar yang oke, scoring musik hebat, dan eksekusi yang gila, gila, gila mampus!

Ga tahu gimana cara ngungkapinnya. Tapi series “Sherlock” yang ini bahkan bisa bikin gue percaya, kalo Sherlock Holmes itu bener-bener ada. Nyata.

Nyata

Oh My God, Sherlock bener-bener adaaaaaaaaaa!!!!!
*babbling*

A Game of Shadow: Sherlock? or No Sherlock?

Finally, another blog post!
Sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah terlalu lama absen dari blog ini. Kalo mau dijabarin alasannya sih, klise: Kerjaan, hahaha. Pekerjaan saya yang sekarang menuntut waktu yang cukup banyak, jadi yah… persoalan tulis menulis jadinya hanya timbul tenggelam sebatas keinginan =)

Tapi kali ini saya tak tahan. Gatal rasanya ingin komentar mengenai film dari detektif kesayangan saya sepanjang masa: Sherlock Holmes. Yep, that Sherlock. Si gila analisis dari Baker Street, yang baru-baru ini diangkat kembali menjadi film, dengan sutradara Guy Ritchie. Sukses dengan film pertama di 2009, Guy Ritchie membuat sekuelnya yang rilis di akhir tahun 2011: A Game of Shadow. Tadinya tulisan ini saya maksudkan untuk review film kedua saja, namun ternyata sudah cukup banyak yang menulis reviewnya di internet. Jadi saya putuskan, tulisan ini akan lebih memaparkan pendapat pribadi saya, soal film Sherlock Holmes versi Guy Ritchie, baik yang pertama maupun yang kedua. Berhubung saya juga suka sama novelnya, tulisan ini akan jadi sedikit panjang karena saya juga mau bandingin dengan versi bukunya. SPOILER ALERT!!  So,enjoy your reading! 😀

Nah, kita bicara dulu soal film pertama.

Jadi, sejak awal film ini sudah mencuri perhatian saya dengan teaser posternya, menampilkan Robert Downey, Jr sebagai Sherlock Holmes dan Jude Law sebagai Dr. Watson

Dynamic Duo =D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Padahal, image Sherlock yang melekat di otak selama ini tuh kaya GINI:

Sherlock Holmes versi tahun 1939, diperankan Basil Rathbone

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jujur aja, saya ngefans berat sama Robert Downey, Jr sejak jaman smp waktu dia masih jadi figuran di serial Ally McBeal. Jadi seneng banget pas dia main film lagi. Tapi… jadi SHERLOCK HOLMES?? bareng Jude Law??

Yang pertama terlintas di pikiran saya tuh cuma satu: Ini castingnya ketuker apa gimana???

Kenapa gak Jude Law aja yang jadi Sherlock? Lebih terlihat aristokrat, plus tampang cerdas dan tajam. Image sekilasnya jelas jauh lebih mendekati versi Rathbone. Image Robert buat saya lebih mendekati Dr. Watson, si tukang cerita.  Kenapa malah dibalik???

Walhasil saya deg-degan parah waktu nonton yang pertama, takut ga sesuai sama harapan dan tokoh Sherlock Holmes + Watson bakal hancur ditangan mereka. BUT THEY ARE ROCKS!

Di novel, Sherlock itu gambaran sehari-harinya emang pecandu kokain, agak nyentrik, suka bikin eksperimen aneh, dan tukang menyendiri di kamar. Dia baru bisa “Normal” kalau udah ketemu kasus. Makin ribet kasusnya, makin waraslah dia. Nah, Robert berhasil banget ngangkat sisi lain kepribadian Holmes, dan kita kayak diseret masuk dalam kehidupan Holmes untuk memahami asyiknya hari-hari Holmes, serta keceriaannya. Selama ini kalau dengar kata penyendiri, pecandu kokain, dan tukang eksperimen, maka hidup Sherlock yang dulu terpikir oleh saya adalah hidup yang suasananya yang super serius, suram dan misterius. Tampangnya Basil Rathbone tuh udah menjelaskan semuanya deh.

Nah, Sherlock versinya Robert itu super bohemian, beda banget sama bayangan saya. Tapi justru karakternya Holmes banget, keren deh! Jude Law juga ga kalah keren menampilkan versi Dr. Watson-nya. Lebih hidup, lebih bijak, lebih sentimentil, dan lebih helpful buat Sherlock. Perspektif baru, tapi justru mereka berdua lebih persiiiiis kaya di novel. Saya jatuh cinta sama akting dan chemistry mereka berdua, baik di film ke 1 maupun yang ke 2.

Adegan-adegannya juga keren, menggambarkan dengan sangat baik bagaimana metode analisa deduksi yang dipakai Sherlock. Guy Ritchie membuat filmnya sangat layak untuk ditonton, termasuk oleh para penggemar novel Sherlock Holmes. Cerita yang diangkat setahu saya memang bukan seperti novel asli karangan Arthur Conan Doyle, si Pencipta Holmes. Tapi gaya penceritaannya cukup dipertahankan.

Cuma satu hal yang membuat saya kesal dari film pertama: penggambaran tokoh Irene Adler (pacar Sherlock)  dan Mary Watson (tunangan Dr.Watson, selanjutnya menikah di flm kedua). Well, karakternya sih pas. Tapi, saya kesal parah dengan penggambaran hubungan cinta Adler-Holmes yang BEDA BANGET sama novelnya (mohon maaf kalau lebay, tapi ini benar-benar menyiksa saya sepanjang film, hahaha :p ). Di novel, hubungan mereka ga pernah seintens itu. Irene Adler hanya muncul sekilas di cerita “Skandal Raja Bohemia”.  Di situ, Holmes-Adler saling menipu dan saling memperdaya, juga saling mengagumi hasil kerja masing-masing. Holmes sangat dingin pada wanita. Tapi dia mengagumi Adler sebagai satu-satunya wanita yang bisa memakai logika setara dengan dirinya. Hanya itu, Holmes sebatas kagum. Bukan bisa dikendalikan penuh oleh Adler seperti di film ini. (Ga ada tuh ceritanya Holmes stress ditinggal Adler, no waaaaayyy). Sementara untuk tokoh Mary Watson… Well, sepele sih. Saya cuma kesal, karena Watson yang mengenalkan Mary kepada Holmes. Padahal di novelnya, justru Holmes yang mengenalkan Mary ke Watson, karena Mary adalah Klien Holmes! (Mereka berkenalan di salah satu kasus Sherlock Holmes;“Empat Tanda Tangan”).  Itu detail yang kecil, tapi penting buat saya. Salah menggambarkan itu, buat saya jadi semacam dosa karena seperti merusak cerita dan sejarah Sherlock Holmes-Watson… *Lebay ya? Maap, hahaha*

Jadi intinya,untuk saya film pertama sangat keren dari sisi eksekusi akting dan adegan. Penonton yang tidak baca novelnya pun bisa terhibur. Tapi cerita yang digunakan terlalu menyimpang dari novelnya. Interpretasinya terlalu bebas, dan cukup mengganggu di beberapa bagian.

Lalu datang film kedua, A Game of Shadow. Berbeda dengan film pertama yang memberi cerita baru, sekuel Sherlock Holmes ini lebih mengadaptasi salah satu cerita asli dari novelnya. Tak tanggung-tanggung, yang diadaptasi adalah kasus terakhir dari Sherlock Holmes, melawan Profesor Moriarty yang disebut Napoleon Dunia Kejahatan. Kasus ini dibuat oleh Arthur Conan Doyle sebagai penutup dari keseluruhan kisah Sherlock, yang berakhir dengan kematiannya. Seperti cerita Superman yang meninggal saat melawan Doomsday di pertarungan terakhir mereka, Holmes dan Moriarty menemui ajalnya lewat pertarungan sengit di air terjun Reichenbach, dimana mereka berdua sama-sama jatuh di air terjun tersebut.

Arthur Conan Doyle membuat cerita tersebut ketika sudah terlalu lelah menangani kisah Holmes, sehingga memutuskan untuk menghadirkan musuh kuat yang berimbang dengan semua kemampuan detektif ciptaannya tersebut. Profesor Moriarty akhirnya dimunculkan sebagai karakter profesor senior, dosen matematika jenius yang terkenal, dengan kemampuan perencanaan kejahatan yang sulit diselidiki oleh detektif sekaliber Holmes sekalipun. Dia juga mantan juara tinju saat masih menjadi mahasiswa. Sungguh lawan yang sangat sempurna untuk mengantar Holmes pada kematiannya. Namun kematian Sherlock Holmes rupanya menuai protes dari penggemarnya, sehingga Conan Doyle memutuskan untuk menghidupkan kembali Sherlock Holmes dalam beberapa kisah, lalu membuatnya pensiun sebagai petani lebah setelah beberapa waktu.

“The Final Problem” adalah salah satu kisah Sherlock yang paling terkenal, dan menurut saya menjadi pilihan yang sangat beresiko ketika akhirnya diputuskan untuk diangkat menjadi film. Dan memang, pada akhirnya cerita yang diangkat memang tidak persis cerita asli. A Game of Shadow hanya mengangkat karakter Profesor Moriarty serta menghadirkan pertarungan legendaris di air terjun Reichenbach. Pertarungannya sendiri tidak sedramatis dan sengit seperti yang digambarkan di novel, tapi usaha Guy Ritchie menampilkan proses menuju pertarungan tersebut patut diacungi jempol. Seluruh persaingan Sherlock-Moriarty jelang adegan air terjun disampaikan lewat sebuah pertandingan catur sederhana, tapi dengan dial0g-dialog yang kuat dan menjadi puncak pertarungan mereka (Yep, catur. Aslinya sih ga ada di novel, tapi pas banget buat menggambarkan pertarungan dua orang gila analisis macam mereka berdua)

Hal yang menarik dari film kedua ini adalah, penggambaran kemampuan Holmes yang sangat berbeda dari film pertama. Jika di film pertama Holmes digambarkan sangat sempurna, dengan analisis yang akurat dan setiap detail penyelidikan tidak ada yang sia-sia. Sedangkan di film kedua, Holmes justru digambarkan nyaris selalu SALAH dalam setiap analisis utamanya. Holmes digambarkan melemah, dan hal ini tentunya dilakukan untuk memperkuat kesan bahwa Profesor Moriarty adalah musuh yang tak terkalahkan sehingga membuat Holmes begitu lengah.

Ini adalah cara instan yang dipilih untuk menampilkan kesetaraan kekuatan Holmes-Moriarty dalam waktu singkat. Menurut saya, ini sah-sah saja. Cara ini juga akhirnya mampu menampilkan sisi emosional dari hubungan Holmes dan sahabatnya Watson, sehingga penonton bisa lebih melihat sedalam apa hubungan persahabatan mereka, yang bisa mengalahkan hubungan saudara sekalipun. Yep, film kedua ini lebih menjual cerita dan sisi emosi Sherlock. Sangat berbeda dengan film pertama yang menonjolkan ketajaman analisis dan kehebatan Sherlock lewat adegan berantai yang disusun dengan sangat rapi. Film kedua ini seperti melengkapi bagian diri Sherlock yang belum sempat ditampilkan di film pertama, dan anda harus lebih berpikir serius saat menontonnya.

Ya, film kedua ini lebih serius dan lebih emosional. Tapi tetap jenaka. Apalagi dengan kehadiran Mycroft Holmes, kakak kandung Sherlock yang tak kalah nyentrik dan jeniusnya. Pernikahan Watson-Mary juga menjadi bumbu yang cukup segar di dalam film ini, untuk menonjolkan seberapa posesifnya Sherlock terhadap Watson, partner abadinya sepanjang masa. Rangkaian  adegan berantai yang rapi untuk menampilkan analisis Sherlock juga masih ditampilkan, tapi efeknya sangat berbeda dengan film pertama. Scoring musiknya juga masih tetap khas seperti film pertama.  Dan yang paling membuat saya senang, perasaan Sherlock Holmes terhadap Irene Adler akhirnya ditampilkan dengan gambaran yang lebih mendekati versi novel. Lihatlah adegan Sherlock Holmes di kapal saat dia membuang saputangan Adler yang meninggal karena dibunuh Moriarty. Seperti itulah seharusnya cara Holmes menangani perasaan kagum dan cintanya kepada Adler

Dari segi cerita, saya jauh lebih senang menonton yang kedua. Semata karena lebih mendekati versi novel, walaupun memang hanya sebatas adaptasi, bukan menggambarkan ulang (Interpretasi film kedua ini ga sekurang ajar film pertama dari versi novelnya, hahahaha =p ). Satu-satunya yang agak kurang sesuai dengan harapan saya adalah pemilihan Jared Haris sebagai karakter Profesor Moriarty. Well, jeniusnya sih dapet. Tapi licik dan jahatnya… agak kurang. Jared is An Evil Professor, but not Moriarty. Andai Sherlock tidak ditampilkan melemah dan membuat banyak kesalahan di film ini, niscaya Moriarty versi Jared akan lemah dihadapan kekuatan analisis Sherlock Holmes. Bayangan saya tuh, Moriarty itu seperti Hannibal Lecternya Anthony Hopkins. Tampang ga perlu serem, tapi aura jahatnya kerasa banget. Mark Strong yang jadi Lord Blackwood di film pertama lebih pas jadi Moriarty. Atau kalau mau sekalian bikin versi baru Moriarty, rasanya Robin William akan jauh lebih pas.

Well, diluar kekurangan dan kelebihannya, film Sherlock Holmes yang kedua ini tetap saja menghibur dan patut diacungi jempol. Baik pembaca novel Sherlock Holmes maupun penonton awam akan sama-sama menikmati film ini. It’s Less Ritchie, More Doyle, but still, Lovely Holmes. Yang jelas, nampaknya film Sherlock Holmes ini masih bisa dibuat film ketiganya. Masih ada kisah perkenalan Holmes-Watson yang tak kalah menarik untuk ditampilkan di film, juga kasus-kasus lain yang cukup spektakuler. Kita tunggu saja kelanjutannya 😉

Post Navigation