A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Archive for the month “June, 2010”

Is God (also) Affraid of Being Lonely?

Sebenarnya, ini tulisan lama. Tulisan ketika gw masih semester 5. Tapi proses pencariannya masih berlangsung sampai sekarang. Ada beberapa pandangan yang sudah berubah, tapi pertanyaan utamanya masih belum terjawab. Bahkan sebenarnya, gw ragu apakah pertanyaannya bisa terjawab atau tidak. But, who knows?

For me, this is my self reminder. For you, well, just another notes to share. Enjoy!

Apa Tuhan (juga) Takut Kesepian?

Suka nonton Smallville?

di salah satu episode di Season 5 yang judulnya ”Lexmas”, ada cerita tentang mimpi yang dialami Lex Luthor pada saat koma di malam natal (Lex abis dirampok n ngalamin luka parah ampe koma).

Pada mimpi itu, dia ditunjukin kebahagiaan yang bisa dia dapatkan jika dia memutuskan untuk menjadi orang baik. Keluarga yang hangat, teman-teman n lingkungan yang ramah, penghargaan dari orang-orang sekitarnya, anak-anak yang sangat dekat sama dia, dan pesta natal lengkap dengan pohon natal di rumah yang selama ini dia idam-idamkan. Semua kebahagiaan itu bisa dia dapat kalo dia mau melepaskan kekuasaan dan kekayaan, hidup menjadi orang biasa aja, dan menjadi jujur.

Tapi.., tiba2 Lana Lang yang didalem mimpi jadi istri Lex, sekarat karena habis melahirkan anak mereka yang ketiga. Terus Lex bingung, n akhirnya minta bantuan sama bokapnya yang dia khianati beberapa tahun lalu (dalem mimpi ceritanya Lex berkhianat sama bokapnya supaya bisa ngelepasin diri dari kehidupannya sebagai seorang Luthor), supaya mau minjemin helikopternya, biar bisa membawa Lana ke rumah sakit lain yang peralatannya lebih canggih. Bokapnya jelas ga mau toh? Akhirmya Lana meninggal (dalam mimpinya loh! kalo aslinya ampe season 8 dia masih idup!), dan kemudian…. Lex bangun dari koma, sekaligus bangun dari mimpinya yang mestinya indah itu.

Mestinya? yup, buat Lex itu jadi mimpi buruk, karena pada akhirnya dia kehilangan Lana. Hakikatnya sih, sebenarnya pelajaran yang bisa dia ambil dari mimpinya itu, dia bisa hidup bahagia dengan jadi orang yang baik dan jujur, meskipun waktunya terbatas karena manusia suatu saat toh pasti akan mati. Tapi Lex terlalu fokus sama kematian Lana di bagian akhir mimpinya, dan malah jadi punya pendapat, dengan kehilangan kekuasaan, dia akan kehilangan semuanya. karena kalo dia punya kekuasaan, kemungkinan matinya Lana karena kurangnya fasilitas kesehatan yang canggih ga bakal kejadian. Akhirnya, setelah mimpi itu dia malah memantapkan diri untuk mengajukan diri jadi senator, dengan segala cara sekaligus intrik yang sangat khas dengan gaya LUTHOR.

Pemikiran Lex simple aja: dia ga mau kehilangan apa yang dia miliki, termasuk orang yang dia cintai. Dia ingin memiliki Lana selamanya, dan ga boleh ada siapapun yang merebutnya, termasuk kematian. Intinya, dengan kekuasaan, dia bahkan berani menantang kematian. Dan akhirnya, dia memilih untuk tetap menjadi orang jahat, karena dia akan tetap berkuasa (yah, udah ketebak sih. soalnya kalo dia jadi baik, musuh superman entar sapa dong?).

Semua itu dilakukan semata-mata karena Lex ga mau kesepian, dan dia akan melakukan apapun untuk membeli kebahagiaan.

Itu kalo Lex Luthor. Terus, apa kaitannya sama Tuhan? Well, jelas Lex ga sama dengan Tuhan (walaupun dia bertindak seolah menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri), dan jelas ga akan bisa menyamai Tuhan sampe kapanpun. Tuhan ga perlu usaha untuk berkuasa, karena dengan sendirinya dia emang Maha Kuasa. Buktinya, dia menciptakan dunia dengan segala isinya, serta mengisi ruang antara bumi dan langit yang luasnya maha dahsyat. Dia menciptakan manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan dia mengetahui dan merencanakan setiap kejadian dalam kehidupan sampai sekecil-kecilnya, juga. pokoknya, semua ciptaannya PERFECT deh!

Tapi pertanyaannya sekarang: BUAT APA?

Tuhan tidak membutuhkan dunia dan segala isinya. Bahkan tanpa menciptakan apapun, Tuhan akan tetap menjadi Sang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Terus buat apa Dia menciptakan alam semesta? Bukankah hal tersebut malah akan merepotkan diriNya saja? Bukan repot lagi malah, tapi sangat merepotkan! sekedar mendengar dan membalas doa dari umatNYa saja sudah sangat merepotkan. Inget kan film Bruce AlMighty? Bruce (yang diperanin sama Jim Carrey) yang selalu mengutuk Tuhan karena dianggap ga sayang sama dia, malah didatengin langsung sama Tuhan dan dikasih kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi Tuhan. Hasilnya? Kacau Balau! Sebegitu repotnya ternyata tugas seorang Tuhan, sampai Bruce ga bisa mengendalikan semuanya.

Jadi, balik lagi ke pertanyaan tadi: Kalo udah tau segitu merepotkannya mengatur alam semesta, BUAT APA TUHAN PERLU MENCIPTAKAN SEMESTA BESERTA SEGALA ISINYA?

pertanyaan ini udah lama mengendap di otak gw. sering gw pertanyakan, tapi tetep ga bisa gw dapetin jawabannya. Kalo kata temen gue: “Tunggu aja sampe saatnya loe menghadap Tuhan, trus entar tanya sendiri deh…” Tapi…, kapan?

akhirnya gw berpikir sendiri, dan satu-satunya alasan logis yang bisa dipikirkan dan diterima oleh otak gue yang IQ-nya ga seberapa ini adalah: Tuhan juga takut kesepian. Coba deh, loe posisikan diri loe menjadi Tuhan, tapi tanpa ciptaanNYa. mau ngapain coba?

makan? minum? tidur? bukankah Tuhan ga perlu melakukan ketiga hal tesebut?

Ngobrol? sama siapa? sesama Tuhan? kalo ada yang bisa menyamai kekuasaan Dia, berarti Dia bukan Tuhan dong?

Ga ngapa-ngapain? Tuhan itu kan abadi? manusia cuma menghabiskan waktu satu jam tanpa ngapa-ngapain aja boringnya setengah mati, apalagi menghabiskan keabadian? dan yang namanya keabadian pastinya ga akan pernah habis…

Kalo gue yang ada di posisi itu, jawabannya cuma satu: gw akan sangat, sangat, sangat kesepian. Punya kekuasaan, tapi ga ada apapun yang bisa mendampingiNya. Buat apa? Karena itulah, Tuhan kemudian menciptakan alam semesta. Kalo bahasa halusnya, Tuhan menciptakan alam dan makhlukNya untuk mendampingi diriNya. Kalo bahasa kasarnya, Tuhan menciptakan itu semua, supaya dia ada kerjaan, dan ga merasa kesepian. Jadi, akhirnya gue menarik kesimpulan, kalo Tuhan juga takut kesepian.

Telalu naif? yah, sebenernya masih ada satu kemungkinan yang sempat terpikir sama gue, selain dari jawaban diatas. Kemungkinannya adalah, dunia ini berjalan begitu saja, karena udah dari sananya begitu, alias ga ada yang ngatur.

Adanya manusia ga lebih dari sekedar proses reproduksi….
Adanya siang dan malam ga lebih dari akibat rotasi bumi….
Adanya bimasakti ga lebih dari akibat adanya matahari yang jadi pusatnya….
Adanya bencana alam ga lebih dari akibat umur bumi yang udah tua, yang suatu saat pasti bakal ancur juga. Sama kaya manusia yang pasti mati karena faktor usia….
Pokoknya, ga ada yang mengatur. Semuanya terjadi begitu aja karena emang udah seharusnya. Menurut gue ini jawaban yang lebih bisa diterima ama logika, ketimbang jawaban kalo dunia tercipta cuma karena Tuhan takut kesepian.

Tapi masalahnya, kalo gue terima jawaban yang ini, berarti secara ga langsung gw mengakui kalo Tuhan itu ga ada. Kalo dunia ada begitu aja karena proses alami, berarti gue mengakui kalo dunia tidak diciptakan, yang berarti juga ga ada peran Tuhan sebagai pencipta disana. Sementara gw…, well, gw masih percaya kalo Tuhan itu ada. tapi makin lama buktinya malah semakin memusingkan gw…

Jadi sekarang, gw harus cukup puas dengan jawaban kalo Tuhan memang takut kesepian. Penyataan tersebut secara ga langsung juga menyatakan bahwa gue ini termasuk “Produk” yang diciptakan Tuhan untuk mengatasi rasa kesepiannya…..

Berarti Tuhan ga jauh beda sama Lex Luthor yang menggunakan uang dan kekuasaannya untuk membeli kebahagiaan versinya sendiri, biar ga merasa kesepian…

(dan tiba-tiba gw ngerasa jadi manusia paling tolol dan konyol….)

Ada yang bisa kasih gw jawaban yang lebih baik?

Advertisements

Touch

Today, i’m searching for pictures from google. With the keyword “Touch”.


And what i’ve got on the first page was these:

Then the second page:

and, even on the tenth (10th) page, i found this:

Seriously,
Is “Touch” already become a new word for Gadget?

Inspector Gadget = Inspector Touch?

yikes!

self disclosure

Hi,

My name is Desy. Desy Kartika Sari. But you can call me as Dekari or Echie. That’s my nickname.

You can talk to me, about anything. Vice versa, you can ask me, about anything. I promise i won’t bite. I’m open person, really!

err,,,  just a little favour. can you go 2 meters away from me? it helps a bit. And don’t ask too much. Thanks

Amarah

Manusia, dengan segala kompleksitasnya, memiliki emosi yang begitu beragam.

Ada

Senang

Sedih

Duka

Takut

Cemas

Amarah

Semuanya!

Semua emosi tersebut datang bergantian. Kadang-kadang datang sendiri, kadang-kadang bersamaan seperti mau mengeroyok tak berkesudahan.

Ada pula yang mendominasi, seperti yang sedang saya alami saat ini. Sebuah emosi yang bisa membuat saya memikirkan berbagai cara untuk menyakiti orang lain, hanya sekedar untuk membuat orang tersebut paham kesakitan yang saya alami. Walaupun sebenarnya sudah tahu, yang mengecewakan saya adalah harapan saya sendiri.

————————————————————————

Terkadang, saya berharap punya tombol on-off emosi yang bisa saya nyalakan sesuka hati. Tapi ternyata tidak. Justru emosilah yang terkadang mengendalikan diri saya ini.

Apakah lantas salah jika saya dikuasai emosi? Begitu berkuasanya sampai nyaris tak menyisakan ruang untuk logika sama sekali?

Mungkin salah. Mungkin juga tidak. Karena emosi diciptakan sebagai bagian dari manusia, jadi katakanlah ini adalah anugerah untuk diri. Supaya saya bisa merasakan semua dinamika jiwa, menikmati kelabilan yang semoga saja bisa mengajarkan saya untuk dewasa suatu saat nanti.

———————————————————————

Hanya saja, yang saya tak tahu adalah bagaimana cara mengekspresikan emosi ini. Dengan benar. Dengan cara yang tidak menyakiti orang lain. Dengan cara yang bisa membuat saya melepaskan semua resah yang mengkungkung saya akhir-akhir ini. Dengan cara yang tidak menyiksa batin, tapi juga tidak merampas hak orang lain untuk mendapatkan perlakuan yang baik. Dengan cara yang tidak melahirkan amarah-amarah yang lain, atau melahirkan kecewa-kecewa yang lain. Dengan cara yang tidak melahirkan kesakitan yang lain.

Sungguh, jika emosi ini adalah anugerah,jika marah ini pun juga anugerah, maka saya hanya ingin menikmati kemarahan ini dengan tenang. Menyimpannya dalam kadar yang cukup untuk saya sendiri. Membiarkannya membawa saya untuk merenung dan belajar lagi. Bukan untuk menyakiti, karena saya tidak ingin itu terjadi. (Huuuuh, kenapa sekarang saya jadi pemarah begini?)

Susah amat mau menikmati emosi,,, mudah-mudahan gw tidak lantas marah dengan cara yang salah dan ga manusiawi….

Apa kalo marah muka gw sebengis ini?

Arrrgggghhhhh,,,, kemana perginya kepala dingin disaat gw sedang butuh-butuhnya logika seperti sekarang ini? Sial!

A Hundred Years

there’s never a wish, better than this… when you only got 100 years to lived… -Five for Fighting, 100 years-

(this is my favourite song,,, forever)



Kalau bisa, ingin rasanya bertemu dengan diri saya di umur 25.

Lalu saya akan tanya: apa yang sudah saya buat?


Ingin rasanya bertemu dengan diri saya di umur 30.

Lalu saya akan tanya: apa yang sudah saya tinggalkan?


Ingin rasanya bertemu dengan diri saya di umur 40.

Lalu saya akan tanya: apa yang sudah saya lewatkan?


Ingin rasanya bertemu dengan diri saya di umur 50.

Lalu saya akan tanya: apa rasanya hidup?


Ingin rasanya bertemu dengan diri saya di umur 100.

Lalu saya akan tanya: apa rasanya sendirian?


Lantas saya akan bertanya pada semua:

Dengan siapa saya berbagi hidup?

Siapa saja yang sudah datang?

Siapa saja yang sudah pergi?

Dan,, siapa saja yang masih bertahan?

Apa rasanya, berkawan, bermain, ditipu, sekaligus disembuhkan oleh waktu?

*duhai waktu… berapa lama kau akan menjadi kawan setiaku…*

Posisi

Kadang

Butuh waktu lama untuk sadar

bahwa

kita benar

dia benar

mereka benar

Semua benar.
Tidak ada yang salah.

Maka yang kita butuhkan bukanlah mencari-cari siapa yang paling benar.

Tapi keberanian untuk memilih,
kebenaran mana yang akan kita genggam.

Memilih dimana kita memijakkan kaki.

Memilih posisi.

tempatku disini. Kamu?

Post Navigation