A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Archive for the month “October, 2010”

Kangen, Rindu, apalah ini namanya

Kangennyaaaaa…
Kangen suasananya. Kangen suara jebrat jebret bajunya. Kangen memar-memar tubrukannya. Kangen remuk-remuk badannya. Kangen orang-orangnya. Kangen jogging ampe sepatu jebolnya. Kangen samsaknya. Kangen semuanya.

Kangen latian,, kapan ya bisa lagi? T_T

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

My Cinnamon Man

Tulisan ini tentang Dia. Pertama, dan terakhir kalinya tentang Dia.

Gue pernah membaca sebuah artikel lucu. Tertulis bahwa pernah ada penelitian yang menyatakan, ketika seorang perempuan jatuh cinta, dia akan mencium satu wangi khas dari lelaki yang dia cintai.

Wangi Cinnamon. Kayu Manis. Dengan kekhasan aromanya yang begitu manis dan kuat. Wangi yang memberi rasa nyaman dan hangat.

Gue tidak tahu benar atau tidaknya, dan gw lupa dimana harus mencarinya lagi. Tapi karena toh gue belum pernah menemukan artikel lain yang mengatakan sebaliknya, jadi kita anggap saja itu benar, paling tidak untuk sementara.

Sampai dimana kita tadi? Ah ya, Cinnamon. Kayu manis. Gue tadinya ga percaya dengan hal ini, karena gue ga pernah mengalaminya sama sekali. Tadinya begitu, sampai gw bertemu dengan Dia. Si Lelaki dengan wangi Cinnamon ini.

Lucu, karena dia bukan lelaki pertama yang hadir dalam hidup gue. Dan gue sudah bukan lagi anak kemarin sore yang baru belajar naksir-naksiran ala cinta monyet. Sebelumnya gue sudah pernah merasakan cinta yang (sepertinya) sungguhan. Dan itu perasaan yang serius. Tapi sekali lagi, wangi itu cuma gue temukan di Lelaki ini.

Bagaimana wangi itu bisa muncul? Entah. Mungkin itu aroma alami tubuhnya. Mungkin itu wangi parfumnya. Atau mungkin benar, wangi itu adalah sinyal biologis yang diberikan otak gue untuk menyatakan bahwa gue cinta Dia. Tapi, apa wanginya yang membuat gue jatuh cinta?

Bukan. Wangi itu baru gue sadari belakangan. Sebelum sadar pun, sudah terlalu banyak hal menakjubkan yang membuat gue ga punya kuasa untuk berpaling dari Dia.

Senyumnya. Keanehannya. Kebawelannya. Kekonyolannya. Genggaman hangatnya. Cara dia membalikkan badan ketika gue memanggil namanya. Cara dia menirukan kebiasaan gue yang suka mendongakkan kepala sambil bertanya menantang: Apa?!

Cara dia membuat gue tertawa. Kemampuannya bertahan adu argumen selama berjam-jam. Kemampuannya untuk berlama-lama terdiam dan bersandar disamping gue (without words at all, but feels so peace..). Keras kepalanya yang ga boleh dibantah kalo lagi pengen ketemu. Ke-jumawa-annya. Telepon absennya. YM colongan ditengah deadline kerjanya. Obrolan gila di perjalanan dengan motornya.

Kacamatanya. Celana pendek dan rompi motor “Perang”nya. Kemeja berantakan setelah pulang kerja-nya *actually, he always looks so damn good with whatever he wear ;)* Es telernya yang dibagi dua (tapi karena kurang akhirnya beli lagi, hahahaha). Bawaan sarapan nasi gorengnya (padahal kan mestinya gue yang bikinin buat dia :p). Jemputannya tiap gue pulang latian. Omelannya. Marahnya. Tangisnya. Semuanya. Semua kesediaan dia melihat semua sisi diri gue, dan disisi lain juga membuka seluruh sisi dirinya, dan mencuri sepi dari seluruh waktu gue.

Bahkan dia mengebut gila-gilaan, menempuh jarak setengah jam menjadi 10 menit, demi menenangkan gue yang menangis ketakutan karena habis diganggu di kereta. Lantas memeluk gue tanpa banyak bertanya, dan menemani sampai gemetar gue hilang. Sampai airmata kering. Dan baru pulang ketika gue sudah bisa tertawa.

Jatuh cinta adalah hal paling masuk akal yang terjadi bukan? Masuk akal jika yang gue hadapi adalah lelaki seperti dia. Lelaki yang selalu menjadi dirinya sendiri ketika berada di hadapan gue.

Dan patah hati berdarah-darah juga terasa masuk akal ketika gue kehilangan Dia

Everything is perfect. Semua. Kecuali takdir yang ga mau berkata sama. Dan kami pun berpisah, dengan cara baik-baik. Sambil saling berjanji akan menata dan menyembuhkan hati masing-masing secepatnya.
Juga berjanji akan menjaga kesadaran masing-masing tetap berada di ambang waras, benar bukan? =)

Sepertinya usaha itu lancar-lancar saja. Sebelum dengan Dia, jika dulu gue putus cinta maka gue akan menangis, nyaris setiap hari. Mengeluarkan luka, mengusir bekas kehadiran isi hati yang pernah ada..

Tapi kehilangan Dia beda. Nyaris tak ada tangis, bahkan di hari terakhir gue melihatnya. Gue tetap melewati hari seperti biasa. Berusaha menganggap semua baik-baik saja.

Dan semuanya baik. Semua. Kecuali fakta bahwa dia datang di setiap mimpi gue dikala malam. Di luar kuasa kesadaran gue, tanpa bisa gue hentikan.
Well, meski begitu gue kira semua tetap baik-baik saja. Paling tidak itu yang gue katakan berulangkali pada diri sendiri, setiap terbangun dari mimpi melihatnya.

Gue sudah berusaha maksimal, tapi ternyata kali ini butuh lebih dari sekedar maksimal. Maka gue butuh lebih banyak bantuan dari Waktu. Juga ruang hati yang lebih lapang lagi dari sebelum-sebelumnya. Mungkin kelak, jika gue bersabar, Dia akan berbaik hati pula pergi dari mimpi gue, sama seperti kini Dia sudah menghilang dari pandangan gue.

Maka gue akan menunggu hari itu tiba. Hari dimana wangi kayu manis tak akan lagi tercium walau gue bertemu kembali dengan Dia. Hari dimana gue akan kembali menatap matanya, dan tersenyum, tanpa rasa perih.

Dan sampai hari itu tiba, sepertinya kamu masih akan menjadi Lelaki Kayu Manisku, Bocah Tua Gila…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Post Navigation