A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Archive for the month “November, 2010”

Semoga Ga Kapok =D

Skripsi.

Folder yang nangkring dengan manisnya di ujung layar laptop gue yang tercintah, lantas punya kembaran pula di setiap flashdisk yang gue punya, dan bahkan punya space tersendiri di semua email gue. Berisi file-file yang begitu bernafsu memeras seluruh otak gue, melebihi nafsu vampir yang lagi kelaperan karena pengen menghisap darah korbannya.

Demi Tuhan, folder ini adalah hal terbesar yang pernah mendominasi hidup gue. Bahkan mantan pacar atau gebetan pun ga pernah sampe segitu amat dominannya. Mungkin harus punya pacar dulu supaya bisa menandingi dominannya folder durjana ini (eaaa,curcol total!)
Pokoknya, satu-satunya hal yang gue inginkan saat ini, adalah talak tiga dengan nol persen kemungkinan untuk rujuk kembali dengan folder dominan tersebut. Biar bisa balik hidup normal seperti sediakala.

Tapi posting ini bukan untuk bercerita ataupun sesi curhat tentang si folder imut bin angker tersebut. Nanti itu ada sendiri bagiannya *kalau udah kelar, hahaha* =p. Sama sekali bukan.

Ini tentang gue, dan orang-orang yang ada disekitar gue saat ini.

Ngerjain skripsi itu ga cuma butuh kesabaran, tapi juga butuh pengertian, perhatian, ketekunan, dan tentu saja sejumlah besar asupan makanan *lho?*
Dengan semua kebutuhan tersebut, well, ga bisa dipungkiri, gue jadi tambah keras kepala dari sebelum-sebelumnya. Lebih menyebalkan. Rewel, caper, ga pedulian, ga mo ngalah, demanding, you name it lah.

Tapi yang bikin gue takjub, ada lo orang-orang yang siap meladeni titik ekstrem negatif gue, meskipun ngeladeninnya dengan caranya masing-masing.

Ada yang bawa kuping portabel 24 jam, siap mendengar segala macem curhat, mulai dari curhatan baru, sampe curhatan lagu lama yang ga kelar-kelar. Ada yang rela melebarkan kapasitas perut demi menemani gue yang nafsu makannya tiba-tiba tak berujung. Ada yang dengan ikhlas menambah stok napas, ketika gue seret ditiap sesi jogging penghilang galau. Ada yang ikutan begadang bantuin gue perang sama verbatim n kodingan, juga jadi polisi yang ngingetin gue dikala malas. Atau yang paling simpel, yang tahan ngeladenin gue berantem, semenyebalkan apapun template muka yang gue pasang.

Seriously guys, gue adalah introvert sejati. Gue sudah sangat terbiasa dengan reaksi menghilang dari orang-orang yang bingung menghadapi gue. Wajar lah, gue aja kadang ga ngerti ama reaksi dan omongan gue sendiri. Apalagi orang lain.

Yang bikin gue ga terbiasa justru orang-orang kayak kalian. Yang tinggal, ngedampingin gue, dan ngasih semangat. Yang ngebuka gue sampe kedalam jeroan.

Gue terbiasa sendirian, jadi ga ngerti gimana caranya menghadapi kesabaran kalian *koreksi, buat gue kalian udah ga sekedar sabar, tapi keras kepala* :-p Boro-boro ngebales, bisa aja reaksi gue malah jadi tambah menyebalkan.

Jadi, gue ga akan bilang makasih. Karena gue ga pernah minta kalian bersabar sama gue. Yang akan gue lakukan adalah tetap keras kepala, tetap menyebalkan dan tetap berusaha ngerjain skripsi ini sampai kelar. Tapi kali ini, gue akan ngerjain ini semua buat kalian =)

Bersabarlah kalo kalian masih pengen. Karena gue pastikan, masih banyak stok kelakuan minus yang belum gue tampilkan di depan kalian. Dan gue janji, pasti akan gue perlihatkan, khusus buat loe semua, spesial pake telor!

Semoga kalian ga kapok,

*serius, gue bener-bener ngarep semoga kalian ga kapok*

Nggg, itu aja deh. Yang lain gue omongin kalo skripsinya dah kelar ya. God Bless You All! ^o^

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Membagi Satu

Sampai detik ini, aku masih tidak bisa menemukan kata-kata untuk bicara. Apa yang sudah kulewati, bagaimana setiap hariku membentuk pola-pola yang tergambar menjadi sesuatu yang begitu jelas, sekaligus tak nampak.

Apa yang akan muncul di depan, kita tak akan pernah tahu.

Yang aku tahu hanya bergerak. Kadang melihat ke belakang. Kadang terdiam sesaat menerima tanpa daya, karena menyesal bukanlah pilihan.

Kadang aku mengingat Kau, Mereka, dan Aku yang dahulu. Semua yang dahulu berarak, kini seperti helai-helai bulu yang terlepas dari sayap. Kita semua akan jatuh dan menginjak bumi yang sama. Meski tetap ada tanya: masih utuhkah setiap helai-helai bulu yang terlepas ketika menyentuh tanah?

Masih utuhkah diri kita di ujung perjalanan kelak?

Entah bagaimana aku akan menjawabnya saat itu. Bukan pada siapa-siapa, tapi hanya kepada diriku. Pada Aku yang menanti diujung perjalanan. Pada Aku yang menanti dalam cemas dan penuh harap. Menanti bayangannya yang semakin memendek, mendekati ujung cahaya sebelum redup.

aku butuh waktu.

Namun satu yang luput dari sadarku

waktu tak pernah membutuhkan aku

Posted with WordPress for BlackBerry.

Post Navigation