A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Archive for the month “May, 2012”

Benang Ujung-Ujung Doa

Another cry.

Malam ini datang lagi orang asing lain -seorang wanita- yang diikuti oleh serombongan sanak saudara yang menangisinya. Kecelakaan, katanya. Mobil dan motor. Dan cukup parah. Mulut mereka komat-kamit berdoa memohon keselamatan bagi satu orang tersayang yang sedang berjuang di dalam sana. Dan aku, hanya bisa ikut mengamini diam-diam.

Sudah seminggu aku berada disini, menunggui ibuku yang jantungnya meminta rehat, kelelahan menjajari semangatnya yang menyala-nyala setiap hari. Ibu masuk di ruang itu, mereka menyebutnya ICU. Ruang yang biasa menjadi persinggahan antara sadar dan tidak. Tempat perjuangan nyawa.
Ibuku beruntung karena dia masih lebih kuat dibanding teman di ranjang-ranjang sekitarnya. Dalam sadarnya, kulihat mulutnya tak putus-putus melepas doa. Termasuk doa bagi pertemanan singkat yang datang dan pergi setiap harinya. Seperti biasa, dia memang Si Wanita Tangguh yang tak pernah menunjukkan rasa takutnya.

Lucu, malah aku yang gentar. Malam-malam seperti inilah justru biasanya aku terjaga, dibangunkan aura magis yang dibuat oleh penghuninya yang berlalu lalang.
Oleh tangisan, dalam berbagai bentuk. Ada tangis kepedihan, tangisan lirih, tangis kehilangan, atau seperti malam ini, tangis ketakutan sekaligus penuh harap. Tangisan yang membuatku sadar, bahwa inilah jarak terdekatku dengan kehilangan di titik penghujung. Dalam jarak pandangan mata.

Seberapapun kau siapkan diri, rasa sayang akan selalu mengikatmu dengan rasa takut akan kehilangan. Membuatmu goyah. Membuatmu ingin menjaga baik-baik apa yang masih tersisa. Menjaga setiap harapan.

Untuk itu, malam ini aku berdoa. Berharap akan terkait dengan ujung-ujung doa yang sudah terlontar sebelumnya. Untuk mereka yang kehilangan. Untuk mereka yang masih berjuang demi orang-orang terkasihnya. Juga Wanita Tangguhku yang tak kenal gentar di dalam sana, untuk keselamatannya.

Kita akan pergi dari sini segera, dengan langkah gembira seperti sediakala. Bersama-sama 🙂

21 Mei 2012,
RS Pelni Petamburan Jakarta

Advertisements

Kamu. Yang Kubenci.

Kepada Kamu, yang kini tak berhenti berlari-lari dalam otakku

Kawanku bilang, cinta itu irasional. Mau tak mau aku terpaksa setuju dengan kata-kata itu. Kata-kata yang menjadi penjelasan mengapa aku tak bisa menjelaskan setiap tindakanku saat ini, jika hal itu berkaitan denganmu

Aku tak bisa jelaskan, bagaimana otakku terus berkata untuk menjauh darimu, tapi kakiku selalu melangkah menuju tempatmu.  Disana. Tempatmu menunggu diriku.

Bagaimana suara-suara kecil di kepala memintaku untuk menjaga sikap. Meminta berhenti menunjukkan isi hatiku. Namun disaat bersamaan, kau malah kutarik untuk melihat utuh. Dalam-dalam meraih rasa yang telah kututup dalam jutaan tahun penantian, untuk menemukan kesempurnaanmu.

Aku benci menyadari bahwa hatiku telah berkhianat. Berkhianat pada otakku, yang terus meminta untuk tak menggubris dirimu. Seluruh pikatmu. Maka hati malah mendominasi imajinasiku. Penuhi kepalaku dengan bayangan penuh akan dirimu. Tak ada tempat untuk berkata tidak pada kehadiranmu.

Bagaimana bisa? Kau begitu mudah meruntuhkan tiap dinding yang sudah kubangun hanya dalam kejapan mata?

Aku tak mengerti bagaimana Semesta telah mewujudkan setiap inci harapanku, dengan begitu sempurna. Dalam wujudmu, dan dalam hadirmu.

Aku tak mengerti apakah ini cinta, atau kebencian dalam-dalam yang tak bisa kukendalikan. Begitu bencinya karena Kau telah melemahkan Aku yang tak pernah kalah.

Kemenanganku telah terkubur, jatuh ke bawah kakimu.

Dan berat hati terpaksa kuakui, Kamu telah mengalahkan Aku.

Aku membencimu. Aku membenci Kamu yang membuatku jatuh hati. Lebih benci lagi karena kau tak membiarkanku jatuh hati sendiri, malah menemaniku dalam kegilaan ini. Menciptakan dunia kita sendiri, yang tak kasat mata. Dunia gaib yang hanya ada dalam angan dan pikiran kita. Cuma ada Aku dan Kau disana

Jadi lengkaplah sudah. Kau orang tergila yang paling Aku benci. Yang membawa lari hatiku tanpa tersisa lagi

—————————————————————————————————

Hey Kamu! Tetaplah dalam kegilaan ini bersamaku. Hingga ujung waktu.

=)

Post Navigation