A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Archive for the category “ngobrol wacana-wacini”

A Game of Shadow: Sherlock? or No Sherlock?

Finally, another blog post!
Sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah terlalu lama absen dari blog ini. Kalo mau dijabarin alasannya sih, klise: Kerjaan, hahaha. Pekerjaan saya yang sekarang menuntut waktu yang cukup banyak, jadi yah… persoalan tulis menulis jadinya hanya timbul tenggelam sebatas keinginan =)

Tapi kali ini saya tak tahan. Gatal rasanya ingin komentar mengenai film dari detektif kesayangan saya sepanjang masa: Sherlock Holmes. Yep, that Sherlock. Si gila analisis dari Baker Street, yang baru-baru ini diangkat kembali menjadi film, dengan sutradara Guy Ritchie. Sukses dengan film pertama di 2009, Guy Ritchie membuat sekuelnya yang rilis di akhir tahun 2011: A Game of Shadow. Tadinya tulisan ini saya maksudkan untuk review film kedua saja, namun ternyata sudah cukup banyak yang menulis reviewnya di internet. Jadi saya putuskan, tulisan ini akan lebih memaparkan pendapat pribadi saya, soal film Sherlock Holmes versi Guy Ritchie, baik yang pertama maupun yang kedua. Berhubung saya juga suka sama novelnya, tulisan ini akan jadi sedikit panjang karena saya juga mau bandingin dengan versi bukunya. SPOILER ALERT!!  So,enjoy your reading! 😀

Nah, kita bicara dulu soal film pertama.

Jadi, sejak awal film ini sudah mencuri perhatian saya dengan teaser posternya, menampilkan Robert Downey, Jr sebagai Sherlock Holmes dan Jude Law sebagai Dr. Watson

Dynamic Duo =D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Padahal, image Sherlock yang melekat di otak selama ini tuh kaya GINI:

Sherlock Holmes versi tahun 1939, diperankan Basil Rathbone

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jujur aja, saya ngefans berat sama Robert Downey, Jr sejak jaman smp waktu dia masih jadi figuran di serial Ally McBeal. Jadi seneng banget pas dia main film lagi. Tapi… jadi SHERLOCK HOLMES?? bareng Jude Law??

Yang pertama terlintas di pikiran saya tuh cuma satu: Ini castingnya ketuker apa gimana???

Kenapa gak Jude Law aja yang jadi Sherlock? Lebih terlihat aristokrat, plus tampang cerdas dan tajam. Image sekilasnya jelas jauh lebih mendekati versi Rathbone. Image Robert buat saya lebih mendekati Dr. Watson, si tukang cerita.  Kenapa malah dibalik???

Walhasil saya deg-degan parah waktu nonton yang pertama, takut ga sesuai sama harapan dan tokoh Sherlock Holmes + Watson bakal hancur ditangan mereka. BUT THEY ARE ROCKS!

Di novel, Sherlock itu gambaran sehari-harinya emang pecandu kokain, agak nyentrik, suka bikin eksperimen aneh, dan tukang menyendiri di kamar. Dia baru bisa “Normal” kalau udah ketemu kasus. Makin ribet kasusnya, makin waraslah dia. Nah, Robert berhasil banget ngangkat sisi lain kepribadian Holmes, dan kita kayak diseret masuk dalam kehidupan Holmes untuk memahami asyiknya hari-hari Holmes, serta keceriaannya. Selama ini kalau dengar kata penyendiri, pecandu kokain, dan tukang eksperimen, maka hidup Sherlock yang dulu terpikir oleh saya adalah hidup yang suasananya yang super serius, suram dan misterius. Tampangnya Basil Rathbone tuh udah menjelaskan semuanya deh.

Nah, Sherlock versinya Robert itu super bohemian, beda banget sama bayangan saya. Tapi justru karakternya Holmes banget, keren deh! Jude Law juga ga kalah keren menampilkan versi Dr. Watson-nya. Lebih hidup, lebih bijak, lebih sentimentil, dan lebih helpful buat Sherlock. Perspektif baru, tapi justru mereka berdua lebih persiiiiis kaya di novel. Saya jatuh cinta sama akting dan chemistry mereka berdua, baik di film ke 1 maupun yang ke 2.

Adegan-adegannya juga keren, menggambarkan dengan sangat baik bagaimana metode analisa deduksi yang dipakai Sherlock. Guy Ritchie membuat filmnya sangat layak untuk ditonton, termasuk oleh para penggemar novel Sherlock Holmes. Cerita yang diangkat setahu saya memang bukan seperti novel asli karangan Arthur Conan Doyle, si Pencipta Holmes. Tapi gaya penceritaannya cukup dipertahankan.

Cuma satu hal yang membuat saya kesal dari film pertama: penggambaran tokoh Irene Adler (pacar Sherlock)  dan Mary Watson (tunangan Dr.Watson, selanjutnya menikah di flm kedua). Well, karakternya sih pas. Tapi, saya kesal parah dengan penggambaran hubungan cinta Adler-Holmes yang BEDA BANGET sama novelnya (mohon maaf kalau lebay, tapi ini benar-benar menyiksa saya sepanjang film, hahaha :p ). Di novel, hubungan mereka ga pernah seintens itu. Irene Adler hanya muncul sekilas di cerita “Skandal Raja Bohemia”.  Di situ, Holmes-Adler saling menipu dan saling memperdaya, juga saling mengagumi hasil kerja masing-masing. Holmes sangat dingin pada wanita. Tapi dia mengagumi Adler sebagai satu-satunya wanita yang bisa memakai logika setara dengan dirinya. Hanya itu, Holmes sebatas kagum. Bukan bisa dikendalikan penuh oleh Adler seperti di film ini. (Ga ada tuh ceritanya Holmes stress ditinggal Adler, no waaaaayyy). Sementara untuk tokoh Mary Watson… Well, sepele sih. Saya cuma kesal, karena Watson yang mengenalkan Mary kepada Holmes. Padahal di novelnya, justru Holmes yang mengenalkan Mary ke Watson, karena Mary adalah Klien Holmes! (Mereka berkenalan di salah satu kasus Sherlock Holmes;“Empat Tanda Tangan”).  Itu detail yang kecil, tapi penting buat saya. Salah menggambarkan itu, buat saya jadi semacam dosa karena seperti merusak cerita dan sejarah Sherlock Holmes-Watson… *Lebay ya? Maap, hahaha*

Jadi intinya,untuk saya film pertama sangat keren dari sisi eksekusi akting dan adegan. Penonton yang tidak baca novelnya pun bisa terhibur. Tapi cerita yang digunakan terlalu menyimpang dari novelnya. Interpretasinya terlalu bebas, dan cukup mengganggu di beberapa bagian.

Lalu datang film kedua, A Game of Shadow. Berbeda dengan film pertama yang memberi cerita baru, sekuel Sherlock Holmes ini lebih mengadaptasi salah satu cerita asli dari novelnya. Tak tanggung-tanggung, yang diadaptasi adalah kasus terakhir dari Sherlock Holmes, melawan Profesor Moriarty yang disebut Napoleon Dunia Kejahatan. Kasus ini dibuat oleh Arthur Conan Doyle sebagai penutup dari keseluruhan kisah Sherlock, yang berakhir dengan kematiannya. Seperti cerita Superman yang meninggal saat melawan Doomsday di pertarungan terakhir mereka, Holmes dan Moriarty menemui ajalnya lewat pertarungan sengit di air terjun Reichenbach, dimana mereka berdua sama-sama jatuh di air terjun tersebut.

Arthur Conan Doyle membuat cerita tersebut ketika sudah terlalu lelah menangani kisah Holmes, sehingga memutuskan untuk menghadirkan musuh kuat yang berimbang dengan semua kemampuan detektif ciptaannya tersebut. Profesor Moriarty akhirnya dimunculkan sebagai karakter profesor senior, dosen matematika jenius yang terkenal, dengan kemampuan perencanaan kejahatan yang sulit diselidiki oleh detektif sekaliber Holmes sekalipun. Dia juga mantan juara tinju saat masih menjadi mahasiswa. Sungguh lawan yang sangat sempurna untuk mengantar Holmes pada kematiannya. Namun kematian Sherlock Holmes rupanya menuai protes dari penggemarnya, sehingga Conan Doyle memutuskan untuk menghidupkan kembali Sherlock Holmes dalam beberapa kisah, lalu membuatnya pensiun sebagai petani lebah setelah beberapa waktu.

“The Final Problem” adalah salah satu kisah Sherlock yang paling terkenal, dan menurut saya menjadi pilihan yang sangat beresiko ketika akhirnya diputuskan untuk diangkat menjadi film. Dan memang, pada akhirnya cerita yang diangkat memang tidak persis cerita asli. A Game of Shadow hanya mengangkat karakter Profesor Moriarty serta menghadirkan pertarungan legendaris di air terjun Reichenbach. Pertarungannya sendiri tidak sedramatis dan sengit seperti yang digambarkan di novel, tapi usaha Guy Ritchie menampilkan proses menuju pertarungan tersebut patut diacungi jempol. Seluruh persaingan Sherlock-Moriarty jelang adegan air terjun disampaikan lewat sebuah pertandingan catur sederhana, tapi dengan dial0g-dialog yang kuat dan menjadi puncak pertarungan mereka (Yep, catur. Aslinya sih ga ada di novel, tapi pas banget buat menggambarkan pertarungan dua orang gila analisis macam mereka berdua)

Hal yang menarik dari film kedua ini adalah, penggambaran kemampuan Holmes yang sangat berbeda dari film pertama. Jika di film pertama Holmes digambarkan sangat sempurna, dengan analisis yang akurat dan setiap detail penyelidikan tidak ada yang sia-sia. Sedangkan di film kedua, Holmes justru digambarkan nyaris selalu SALAH dalam setiap analisis utamanya. Holmes digambarkan melemah, dan hal ini tentunya dilakukan untuk memperkuat kesan bahwa Profesor Moriarty adalah musuh yang tak terkalahkan sehingga membuat Holmes begitu lengah.

Ini adalah cara instan yang dipilih untuk menampilkan kesetaraan kekuatan Holmes-Moriarty dalam waktu singkat. Menurut saya, ini sah-sah saja. Cara ini juga akhirnya mampu menampilkan sisi emosional dari hubungan Holmes dan sahabatnya Watson, sehingga penonton bisa lebih melihat sedalam apa hubungan persahabatan mereka, yang bisa mengalahkan hubungan saudara sekalipun. Yep, film kedua ini lebih menjual cerita dan sisi emosi Sherlock. Sangat berbeda dengan film pertama yang menonjolkan ketajaman analisis dan kehebatan Sherlock lewat adegan berantai yang disusun dengan sangat rapi. Film kedua ini seperti melengkapi bagian diri Sherlock yang belum sempat ditampilkan di film pertama, dan anda harus lebih berpikir serius saat menontonnya.

Ya, film kedua ini lebih serius dan lebih emosional. Tapi tetap jenaka. Apalagi dengan kehadiran Mycroft Holmes, kakak kandung Sherlock yang tak kalah nyentrik dan jeniusnya. Pernikahan Watson-Mary juga menjadi bumbu yang cukup segar di dalam film ini, untuk menonjolkan seberapa posesifnya Sherlock terhadap Watson, partner abadinya sepanjang masa. Rangkaian  adegan berantai yang rapi untuk menampilkan analisis Sherlock juga masih ditampilkan, tapi efeknya sangat berbeda dengan film pertama. Scoring musiknya juga masih tetap khas seperti film pertama.  Dan yang paling membuat saya senang, perasaan Sherlock Holmes terhadap Irene Adler akhirnya ditampilkan dengan gambaran yang lebih mendekati versi novel. Lihatlah adegan Sherlock Holmes di kapal saat dia membuang saputangan Adler yang meninggal karena dibunuh Moriarty. Seperti itulah seharusnya cara Holmes menangani perasaan kagum dan cintanya kepada Adler

Dari segi cerita, saya jauh lebih senang menonton yang kedua. Semata karena lebih mendekati versi novel, walaupun memang hanya sebatas adaptasi, bukan menggambarkan ulang (Interpretasi film kedua ini ga sekurang ajar film pertama dari versi novelnya, hahahaha =p ). Satu-satunya yang agak kurang sesuai dengan harapan saya adalah pemilihan Jared Haris sebagai karakter Profesor Moriarty. Well, jeniusnya sih dapet. Tapi licik dan jahatnya… agak kurang. Jared is An Evil Professor, but not Moriarty. Andai Sherlock tidak ditampilkan melemah dan membuat banyak kesalahan di film ini, niscaya Moriarty versi Jared akan lemah dihadapan kekuatan analisis Sherlock Holmes. Bayangan saya tuh, Moriarty itu seperti Hannibal Lecternya Anthony Hopkins. Tampang ga perlu serem, tapi aura jahatnya kerasa banget. Mark Strong yang jadi Lord Blackwood di film pertama lebih pas jadi Moriarty. Atau kalau mau sekalian bikin versi baru Moriarty, rasanya Robin William akan jauh lebih pas.

Well, diluar kekurangan dan kelebihannya, film Sherlock Holmes yang kedua ini tetap saja menghibur dan patut diacungi jempol. Baik pembaca novel Sherlock Holmes maupun penonton awam akan sama-sama menikmati film ini. It’s Less Ritchie, More Doyle, but still, Lovely Holmes. Yang jelas, nampaknya film Sherlock Holmes ini masih bisa dibuat film ketiganya. Masih ada kisah perkenalan Holmes-Watson yang tak kalah menarik untuk ditampilkan di film, juga kasus-kasus lain yang cukup spektakuler. Kita tunggu saja kelanjutannya 😉

Advertisements

Single to Married: Takut Menikah? Ga usah Buru-Buru =)

Beberapa hari yang lalu gue membuat satu thread pada akun Plurk gue, dan menyatakan kalau: Menikah itu seram. Keputusan yang aneh lah pokoknya.

Kenapa? Well, lupain dulu deh soal masalah finansial. Syarat mutlak dari sebuah pernikahan itu adalah, orang yang ngejalaninnya harus siap untuk kompromi seumur hidup. Menyatukan isi 2 kepala. Mesti siap deh tuh yang namanya ngalah, kontrol emosi, dan menghadapi situasi tertekan lainnya. Buat orang seperti gue yang ngerasa ngalah itu lebih parah daripada mati, nikah itu jelas bener-bener menakutkan… * Dan masuk ke pola hidup kaya gitu secara sukarela? Euuuh…, kayaknya lebih gampang kalo jadi lajang seumur hidup deh…*

Ga disangka, thread itu mengundang banyak reaksi dari teman-teman di Plurk, sampai 115 respon! Ternyata yang mikir kaya begini bukan cuma gue, tapi juga banyak teman-teman lain. Sepertinya lajang sekarang udah mulai mengerti, kalau menikah itu ga seindah dongeng-dongeng jaman dulu yang pasti berakhir dengan kata-kata happily ever after. Tapi butuh kerja yang sangat keras.

Di thread itu, kita semua diskusi sambil membicarakan ketakutan masing-masing soal pernikahan (walau kebanyakan tetap ketakutan gue yang dibahas, hahaha). Temen gue bilang: Kuliah Pra Nikah (hahaha). Yang komen disana ada macem-macem, mulai dari lajang, mahasiswa, pengantin baru, bapak 1 anak, sampe psikolog. Dan setelah gue baca lagi, sayang kayaknya kalo ga dibagi. Jadilah, isi diskusi thread itu gue rangkum disini

…..

Respon pertama datang dari teman gue, psikolog muda nan cantik berinisial P(ingkan) *hohoho*. Dia punya perhatian khusus soal isu romantic & family relationship,  dan sependapat dengan gue kalo siap menikah itu berarti mesti siap taro ego di lante *mark this word! hahaha*, dan masalah menikah serta memilih pasangan itu memang harus dipertimbangkan secara rasional. Menurut Pingkan, pasangan yang menikah harus siap untuk: kontrol emosi, berbagi, dan negosiasi. Kemudian. pasangan menikah juga bisa bahagia kalau mereka bisa: berkomunikasi, terbuka, mau mendengarkan pasangan, dan berkomitmen

Nah, untuk bisa sampai di tahap kece ini dan siap menikah, seseorang harus bisa menjadi pribadi yang dewasa dulu. Menurut Pingkan, kedewasaan untuk menikah itu indikatornya:

1. Kenal Diri.

Tau “issue2” dan konflik2 pribadi kita (supaya tidak diproyeksikan atau dialihkan ke pasangan)

2. Bisa Mengelola Emosi sendiri.

Gak harus bergantung sama orang lain untuk bahagia. Bisa keluarkan marah dengan adaptif

3. Tau Cita-Cita Pribadi & Visi Buat Berkeluarga

Gak sekedar nikah karena “he’s the one” atau berbunga2 jatuh cinta. Pengen menikah buat apa? Pengen keluarga kayak gimana? Mau jadi ibu atau ayah seperti apa?

Kalau 3 point itu udah bisa pelan-pelan kita diwujudkan, logikanya kita bakal jadi nyaman sama diri sendiri. Ini penting banget dalam sebuuah hubungan, terlebih kalau kita mempersiapkan diri untuk menikah. Kalau udah ketemu pasangan yang visinya sama, dan sama-sama udah dewasa juga, trus bersedia, work the relationship out, nah baru deh mikir nikah

Nah, Pingkan sudah memberikan pandangan Psikolog tentang persiapan menikah ketika masih melajang. Tapi gue tetep aja galau: gimana nanti kira-kira situasi pas udah menikah? Seakan menjawab kegundahan gue, datanglah plurkers lain yang baru saja menikah dan masih hot jadi penganten baru: Kochai!

Bu Psikolog Kochai memberitahu kalau udah menjalani pernikahan, kenyataanya ga seseram yang dibayangkan. Dari pengalamannya, emang sih pas udah menikah mesti  ngalah, ga bs kaya dulu lagi, serta ada orang lain yang harus dipikirin. Berantem itu pasti, tapi lebih cepat rukun dibandingkan waktu pacaran. Yang penting persepsi kita terhadap pernikahan dan peran suami istri itu sejalan sama pasangan. Itu harus diomongin habis-habisan sebelum nikah. 

Cuma ga bisa dipungkiri, kadang ego kita masih sangat dominan, walau udah menikah sekalipun. Makanya butuh kerja keras untuk bisa mengalahkan ego kita itu. (Temen psikolog yang lain, Dane, menimpali kalau justru itulah tugas kita untuk menemukan seseorang yang membuat rela buat belajar melepas dominasi/ego). Nah, Kochai juga ga bisa memungkiri kalau untuk itu pun kita harus tetap bisa menemukan The One, alias pasangan yang klop buat kita. Emang kedengerannya ga rasional,tapi di antara keputusan-keputusan rasional untuk menikahi seseorang, pasti terselip keputusan irrasional

Pertimbangan irasional itu yang kayak gimana? Nah, disinilah Perasaan kita berperan. Kalo Kochai ngegambarinnya, dia pengen menghabiskan hidupnya bersama pria yang kini menajdi suaminya. Ibaratnya pas masih pacaran pun, berantem kaya apapun ga akan mengubah perasaan Kochai. Tetep aja pengen nikah suaminya, hahaha. 

Untuk perempuan dari segi rasional, pertimbangan calon suami bisa bisa berupa:  agama, kemapanan, hardworker atau bukan, bermasalah ga kalau istri pengen berkarir/mengurus rumah aja, dan lain-lain. Persepsi tentang peran suami istri juga harus sama: istri hormat sama suami, dan sebaliknya. Logikanya sih, Tuhan kan menciptakan kita berpasangan. Masa kalo udh ketemu jodoh, kita gak bisa ngebedain dia sm laki-laki/perempuan lainnya?

Singkatnya, secara rasional, kalau ingin menikah, harus bisa omongin soal peran suami-isteri yang diharapkan sampai tuntas, plus ada perasaan “I want to spend my life time loving u”. Kochai sendiri berpegangan sama petuah ibunya: “Kamu kalo pilih suami, pilihlah orang yang bisa kamu banggakan”. Untuk Kochai, hal ini bisa jadi indikator yang pas untuk menemukan dua hal itu. Kalo kita bangga sama pasangan, kita ga akan meremehkan dia. Dan akan jauh lebih mudah untuk mengalah sama orang yang ga kita remehkan (Apalagi buat cewek-cewek independen, penting bener ini!).

Daaaan, pandangan Kochai ini diamini oleh Mbah KOP, sesepuh plurker yang sudah sukses memiliki anak perempuan manis bernama Raina, juga seorang psikolog terpercaya 😀  Pandangan Kop,  kita di dunia ini kan gak sendiri, ada banyak orang maupun hal lain yang bisa mengubah perilaku kita. Takut susah ngalah?  Mungkin memang susah, tapi untuk orang yang berarti untuk kita, masa kita gak mo bela-belain? Takut susah nyatuin 2 isi kepala? Bisa jadipasangan yang isi kepalanya berbeda itu gak bakal kita pilih untuk dinikahi. Kop optimis, ketika kita sudah memilih pasangan, berarti itu memang yang sesuai dengan mau kita dan akan bermanfaat untuk kita di masa depan. Pada titik itu, mudah-mudahan segala kehawatirana akan pernikahan sudah bisa diminimalkan. Intinya, ketika kita bener-bener udah ketemu orang yang tepat, ngalah atau berbeda pendapat itu udah ga jd masalah lg.

Singkatnya, menikah itu emang berisiko. Apalagi ada faktor X yang berbeda-beda di tiap orang, dan itu juga termasuk komponen yang penting. Tapi justru disitulah kuncinya: Menikah itu memang sebagian gambling lho. Kita ga tau ke depannya pasangan kita kaya apa, tapi kita mau menerima risikonya. Penerimaan resiko untuk menikah inilah yang menjadi kunci kesiapan bagi kita untuk memutuskan menikah kelak.

Kalau kita merasa belum siap menikah, mungkin memang resikonya-lah yang belum bisa kita terima. Ga ada yang salah dengan itu, karena tiap orang punya rentang waktu kesiapan yang berbeda. Bisa jadi kita belum bertemu dengan orang yang tepat, punya ketakutan tersendiri, atau  memang  punya sesuatu yang menghambat proses kedewasaan dan kesiapan nikah kita. Yang penting adalah, kita tetap introspeksi dan selalu mengukur kemampuan kita sendiri.

Kalo masih takut, ga usah buru-buru menikah… Tapi kalau udah ketemu: JANGAN DITUNDA YAAA!!! *teteup*

………

Well, dari diskusi panjang ini gue dapet beberapa hal yang membuat gue jauh lebih tenang untuk mempersiapkan diri dan memikirkan maslaah pernikahan (lagian belum ada calonnya juga).  Sama seperti gue yang merasa dapat manfaat, semoga kalian yang membaca ini juga bisa ngedapetin manfaat yang sama. So, Enjoy your reading!

(Note: posting ini diambil dari diskusi thread di akun Plurk pribadi gue, dengan penyesuaian disana-sini. Thanks to all plurkers, especially Pingkan, Kochai, Kop n Dane. Enak yah kalo temen diskusi anak psikologi semua, hihihi)

So they say he/she’s the one when the heart & mind comes to an agreement. You can’t feel he/she’s the one if your mind doesn’t agree & vice versa

(From Pingkan, dari tweet nya Bijuk)

Post Navigation