A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Archive for the category “piece of life”

Benang Ujung-Ujung Doa

Another cry.

Malam ini datang lagi orang asing lain -seorang wanita- yang diikuti oleh serombongan sanak saudara yang menangisinya. Kecelakaan, katanya. Mobil dan motor. Dan cukup parah. Mulut mereka komat-kamit berdoa memohon keselamatan bagi satu orang tersayang yang sedang berjuang di dalam sana. Dan aku, hanya bisa ikut mengamini diam-diam.

Sudah seminggu aku berada disini, menunggui ibuku yang jantungnya meminta rehat, kelelahan menjajari semangatnya yang menyala-nyala setiap hari. Ibu masuk di ruang itu, mereka menyebutnya ICU. Ruang yang biasa menjadi persinggahan antara sadar dan tidak. Tempat perjuangan nyawa.
Ibuku beruntung karena dia masih lebih kuat dibanding teman di ranjang-ranjang sekitarnya. Dalam sadarnya, kulihat mulutnya tak putus-putus melepas doa. Termasuk doa bagi pertemanan singkat yang datang dan pergi setiap harinya. Seperti biasa, dia memang Si Wanita Tangguh yang tak pernah menunjukkan rasa takutnya.

Lucu, malah aku yang gentar. Malam-malam seperti inilah justru biasanya aku terjaga, dibangunkan aura magis yang dibuat oleh penghuninya yang berlalu lalang.
Oleh tangisan, dalam berbagai bentuk. Ada tangis kepedihan, tangisan lirih, tangis kehilangan, atau seperti malam ini, tangis ketakutan sekaligus penuh harap. Tangisan yang membuatku sadar, bahwa inilah jarak terdekatku dengan kehilangan di titik penghujung. Dalam jarak pandangan mata.

Seberapapun kau siapkan diri, rasa sayang akan selalu mengikatmu dengan rasa takut akan kehilangan. Membuatmu goyah. Membuatmu ingin menjaga baik-baik apa yang masih tersisa. Menjaga setiap harapan.

Untuk itu, malam ini aku berdoa. Berharap akan terkait dengan ujung-ujung doa yang sudah terlontar sebelumnya. Untuk mereka yang kehilangan. Untuk mereka yang masih berjuang demi orang-orang terkasihnya. Juga Wanita Tangguhku yang tak kenal gentar di dalam sana, untuk keselamatannya.

Kita akan pergi dari sini segera, dengan langkah gembira seperti sediakala. Bersama-sama 🙂

21 Mei 2012,
RS Pelni Petamburan Jakarta

Advertisements

Kamu. Yang Kubenci.

Kepada Kamu, yang kini tak berhenti berlari-lari dalam otakku

Kawanku bilang, cinta itu irasional. Mau tak mau aku terpaksa setuju dengan kata-kata itu. Kata-kata yang menjadi penjelasan mengapa aku tak bisa menjelaskan setiap tindakanku saat ini, jika hal itu berkaitan denganmu

Aku tak bisa jelaskan, bagaimana otakku terus berkata untuk menjauh darimu, tapi kakiku selalu melangkah menuju tempatmu.  Disana. Tempatmu menunggu diriku.

Bagaimana suara-suara kecil di kepala memintaku untuk menjaga sikap. Meminta berhenti menunjukkan isi hatiku. Namun disaat bersamaan, kau malah kutarik untuk melihat utuh. Dalam-dalam meraih rasa yang telah kututup dalam jutaan tahun penantian, untuk menemukan kesempurnaanmu.

Aku benci menyadari bahwa hatiku telah berkhianat. Berkhianat pada otakku, yang terus meminta untuk tak menggubris dirimu. Seluruh pikatmu. Maka hati malah mendominasi imajinasiku. Penuhi kepalaku dengan bayangan penuh akan dirimu. Tak ada tempat untuk berkata tidak pada kehadiranmu.

Bagaimana bisa? Kau begitu mudah meruntuhkan tiap dinding yang sudah kubangun hanya dalam kejapan mata?

Aku tak mengerti bagaimana Semesta telah mewujudkan setiap inci harapanku, dengan begitu sempurna. Dalam wujudmu, dan dalam hadirmu.

Aku tak mengerti apakah ini cinta, atau kebencian dalam-dalam yang tak bisa kukendalikan. Begitu bencinya karena Kau telah melemahkan Aku yang tak pernah kalah.

Kemenanganku telah terkubur, jatuh ke bawah kakimu.

Dan berat hati terpaksa kuakui, Kamu telah mengalahkan Aku.

Aku membencimu. Aku membenci Kamu yang membuatku jatuh hati. Lebih benci lagi karena kau tak membiarkanku jatuh hati sendiri, malah menemaniku dalam kegilaan ini. Menciptakan dunia kita sendiri, yang tak kasat mata. Dunia gaib yang hanya ada dalam angan dan pikiran kita. Cuma ada Aku dan Kau disana

Jadi lengkaplah sudah. Kau orang tergila yang paling Aku benci. Yang membawa lari hatiku tanpa tersisa lagi

—————————————————————————————————

Hey Kamu! Tetaplah dalam kegilaan ini bersamaku. Hingga ujung waktu.

=)

Feeling Me Softly

Feeling. Perasaan.

Bahan baku utama buat mengaduk-ngaduk emosi.

Kata orang, perasaan adalah hal yang bikin hidup kita lebih berwarna. Terasa lebih berharga. Tapi sejujurnya, gue sendiri kadang ga paham, apakah perasaan itu anugerah atau bukan.

Maksud gue, apa sih sebenernya kegunaan perasaan itu? Kita hidup di dunia, setiap hari ngadepin masalah. Gimana cara nyelesain masalah? Ya pake mikir. Bukan pake perasaan. Kalo nekat nyelesain masalah pake perasaan, yang ada kadang masalah jadi tambah bercabang, ga jelas juntrungannya.

Intinya, perasaan cuma bikin hidup lo jadi lebih ribet. Persetan dengan segala kata orang kalau perasaan bikin hidup berwarna-warni. Itu cuma kamuflase dari orang-orang yang ga mau mengakui kalau perasaan cuma bikin hidupnya susah.

Lucu, orang begitu ingin merasakan hidup, sampe kadang takut mati. Padahal kalau dipikir bener-bener, hidup tuh jauh lebih susah daripada mati.

Ketika mati, ga akan ada rasa sakit. Ga ada sedih, ga ada gembira. Ga ada takut atau berani. Mati ya mati aja, beres urusannya. Ada orang mati yang mengenal rasa sakit? Ga ada. Kenapa pada mikir mati itu menderita, padahal sumber derita tuh adanya cuma pas hidup. Ga percaya?

Coba bandingin sama hidup. Senyaman-nyamannya hidup, tetap ga bisa terhindar dari rasa sakit. Dari rasa luka. Apa yang bikin lo ngerasa sakit? Ya perasaan lo itu. Coba kalo ga ada perasaan, ga ada tuh yang namanya keluhan-keluhan atau derita. Lempeng. Beres. Teratur. Ga ada rasa bosan, karena emang ga usah dirasain. Coba lihat robot, apa pernah mereka sedih? Enggak. Bosan? Enggak. Menurut gue, robot itu justru jauh lebih beruntung dari manusia

Mestinya hidup itu buat dijalanin, bukan buat dirasain. Kalo udah ga bisa jalanin, ya kelar. Mati. Beres kan? Tapi elo punya perasaan, jadi hidup ga akan pernah segampang itu. Ga akan bisa sederhana.

Apa sih enaknya punya perasaan? Sumpah gue ga ngerti. Bikin eneg sih iye. Tapi ngarep ga punya perasaan, juga ga mungkin

Jadi gue cuma bisa bilang, perasaan itu kutukan mutlak. Kutukan buat makhluk bernama manusia. Ga ada yang bisa menghindar, termasuk gue, elo, dan mereka. Bisa sih dihindarin, tapi mesti mati dulu.

Berani mati? Biar ga punya rasa? Berani ga? Pasti enggak.

Jadi, selamat menikmati perasaan. Dengan bumbu pada setiap irisan lukanya.

Semoga selamat sampai tujuan. Biar bisa menyongsong ujung usia dengan tenang.

Bingung? Gue ngelantur apaan? Gue juga bingung. Jadi mendingan kita tutup aja tulisan ngaco ini sampe disini. Mudah-mudahan abis ini otak gue waras lagi. Cheers!

One Cold Night

This night. This cold night.

Imagine. Remembering when it comes to me so slowly
And I take it with an open hand, With a full wish of joy

But I never imagined, it could be this hard.
Taking a road, the one you thing will makes your life will last forever

Yet, it kills you, inside. In every breath that you take. With, every breath that you take.

Like a living suicide. The Endless Suicide.

Me, myself, is my very own kryptonite.

It’s funny, how I see the happiness tortured me this way. Ripping me apart.

It’s funny, how this freedom take me straight to the end. How can you run? When you already step on its finish line?

Can I close my eyes now? Shut it down, to the endless run?

Jakarta,
February 24th, 2012

Fearless

“Let me not pray to be sheltered from dangers but to be fearless in facing them.

Let me not beg for the stilling of my pain, but for the heart to conquer it.

Let me not look for allies in life’s battlefield but to my own strength.

Let me not cave in.”

(Rabindranath Tagore)

Another year ahead. Be brave, always.

Let’s play 😀

Single to Married: Takut Menikah? Ga usah Buru-Buru =)

Beberapa hari yang lalu gue membuat satu thread pada akun Plurk gue, dan menyatakan kalau: Menikah itu seram. Keputusan yang aneh lah pokoknya.

Kenapa? Well, lupain dulu deh soal masalah finansial. Syarat mutlak dari sebuah pernikahan itu adalah, orang yang ngejalaninnya harus siap untuk kompromi seumur hidup. Menyatukan isi 2 kepala. Mesti siap deh tuh yang namanya ngalah, kontrol emosi, dan menghadapi situasi tertekan lainnya. Buat orang seperti gue yang ngerasa ngalah itu lebih parah daripada mati, nikah itu jelas bener-bener menakutkan… * Dan masuk ke pola hidup kaya gitu secara sukarela? Euuuh…, kayaknya lebih gampang kalo jadi lajang seumur hidup deh…*

Ga disangka, thread itu mengundang banyak reaksi dari teman-teman di Plurk, sampai 115 respon! Ternyata yang mikir kaya begini bukan cuma gue, tapi juga banyak teman-teman lain. Sepertinya lajang sekarang udah mulai mengerti, kalau menikah itu ga seindah dongeng-dongeng jaman dulu yang pasti berakhir dengan kata-kata happily ever after. Tapi butuh kerja yang sangat keras.

Di thread itu, kita semua diskusi sambil membicarakan ketakutan masing-masing soal pernikahan (walau kebanyakan tetap ketakutan gue yang dibahas, hahaha). Temen gue bilang: Kuliah Pra Nikah (hahaha). Yang komen disana ada macem-macem, mulai dari lajang, mahasiswa, pengantin baru, bapak 1 anak, sampe psikolog. Dan setelah gue baca lagi, sayang kayaknya kalo ga dibagi. Jadilah, isi diskusi thread itu gue rangkum disini

…..

Respon pertama datang dari teman gue, psikolog muda nan cantik berinisial P(ingkan) *hohoho*. Dia punya perhatian khusus soal isu romantic & family relationship,  dan sependapat dengan gue kalo siap menikah itu berarti mesti siap taro ego di lante *mark this word! hahaha*, dan masalah menikah serta memilih pasangan itu memang harus dipertimbangkan secara rasional. Menurut Pingkan, pasangan yang menikah harus siap untuk: kontrol emosi, berbagi, dan negosiasi. Kemudian. pasangan menikah juga bisa bahagia kalau mereka bisa: berkomunikasi, terbuka, mau mendengarkan pasangan, dan berkomitmen

Nah, untuk bisa sampai di tahap kece ini dan siap menikah, seseorang harus bisa menjadi pribadi yang dewasa dulu. Menurut Pingkan, kedewasaan untuk menikah itu indikatornya:

1. Kenal Diri.

Tau “issue2” dan konflik2 pribadi kita (supaya tidak diproyeksikan atau dialihkan ke pasangan)

2. Bisa Mengelola Emosi sendiri.

Gak harus bergantung sama orang lain untuk bahagia. Bisa keluarkan marah dengan adaptif

3. Tau Cita-Cita Pribadi & Visi Buat Berkeluarga

Gak sekedar nikah karena “he’s the one” atau berbunga2 jatuh cinta. Pengen menikah buat apa? Pengen keluarga kayak gimana? Mau jadi ibu atau ayah seperti apa?

Kalau 3 point itu udah bisa pelan-pelan kita diwujudkan, logikanya kita bakal jadi nyaman sama diri sendiri. Ini penting banget dalam sebuuah hubungan, terlebih kalau kita mempersiapkan diri untuk menikah. Kalau udah ketemu pasangan yang visinya sama, dan sama-sama udah dewasa juga, trus bersedia, work the relationship out, nah baru deh mikir nikah

Nah, Pingkan sudah memberikan pandangan Psikolog tentang persiapan menikah ketika masih melajang. Tapi gue tetep aja galau: gimana nanti kira-kira situasi pas udah menikah? Seakan menjawab kegundahan gue, datanglah plurkers lain yang baru saja menikah dan masih hot jadi penganten baru: Kochai!

Bu Psikolog Kochai memberitahu kalau udah menjalani pernikahan, kenyataanya ga seseram yang dibayangkan. Dari pengalamannya, emang sih pas udah menikah mesti  ngalah, ga bs kaya dulu lagi, serta ada orang lain yang harus dipikirin. Berantem itu pasti, tapi lebih cepat rukun dibandingkan waktu pacaran. Yang penting persepsi kita terhadap pernikahan dan peran suami istri itu sejalan sama pasangan. Itu harus diomongin habis-habisan sebelum nikah. 

Cuma ga bisa dipungkiri, kadang ego kita masih sangat dominan, walau udah menikah sekalipun. Makanya butuh kerja keras untuk bisa mengalahkan ego kita itu. (Temen psikolog yang lain, Dane, menimpali kalau justru itulah tugas kita untuk menemukan seseorang yang membuat rela buat belajar melepas dominasi/ego). Nah, Kochai juga ga bisa memungkiri kalau untuk itu pun kita harus tetap bisa menemukan The One, alias pasangan yang klop buat kita. Emang kedengerannya ga rasional,tapi di antara keputusan-keputusan rasional untuk menikahi seseorang, pasti terselip keputusan irrasional

Pertimbangan irasional itu yang kayak gimana? Nah, disinilah Perasaan kita berperan. Kalo Kochai ngegambarinnya, dia pengen menghabiskan hidupnya bersama pria yang kini menajdi suaminya. Ibaratnya pas masih pacaran pun, berantem kaya apapun ga akan mengubah perasaan Kochai. Tetep aja pengen nikah suaminya, hahaha. 

Untuk perempuan dari segi rasional, pertimbangan calon suami bisa bisa berupa:  agama, kemapanan, hardworker atau bukan, bermasalah ga kalau istri pengen berkarir/mengurus rumah aja, dan lain-lain. Persepsi tentang peran suami istri juga harus sama: istri hormat sama suami, dan sebaliknya. Logikanya sih, Tuhan kan menciptakan kita berpasangan. Masa kalo udh ketemu jodoh, kita gak bisa ngebedain dia sm laki-laki/perempuan lainnya?

Singkatnya, secara rasional, kalau ingin menikah, harus bisa omongin soal peran suami-isteri yang diharapkan sampai tuntas, plus ada perasaan “I want to spend my life time loving u”. Kochai sendiri berpegangan sama petuah ibunya: “Kamu kalo pilih suami, pilihlah orang yang bisa kamu banggakan”. Untuk Kochai, hal ini bisa jadi indikator yang pas untuk menemukan dua hal itu. Kalo kita bangga sama pasangan, kita ga akan meremehkan dia. Dan akan jauh lebih mudah untuk mengalah sama orang yang ga kita remehkan (Apalagi buat cewek-cewek independen, penting bener ini!).

Daaaan, pandangan Kochai ini diamini oleh Mbah KOP, sesepuh plurker yang sudah sukses memiliki anak perempuan manis bernama Raina, juga seorang psikolog terpercaya 😀  Pandangan Kop,  kita di dunia ini kan gak sendiri, ada banyak orang maupun hal lain yang bisa mengubah perilaku kita. Takut susah ngalah?  Mungkin memang susah, tapi untuk orang yang berarti untuk kita, masa kita gak mo bela-belain? Takut susah nyatuin 2 isi kepala? Bisa jadipasangan yang isi kepalanya berbeda itu gak bakal kita pilih untuk dinikahi. Kop optimis, ketika kita sudah memilih pasangan, berarti itu memang yang sesuai dengan mau kita dan akan bermanfaat untuk kita di masa depan. Pada titik itu, mudah-mudahan segala kehawatirana akan pernikahan sudah bisa diminimalkan. Intinya, ketika kita bener-bener udah ketemu orang yang tepat, ngalah atau berbeda pendapat itu udah ga jd masalah lg.

Singkatnya, menikah itu emang berisiko. Apalagi ada faktor X yang berbeda-beda di tiap orang, dan itu juga termasuk komponen yang penting. Tapi justru disitulah kuncinya: Menikah itu memang sebagian gambling lho. Kita ga tau ke depannya pasangan kita kaya apa, tapi kita mau menerima risikonya. Penerimaan resiko untuk menikah inilah yang menjadi kunci kesiapan bagi kita untuk memutuskan menikah kelak.

Kalau kita merasa belum siap menikah, mungkin memang resikonya-lah yang belum bisa kita terima. Ga ada yang salah dengan itu, karena tiap orang punya rentang waktu kesiapan yang berbeda. Bisa jadi kita belum bertemu dengan orang yang tepat, punya ketakutan tersendiri, atau  memang  punya sesuatu yang menghambat proses kedewasaan dan kesiapan nikah kita. Yang penting adalah, kita tetap introspeksi dan selalu mengukur kemampuan kita sendiri.

Kalo masih takut, ga usah buru-buru menikah… Tapi kalau udah ketemu: JANGAN DITUNDA YAAA!!! *teteup*

………

Well, dari diskusi panjang ini gue dapet beberapa hal yang membuat gue jauh lebih tenang untuk mempersiapkan diri dan memikirkan maslaah pernikahan (lagian belum ada calonnya juga).  Sama seperti gue yang merasa dapat manfaat, semoga kalian yang membaca ini juga bisa ngedapetin manfaat yang sama. So, Enjoy your reading!

(Note: posting ini diambil dari diskusi thread di akun Plurk pribadi gue, dengan penyesuaian disana-sini. Thanks to all plurkers, especially Pingkan, Kochai, Kop n Dane. Enak yah kalo temen diskusi anak psikologi semua, hihihi)

So they say he/she’s the one when the heart & mind comes to an agreement. You can’t feel he/she’s the one if your mind doesn’t agree & vice versa

(From Pingkan, dari tweet nya Bijuk)

Darah, Nyawa dan Bulan Puasa

*Copas dari notes gue sendiri di Facebook *

*Tulisan ini untuk kalian, orang-orang terkasih yang sudah lebih dulu pergi menghadap Tuhan*

 

Guys, mohon pertolongannya. Saat ini, teman saya yang bernama *Anni sedang membutuhkan darah golongan O untuk ayahnya yang sedang dirawat di RS. A di kamar no 412.  Bagi yang bersedia memberikan pertolongan, silakan hubungi Anni ke nomor *08567891011 atau hubungi…

*Bukan Nama dan No.Telp Sebenarnya

 

Mata gue pun terpejam. Pusing saat membaca pesan tersebut.

Pesan-pesan seperti ini sering gue terima akhir-akhir ini, terutama sejak pertengahan bulan puasa. Entah lewat broadcast message BB, email, FB, twitter, you name it. Biasanya pesan seperti ini kurang gue pedulikan, terutama jika golongan darah yang diminta tidak sama dengan golongan darah gue. Atau kalau pesan itu ga jelas darimana asalnya. Bisa saja itu cuma tipuan. Jadi ya, jarang gue pedulikan.

 

Tapi bulan puasa ini berbeda.

 

Nyaris setiap minggu gue menerima pesan seperti ini. Bahkan dalam seminggu terakhir, gue menerima tiga pesan serupa, untuk tiga orang yang berbeda. Satu diantaranya malah gue datangi langsung, setelah gue konfirmasi identitasnya. Orang yang sedang membutuhkan darah adalah ayah teman gue yang sedang kritis, dan gue langsung meluncur kesana meski waktu itu sudah tengah malam.

Sayangnya, waktu itu kondisi gue tidak memungkinkan untuk mendonorkan darah. Jadilah gue hanya termenung disana, bingung memikirkan bagaimana nasib ayah dari teman gue tersebut. Untungnya, beberapa jam kemudian teman gue berhasil mendapatkan darah, walau dengan stok yang sangat sedikit. Akhirnya gue diminta pulang.

 

Dua hari kemudian, gue terima kabar kalau ayahnya meninggal.

 

Pengen nangis rasanya waktu dengar kabar tersebut. Namun itu bukan kabar terakhir. Beberapa hari kemudian, gue menerima kabar lain kalau ada lagi yang meninggal. Orang lain yang keluarganya juga sempat mengirimkan pesan meminta pertolongan sumbangan darah. Sungguh, napas gue terasa makin sesak.

 

————————————————————————————————–

 

Semua pesan dan kabar duka tersebut, sebenarnya adalah peringatan miris buat kita semua agar bisa lebih peduli. Darah hanya bisa didapatkan dari sesama manusia, ga seperti obat yang bisa diproduksi secara massal. Kalau kekurangan obat, seseorang masih mungkin bertahan hidup untuk beberapa hari. Tapi kalau kekurangan darah? Tunggu beberapa jam, orang itu pasti mati.

Kebutuhan darah di Indonesia tergolong cukup tinggi. Kota besar seperti Jakarta membutuhkan stok 1000 kantong darah setiap harinya, yang kadang harus dibagi dengan kota-kota disekitarnya.  Untuk kota-kota kecil di daerah, ketersediaan stok kadang terhalang dengan minimnya jumlah pendonor serta kurangnya fasilitas tempat penyimpanan darah, sehingga darah tidak bisa disimpan lama.

Kondisi ini akan makin bertambah parah di bulan puasa. Di bulan yang katanya penuh kemuliaan ibadah ini, stok darah malah berkurang drastis sampai hanya tersisa 30% dari hari biasa. Padahal, kebutuhan darah justru makin meningkat, terutama menjelang lebaran yang rawan dengan terjadinya kecelakaan di jalur mudik. Belum dihitung dengan jumlah pasien berpenyakit kritis yang membutuhkan darah untuk menjalani operasi. Dan masih banyak lagi.

Bayangkan kawan, hanya 30% dari hari normal. Berarti Jakarta saja hanya memiliki 300 kantong darah perhari, atau maksimal 75 kantong darah kalau dipukul rata untuk setiap golongan A, O, B, atau AB. Itu baru Jakarta, gimana dengan daerah lain? Ga usah jauh-jauh mikirin daerah terpencil, kota yang dekat macam Bekasi atau Tangerang aja bisa kehabisan stok darah. Jadi jangan heran kalau sering mendengar kabar orang meninggal saat bulan puasa. Boleh jadi, kekurangan darah ini juga menjadi salah satu penyebabnya

 

Kenapa stok darah bisa kurang di bulan puasa? Karena orang-orang mengira tidak boleh mendonorkan darahnya, karena akan MEMBATALKAN PUASA. Ini bener-bener alasan yang salah kaprah.

Siapa bilang bulan puasa ga boleh donor darah? Memang, kondisi seseorang akan melemah selama beberapa saat setelah darah didonorkan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sebelum dan sesudah donor seseorang harus mendapat asupan nutrisi dan air yang cukup.

Jadi gimana caranya? Ya gampang, lakukan saja donor darah setelah BUKA PUASA. Ga susah kan? PMI bahkan punya program untuk berkeliling ke seluruh masjid agar warga mau mendonorkan darah setelah shalat tarawih. Dan terbukti, mereka ga kenapa-kenapa. Kalau kepepet pun, orang yang harus mendonorkan darah saat belum waktunya berbuka kondisinya akan dianggap seperti orang yang sedang sakit dan dibolehkan untuk berbuka, dengan syarat puasanya diganti di hari lain. Jadi, tetap bisa donor darah kan?

 

Info ini, udah dikampanyekan dimana-mana. Kalau di-googling, akan ada ribuan tulisan yang menjelaskan soal hal ini. Tapi kenapa stok darah masih terus berkurang, gue juga ga ngerti. Indonesia bahkan kekurangan sampai 4 Juta kantong darah dalam kurun waktu setahun terakhir. Bayangin kalau 1 orang sakit butuh 4 kantong darah, berarti tiap tahun ada 1 juta orang yang ga bisa kita penuhi kebutuhan darahnya. 1 juta orang, yang meregang nyawa karena ga bisa ngedapetin darah.

Kita ga bisa selamanya ngandelin PMI dan bank darahnya. Guys, PMI itu kadang udah kaya organisasi gila yang jemput bola kesana kemari. Datengin institusi atau perkantoran supaya orang ga perlu bersusah payah kalau mau menyumbangkan darahnya. Berburu donor darah setelah tarawih di bulan puasa, juga kampanye dimana-mana.

 

PMI itu usahanya udah maksimal. Justru kita sebagai donor-lah yang usahanya masih kurang. Padahal sebenarnya ga susah-susah amat.

 

Kita cukup datang ke rumah sakit atau puskesmas terdekat. Atau kalau bingung mesti dateng kemana, datengin aja PMI. Dan setelah donor, jangan lupa daftarkan identitas lo juga. Seseorang bisa mendonorkan darah dengan jarak waktu minimal 3 bulan. Jadi lewat data identitas, lo bisa dihubungi tiap 3 bulan sekali untuk jadi donor secara rutin. Kalau rutin donor darah, lo ga cuma bisa nolongin orang, tapi juga nolong diri lo sendiri. Lo akan dapetin regenerasi darah baru setiap 3 bulan, dan jadi lebih sehat.

 

Mungkin ini tulisan yang terlambat, karena bulan puasa sudah lewat. Tapi semoga saja, tulisan ini bisa menjadi pengingat.

 

Donate Your Blood, to Help Others and Yourself

Show That You Care, Fellas.

 

Post Navigation