A Hundred Years

my story, before I reach the age of one hundred years.

Amarah

Manusia, dengan segala kompleksitasnya, memiliki emosi yang begitu beragam.

Ada

Senang

Sedih

Duka

Takut

Cemas

Amarah

Semuanya!

Semua emosi tersebut datang bergantian. Kadang-kadang datang sendiri, kadang-kadang bersamaan seperti mau mengeroyok tak berkesudahan.

Ada pula yang mendominasi, seperti yang sedang saya alami saat ini. Sebuah emosi yang bisa membuat saya memikirkan berbagai cara untuk menyakiti orang lain, hanya sekedar untuk membuat orang tersebut paham kesakitan yang saya alami. Walaupun sebenarnya sudah tahu, yang mengecewakan saya adalah harapan saya sendiri.

————————————————————————

Terkadang, saya berharap punya tombol on-off emosi yang bisa saya nyalakan sesuka hati. Tapi ternyata tidak. Justru emosilah yang terkadang mengendalikan diri saya ini.

Apakah lantas salah jika saya dikuasai emosi? Begitu berkuasanya sampai nyaris tak menyisakan ruang untuk logika sama sekali?

Mungkin salah. Mungkin juga tidak. Karena emosi diciptakan sebagai bagian dari manusia, jadi katakanlah ini adalah anugerah untuk diri. Supaya saya bisa merasakan semua dinamika jiwa, menikmati kelabilan yang semoga saja bisa mengajarkan saya untuk dewasa suatu saat nanti.

———————————————————————

Hanya saja, yang saya tak tahu adalah bagaimana cara mengekspresikan emosi ini. Dengan benar. Dengan cara yang tidak menyakiti orang lain. Dengan cara yang bisa membuat saya melepaskan semua resah yang mengkungkung saya akhir-akhir ini. Dengan cara yang tidak menyiksa batin, tapi juga tidak merampas hak orang lain untuk mendapatkan perlakuan yang baik. Dengan cara yang tidak melahirkan amarah-amarah yang lain, atau melahirkan kecewa-kecewa yang lain. Dengan cara yang tidak melahirkan kesakitan yang lain.

Sungguh, jika emosi ini adalah anugerah,jika marah ini pun juga anugerah, maka saya hanya ingin menikmati kemarahan ini dengan tenang. Menyimpannya dalam kadar yang cukup untuk saya sendiri. Membiarkannya membawa saya untuk merenung dan belajar lagi. Bukan untuk menyakiti, karena saya tidak ingin itu terjadi. (Huuuuh, kenapa sekarang saya jadi pemarah begini?)

Susah amat mau menikmati emosi,,, mudah-mudahan gw tidak lantas marah dengan cara yang salah dan ga manusiawi….

Apa kalo marah muka gw sebengis ini?

Arrrgggghhhhh,,,, kemana perginya kepala dingin disaat gw sedang butuh-butuhnya logika seperti sekarang ini? Sial!

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: